Toyota - Daniel BennettGoal Indonesia

Daniel Bennett, Singa Tua Yang Masih Ingin Mengaum

Tidak banyak pesepakbola di dunia ini yang masih aktif bermain ketika usia mereka sudah melebihi 40 tahun, dan tetap memperlihatkan performa bagus. Salah satu pemain tersebut adalah mantan palang pintu timnas Singapura yang kini memperkuat Tampines Rovers, Daniel Bennett.

Di Liga Utama Singapura (SPL), Bennett masih dipercaya tampil sebagai starter. Bennett bermain di tiga pertandingan awal musim ini sebelum SPL dihentikan sementara waktu akibat pandemi virus Corona. Dari tiga laga itu, ia hanya sekali masuk dari bangku cadangan, sedangkan sisanya menjadi starter.

Sedangkan di kompetisi Asia, pemain berusia 42 tahun tersebut bermain satu kali di babak pendahuluan Liga Champions Asia (LCA). Bennett bermain selama 100 menit saat Rovers dikalahkan Bali United 5-3 melalui perpanjangan waktu. Sementara di laga Grup H Piala AFC, Bennett tampil penuh melawan Shan United, dan memetik kemenangan 2-1. Tampines menjadi pemuncak klasemen sementara di SPL dan Grup H Piala AFC.

“Saya hanya ingin menikmati permainan. Saya sekarang terikat kontrak selama satu tahun. Saya akui akan terkesan tidak adil kalau saya menanyakan berapa lama saya dikontrak di saat usia sekarang,” tutur Bennett dalam wawancaranya dengan Outside Football.

Daniel Bennet - Singapura

“Mereka (manajemen klub) bertanya ke saya: 'Apakah Anda masih ingin bermain? Saya jawab iya. Mengapa harus berhenti sekarang kalau saya masih sanggup bermain. Saya juga membantu tim kepelatihan (akademi). Saat ini belum ada alasan buat saya untuk berhenti.”

“Saya sekarang masih kuat, tetap bugar. Saya juga masih masuk ke dalam starting eleven. Kontrak saya akan habis pada akhir tahun, setelah itu kami akan bicara lagi. Jika mereka bilang ini tahun terakhir saya, maka saya akan mencari sesuatu yang lain.”

Di lain sisi, Bennett mengkritik kebijakan menurunkan tiga pemain di bawah usia 23 tahun sebagai starter di SPL. Menurutnya, bila diterapkan tiap tahun, jumlah pemain muda akan makin menumpuk, sehingga mereka yang berusia di atas 24 tahun terancam tanpa pekerjaan.

Pria kelahiran Great Yarmouth, Inggris, ini menilai regulasi itu turut memberikan pengaruh terhadap penurunan kualitas sepakbola Singapura. Sebab, pemain muda dipaksa untuk tampil di saat mereka belum siap.

Tampines Rovers SPLAIA Singapore Premier League

“Ketika pemain ini sudah berusia 24 tahun, dan regulasi itu masih diterapkan, bisa mengakibatkan banyak pemain tidak mempunyai klub. Apakah kebijakan itu sudah tepat? Saya tidak tahu. Sebaiknya pemain muda itu dimainkan secara natural dibandingkan dipaksa harus bermain,” jelas Bennett.

“Itu menjadi permasalahan besar persepakbolaan Singapura saat ini. Kualitas sepakbola kami mengalami penurunan. Itu membuat situasi menjadi sulit, karena kami mengikuti kompetisi Asia, ada Piala AFC, Liga Champions. Itu membuat sulit bersaing.”

Sementara itu, mengenai kemungkinan SPL digulirkan kembali setelah masa krisis berakhir, Bennett berharap tidak ada pemadatan jadwal. Apalagi Tampines berlaga di tiga event. Selain SPL, The Stags juga bertanding di Piala Singapura dan Piala AFC. SPL menerapkan sistem tiga putaran demi mendapatkan 24 pertandingan setiap musimnya, mengingat hanya sembilan tim yang berlaga.

“Saya kira bermain dua laga [di SPL] dalam satu pekan dalam jangka waktu yang panjang tidak ideal. Sebaiknya liga hanya digelar dua putaran, dan masih memainkan Piala Singapura. Tapi pada akhirnya, ini tidak bergantung kepada kami. Saya kira banyak orang-orang di FAS (federasi sepakbola Singapura) lebih tahu mana yang terbaik,” ucap Bennett dinukil dari laman The New Paper.

SIMAK JUGA: BERITA PIALA AFC!

Iklan
0