Dante Rossi menangis terharu saat wawancara selepas pertandingan San Marino dengan Gibraltar yang berakhir imbang tanpa gol dan mendedikasikan hasil itu untuk seluruh masyarakat negaranya.
San Marino telah menjadi lumbung gol bagi negara-negara Eropa selama bertahun-tahun, namun hasil imbang 0-0 ketika menjamu Gibraltar, Sabtu (14/11), merupakan skor imbang kedua secara beruntun yang mereka bukukan di UEFA Nations League, usai meraih hasil identik saat bertemu Liechtenstein pada Oktober lalu.
Hasil imbang yang didapat negara berperingkat FIFA ke-201 tersebut terasa lebih spesial karena mereka bermain dengan sepuluh orang sejak Davide Simoncini menerima kartu merah di awal babak kedua..
Rossi, yang bermain sebagai bek, sangat senang dengan statistik nirbobol timnya dalam dua pertandingan beruntun, sampai tak kuasa menahan air matanya.
"Bagi saya ini benar-benar mimpi," kata pemain 33 tahun tersebut saat diwawancarai oleh RTV San Marino. "Saya tak bisa berkata-kata lagi."
"Keluarga saya bahagia, istri saya juga. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan setim dan semua staf. Kami berharap bisa terus berada di sini untuk waktu yang lama."
"Saya mempersembahkan hasil imbang ini untuk semua yang ada di negara ini. Kami adalah negara kecil, tapi kami memiliki hati yang besar."
"Kepada keluarga, istri dan semua teman-teman saya, saya minta maaf."
Skor imbang versus Gibraltar itu menutup kampanye San Marino di Grup D2 Nations League dan mereka akan finis di posisi terbawah dengan raihan dua poin.
Bagi tim yang dihuni oleh banyak pemain amatir, yang pekerjaan sehari-hari mereka di antaranya adalah akuntan hingga salesman, dua hasil imbang beruntun untuk pertama kali dalam sejarah sudah terasa luar biasa.
Target berikutnya bagi San Marino adalah meraih kemenangan dalam laga kompetitif. Satu-satunya kemenangan yang pernah mereka bukukan di pentas internasional adalah ketika mengalahkan Liechtenstein 1-0 dalam uji coba pada 2004.
