Michel Platini, mantan Presiden Uni Sepak Bola Eropa (UEFA), secara pribadi mengucapkan selamat kepada Aleksander Ceferin, Presiden UEFA saat ini, menyusul ancaman badan Eropa tersebut untuk memboikot Piala Dunia, di tengah perselisihan yang kian memanas dengan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dan Presidennya, Gianni Infantino, terkait proyek-proyek komersial baru yang mereka jalankan.
Menurut informasi eksklusif surat kabar"L'Equipe" asal Prancis, Michel Platini, yang memimpin UEFA antara tahun 2007 dan 2015, menghubungi Aleksander Ceferin, Presiden UEFA asal Slovenia, untuk secara pribadi mengucapkan selamat atas sikap yang diambil badan Eropa itu beserta 55 anggotanya secara bulat, yakni ancaman memboikot Piala Dunia, sebagai bentuk protes terhadap proyek-proyek komersial kontroversial yang dipimpin Infantino.
Baca Juga
"Mengapa kalian bertanya soal agamanya?": Kontroversi baru di Prancis seputar Zidane
Hoeness soal rumor Real Madrid: Sekalipun Kaisar China datang, kami tak akan bernegosiasi dengannya
Meski menerima permintaan wawancara media yang tak terhitung jumlahnya, Michel Platini tetap bungkam di depan publik mengenai perasaannya, namun ia tentu mengikuti dari dekat krisis yang mengguncang FIFA akibat proyek pembentukan perusahaan komersial bernama "FIFA Forward Enterprise", yang terbuka bagi para investor dari sektor swasta, dalam sebuah struktur yang mungkin memungkinkan "penjualan" saham yang terkait dengan Piala Dunia kepada para investor tersebut.
Sebagai pengingat, Platini juga tengah menjalani perang terbuka dengan Presiden Federasi Sepak Bola Internasional, yang dulu merupakan tangan kanannya selama masa kepemimpinannya di UEFA. Mantan bintang timnas Prancis itu menuding Infantino bertanggung jawab menghalangi kenaikannya ke kursi kepresidenan FIFA pada tahun 2015, setelah meletusnya skandal "FIFA Gate".
Dalam pernyataannya yang dirilis kemarin, Kamis, UEFA menyatakan bahwa tidak ada satu pun tim Eropa yang akan ambil bagian dalam kompetisi FIFA mana pun selama usulan ini masih berlaku, tanpa adanya jaminan bahwa FIFA "tidak akan pernah membuka tata kelola atau kompetisinya kepada kepentingan-kepentingan swasta".
