Romelu Lukaku Chelsea Thomas Tuchel GFXGetty Images

Dari Kebuntuan Romelu Lukaku Hingga Absennya N'Golo Kante: Masalah Chelsea Yang Harus Diselesaikan Thomas Tuchel

Chelsea memiliki semua senjata untuk memenangkan gelar Liga Primer - serta mendapatkan kembali mahkota Liga Champions musim ini - tetapi beberapa persoalan yang mengkhawatirkan telah muncul dalam satu bulan terakhir.

Untuk semua hasil positif dan kekuatan tim yang tidak perlu diragukan, The Blues harus bertahan dengan gigih untuk menghindari kekalahan sejak jeda internasional September.

Manchester City akhirnya menunjukkan bahwa tim asuhan Thomas Tuchel dapat dikalahkan, memperlihatkan kekurangan mereka saat menenag 1-0 di Stamford Bridge.

Selanjutnya, Juventus semakin memperjelas bahwa The Blues juga mempunyai kelemahan, ketika mereka berhasil menang tipis 1-0 pada matchday kedua fase grup Liga Champions.

Itu adalah pengingat bahwa, untuk semua kualitas yang dimiliki Tuchel, dia sekarang harus menyelesaikan berbagai masalah untuk menjaga Chelsea tetap berada di jalurnya...

Menggunakan Lukaku dengan tepat

Romelu Lukaku terkadang terlihat buntu, meski mencetak empat gol sejak tiba di London dengan transfer senilai £97,5 juta ($136 juta).

Selain debutnya yang gemilang saat bertandang ke Arsenal, gol-gol yang dia cetak hanya berasal dari sedikit peluang yang diberikan kepada sang striker.

Sejak jeda internasional, Lukaku rata-rata melakukan kurang dari dua tembakan per pertandingan, dan tanpa satu pun dia lakukan dalam dua penampilan terakhirnya.

Meskipun pemain internasional Belgia itu kemungkinan masih menjalani masa adaptasi bersama sang juara Eropa, sebagian besar masalahnya adalah karena kurangnya suplai bola dari pemain lain.

Dengan Mason Mount, Kai Havertz dan Hakim Ziyech masih belum berada di performa terbaik mereka, Tuchel terus berjuang untuk bisa menemukan pemain no. 10 yang konsisten untuk bermain bersama Lukaku.

Pengaruh Lukaku juga dirasakan ketika tim sedang bertahan, dengan Chelsea beralih dari sistem menekan yang agresif ke sistem di mana mereka ingin bermain lebih banyak melalui serangan balik.

Romelu Lukaku Chelsea GFXGetty Images

"Itu hal yang normal, karena Anda selalu beradaptasi dengan pemain yang Anda miliki dengan kekuatan dan kelemahan mereka", kata Tuchel kepada Goal jelang pertandingan melawan Juve, yang berakhir 1-0 untuk kemenangan Bianconeri.

"Tentu saja, kami juga menganalisis dan saya tahu mengapa Anda bertanya karena kami terlalu pasif saat melawan Manchester City. Pilihan untuk bertahan dan rencana kami bertahan, dalam tanggungjawab saya, mungkin itu juga penyebab kenapa kami pasif."

"Sebenarnya bukan itu rencananya, tapi itu jelas mengarah ke sana. Ketika kami menguasai bola, kami terlalu dalam, kami bertahan di dalam kotak dalam waktu yang sangat lama dengan baik, jadi kami tidak membiarkan siapa pun masuk dan mendekati kotak. Tapi tidak enak rasanya ketika Anda menjadi begitu pasif dan bermain terlalu ke dalam."

"Pilihan strategi ini mungkin mengarahkan kami untuk begitu, jadi kita semua terlibat. Kami telah menunjukkan bahwa kami dapat memainkan pertandingan dengan tekanan tinggi dan memiliki penguasaan bola yang baik dengan Romelu."

"Ini adalah permainan yang sangat kompleks di mana kami harus berada di segala sisi, tetapi cara terbaik adalah menguasai bola dan kemudian melakukan counter-press tanpa bola. City melakukan ini dengan sangat baik saat melawan kami, mereka jelas memiliki permainan yang sangat, sangat kuat."

"Kami tampil buruk, mereka membuat kami tampil buruk, tetapi ada cukup ruang untuk bangkit kembali dan ini diperlukan agar bisa menunjukkan bahwa kami beradaptasi dengan pemain kami, dan itu termasuk Romelu."

Musuh memprediksi strategi

Lawan datang ke sebuah pertandingan tanpa tahu persis apa yang akan dilakukan Chelsea.

Setiap tim menghadapi pertandingan secara berbeda, dengan Aston Villa mengejutkan Tuchel dengan mencerminkan formasi The Blues di kedua pertemuan terakhir mereka.  Chelsea bisa dibilang beruntung bisa lolos dari kekalahan saat melawan pasukan Dean Smith di dua pertemuan terakhir.

Sementara itu, Zenit St Petersburg dengan cerdik mampu bermain lebih rendah di Stamford Bridge saat kedua tim berjumpa pada pertandingan pertama mereka di Liga Champions. Tapi upaya mereka untuk menahan The Blues akhirnya mampu dijebol oleh gol Lukaku.

Tekanan dari City karena menemukan kelemahan Chelsea, telah mencekik Tuchel dan memaksa mereka untuk hanya berputar-putar di wilayah mereka sendiri.

Bagaimanapun, pertandingan melawan Juve menambah tekanan untuk manajer Chelsea itu, yang semakin ke sini strategi timnya mampu dipecahkan dan dijebol oleh tim manapun. Padahal saat melawan Si Nyonya Tua, bos Massimiliano Allegri sedang tidak beruntung, dengan tidak tampilnya penyerang Paulo Dybala dan Alvaro Morata.

Allegri terpaska - meski awalnya dengan formasi 4-3-3 - memainkan Federico Chiesa dan Federico Bernardeschi sebagai duo striker untuk menggantikan Dybala dan Morata. Tapi hasilnya, strategi 'coba-coba' sang manajer malah membuat The Blues gigit jari karena tak mampu menembus pertahanan tim tuan rumah.

Dan kini, PR Tuchel menjadi semakin banyak, membuatnya harus kembali memutar otak untuk bisa membuat Chelsea lebih terlihat garang di lapangan, menyusul komentar-komentar pedas karena kekalahan di dua pertandingan terakhir mereka.

Jorginho Chelsea GFXGetty Images

“Kami selalu menguasai bola tetapi kami tidak memulai dengan cukup tajam. Dalam 15 menit pertama atau lebih, kami memiliki banyak peluang untuk melawan dan mengatur ritme dan di menusuk pada bagian yang berbahaya," kata Tuchel setelah pertandingan kontra Juve.

“Kami melakukan dua kesalahan saat kami menguasai bola, itu sangat penting dan kami tidak boleh melakukan itu di tahap ini. Mereka [Juventus] begitu dalam, dan sangat pasif, dan kami berjuang untuk menemukan ritme kami dan menerapkan intensitas kami."

“Kami lambat dalam pengambilan keputusan, dan kami tidak memiliki ketajaman itu. Kami tidak terlihat segar hari ini, dan hal itu mengejutkan saya karena kemarin dalam latihan kami terlihat tajam.”

Tuchel mengatakan usai pertandingan kontra City: "Kami selalu melihat kinerja tim, kami tidak pernah melihat hasil sebagai akibat dari penampilan kami. Anda harus berada di level terbaik di sepanjang pertandingan dan kami jelas tidak melakukan itu."

"Kami bersama-sama dalam hal ini sehingga kami membutuhkan yang terbaik dari pelatih dan para pemain. Kami akan berbenah dan memperbaiki semua yang ada."

Pada akhirnya kami juga harus menerima bahwa dalam olahraga di level tertinggi, mereka lebih baik dari kami. Mereka [Man City] dalam kondisi yang lebih baik, lebih tajam. Pengambilan keputusan kami, umpan kami, dribel kami tidak cukup bagus untuk bisa menang."

Gelandang Chelsea Jorginho juga melontarkan komentarnya, dengan mengatakan: "Mungkin kami tidak memiliki pilihan terbaik untuk menghindari tekanan. Mereka sangat menekan kami."

"Kami tidak dapat menemukan ruang di antara sisi untuk keluar dari tekanan dan kami banyak berlari di belakang bola. Kami tidak bisa berpikir terlalu banyak untuk lepas. Mungkin kami tidak mendapatkan pilihan terbaik."

Cederanya James pengaruhi posisi bek sayap kanan

Reece James harus menepi selama beberapa hari setelah mengalami cedera pergelangan kaki saat melawan The Citizen.

Dengan Callum Hudson-Odoi tidak terlalu senang tampil di bek sayap, itu membuat The Blues hanya memiliki Cesar Azpilicueta yang tersedia untuk mengisi posisi tersebut.

Ketika ditanya tentang kondisi James, Tuchel memberikan semua informasi yang dia tahu tentang pemulihan pemain internasional Inggris tersebut.

"Ini masih sangat menyakitkan dan pada akhirnya akan tergantung bagaimana dia mengatasi rasa sakitnya, seberapa banyak yang bisa dia terima, tetapi saat ini kami melihat minimal satu pekan lagi," katanya.

Lubang yang ditinggalkan Kante

N'Golo Kante telah menjadi pemain bintang di Chelsea sejak bergabung dari Leicester City pada 2016 silam.

N'Golo Kante Chelsea GFXGetty Images

Setelah nyaris tidak melewatkan semua pertandingan dalam beberapa musim pertamanya, gelandang kelas dunia itu kni harus sering keluar masuk tim sejak bermain di final Liga Europa 2019.

Chelsea memiliki kedalaman yang bagus di lini tengah dengan Jorginho, Mateo Kovacic, Ruben Loftus-Cheek dan Saul Niguez untuk bisa dipilih oleh Tuchel, tetapi Kante jelas tidak bisa bersaing ketika dia tidak tersedia.

Diagnosis Covid-19 baru-baru ini sebenarnya bukan masalah pertama bagi sang gelandang, tetapi merupakan persoalan paling anyar, yang membuat PR Tuchel semakin menumpuk.

Membuat skuad tetap bahagia

Kedalaman di lini tengah itu cocok untuk bsia bermain di posisi lain, dengan Tuchel telah mendaftarkan 27 pemain untuk Liga Primer dan Liga Champions.

Pelatih asal Jerman tersebut telah terbukti menjadi ahli dalam mengelola pemain yang terpinggirkan, dengan suasana yang baik di Cobham menjadi faktor yang bias membuat pemain begitu bekerja keras untuk mendapatkan tempat mereka, dan itu telah menjadi dasar bagi kesuksesan klub ini.

Namun, tetap menjadi tantangan untuk Tuchel agar bisa memastikan mereka yang berjuang tapi hanya mendapatkan sedikit menit tidak mengganggu keharmonisan skuad.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0