Cover Konate Makan - TrengganuGoal Indonesia

"Formula Sepakbola Yang Paling Dinanti" - Dampak Transfer Makan Konate Ke Terengganu FC

Gelombang musim tengkujuh, yaitu musim hujan lebat, di Pantai Timur Malaysia merupakan sebuah hal yang lazim dialami masyarakat Terengganu saban tahun. Namun sebaliknya, sebuah video pengumuman keren yang dibuat di negeri itu Rabu (27/1) kemarin telah mencetuskan gelombang decak kagum, khususnya bagi para penyokong fanatik Terengganu FC. Ibarat episode pulang kampung, Makan Konate, salah satu pemain bintang liga Indonesia diperkenalkan secara resmi sebagai pemain asing terakhir tim tersebut, sekaligus melengkapi barisan pemain yang akan menghadapi musim 2021. Konate akan kembali mewarnai arena bolasepak Malaysia seperti yang pernah dilakukannya bersama T-Team (kini Terengganu II) musim 2016.

Hampir bersamaan dengan pengumuman tersebut, undian Piala AFC 2021 dilakukan Rabu siang dan Terengganu kini telah mengetahui jadwal pertandingan yang akan dihadapi Juni mendatang. Bertemu dengan Kaya FC-Ilolo, Shan United/Ayeyawady United, dan Geylang International, tidak ada jaminan bahwa Terengganu akan melalui jalur yang mudah ketika pertandingan fase grup dilangsungkan.

Dua pengumuman penting sekaligus ini mengubah prospek bolasepak Terengganu dengan sekejap mata, khususnya dengan kembalinya Terengganu ke kompetisi antarklub Asia terbesar kedua sejak 2012. Ditambah dengan perekrutan Konate dan satu lagi bekas pemain Persebaya Surabaya, David Da Silva, tidak hanya fans Terengganu yang membayangkan dampak transfer tersebut kelak bagi klub kesayangan mereka, tetapi juga fans sepakbola Indonesia di media sosial yang terus memberikan animo tinggi setiap kali ada perkembangan berita transfer di media sosial.

Dalam kesempatan mewawancarai secara eksklusif saat Konate tengah menjalani karantina mandiri di Kuala Lumpur, ternyata sang pemain sangat tak sabar kembali ke Terengganu; tempat yang masih tersimpan di dalam hatinya sejak berkiprah di tempat yang sama sebelum ini. Konate menyangkal anggapan bahwa transfer ke Terengganu kali ini semata-mata karena kompetisi sepakbola Indonesia lumpuh sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Lebih dari itu, keputusan bergabung ke Terengganu diambil berdasarkan tawaran yang diberikan oleh salah satu klub bereputasi tinggi di Malaysia.

"Saya bergabung bukan karena alasan pandemi atau tidak ada kompetisi di Indonesia," ujarnya. "Saya memilih datang karena pilihan sebagai pemain sepakbola profesional. Ada tawaran dari mana pun, kalau sudah oke, kita pilih dan putuskan bergabung. Itu saya lakukan sejak sebelum pandemi. Jadi, kalau saya sekarang menerima tawaran dari Terengganu, alhamdulillah. Saya bisa bergabung. Lagipula, saya sudah mengenal Terengganu."

Keeratan hubungan antara Terengganu dan sepakbola Indonesia tidak hanya kali ini terjadi. Tetapi, sudah terjalin sejak era Patrich Wanggai dan Gustavo "Gusty" Lopez berkiprah di negeri ini beberapa tahun silam. Lebih signifikan lagi adalah kontribusi Rahmad Darmawan yang pernah menjabat sebagai pelatih kepala T-Team (kini Terengganu II). Itu kian mengokohkan hubungan istimewa tersebut. Namun, dalam beberapa musim terakhir, Terengganu menempuh haluan yang berbeda dengan merekrut sederetan pemain yang tidak memiliki resume sepakbola Indonesia sama sekali.

Kini, tak bisa disangkal, kebijakan sistem scouting Terengganu berhasil memborong sejumlah pemain asing berkualitas. Diawali dengan kapten timnas Namibia, Petrus Shitembi, Terengganu kemudian sukses mendapatkan eks pemain Aston Villa, Chris Herd. Lalu, menyusul bek timnas Filipina, Carli de Murga. Sebelum Konate, David Da Silva telah berhasil didapatkan oleh klub berjuluk Sang Penyu ini. Selama beraksi di Indonesia, Da Silva dikenal memiliki naluri membunuh yang luar biasa di depan gawang dan jarang tampil mengecewakan. Sementara, Konate adalah seorang gelandang serang yang klasik. Dia tidak hanya memiliki kemampuan passing yang sempurna, tapi juga sanggup menjaringkan gol di area attacking third.

Tidak berhenti di situ. Pelatih berbakat Terengganu, Nafuzi Zain, menerapkan formula khusus menghadapi musim 2021. Paling kentara adalah pemberian kontrak lima pemain di bawah usia 23 tahun yang memiliki rekor serta statistik terbaik musim lalu. Gabungan pemain impor berpengalaman dan pemain muda berbakat ini menjadikan "modul Terengganu" sebagai formula sepakbola yang paling ditunggu-tunggu di antara tim Liga Super Malaysia (MSL) lainnya.

db193e5b44b04f40f6c4d2e379d75273744cc0ca

Meski demikian, sejarah juga mencatat bahwa tidak semua pemain asing yang berasal dari Indonesia tidak selalu membawa prestasi cemerlang atau melanjutkan catatan gemilang mereka saat melintasi Selat Malaka. Hebat dalam merobek-robek jaring di liga Indonesia belum tentu menjamin hal yang sama bakal terulang di Malaysia. Apalagi jika sang pemain gagal keluar dari zona nyaman mereka selama ini.

Masih banyak fans liga Malaysia yang tidak dapat melupakan sejumlah episode kegagalan dari para bekas jagoan liga Indonesia. Di antara mereka yang bernama besar dengan rekor gol mentereng, tetapi gagal menjawab ekspektasi, adalah legenda Sriwijaya FC, Hilton Moreira dan Beto Goncalves yang gagal berkembang di Penang FC. Begitu juga Sylvano Comvalius, eks Bali United yang lesu di Kuala Lumpur. Kegagalan paling epik barangkali adalah bekas bomber Persija Jakarta dan Persebaya, Emmanuel "Pacho" Kenmogne yang flop di Kelantan dan dilepas setelah hanya beraksi tujuh pertandingan liga pada musim 2015. Padahal, Kenmogne berstatus sebagai pencetak gol terbanyak liga Indonesia musim sebelumnya.

Tapi, kita tidak boleh bersikap skeptis dengan melabeli setiap pemain asing dari Indonesia yang sudah mau berkelana ke Malaysia. Kehebatan Da Silva dengan menjaringkan 35 gol di Indonesia tentu memberikan 1.001 macam alasan bagi Nafuzi untuk membawanya ke Kuala Terengganu. Belum cuba, belum tentu tahu. Apalagi ketajaman Da Silva di Persebaya musim 2018 mampu membawanya berkiprah ke K-League, yang dianggap langkah positif dalam kemajuan kariernya. Berhijrah ke liga yang lebih mentereng setelah dari Indonesia bukan sebuah pencapaian yang bisa terjadi setiap musim, tetapi hanya oleh pemain berkualitas seperti Da Silva. Sayangnya, Da Silva tidak berhasil meningkatkan penampilan di kancah Asia. Dia meninggalkan Korea Selatan setelah menjalani sembilan pertandingan.

"Saya selalu merasa tertantang dan begitu mengetahui minat mereka terhadap saya, saya menyambarnya karena semua orang tahu K-League ada di level tinggi di Asia. Mereka [Pohang Steelers] memberi saya penawaran yang lebih baik dari yang bisa disanggupi Persebaya. Jadi, saya melanjutkan karier saya," bilang Da Silva.

Musim 2021 bersama Terengganu akan vital bagi Da Silva dalam menjustifikasi kemampuannya sebagai striker ulung yang dilahirkan liga Indonesia. Kegagalan di Korea Selatan dan kepindahan ke Malaysia memberikan kesempatan kedua untuk membuktikan dirinya bukan "a one league player", pemain satu liga yang hanya mampu hebat di satu gelanggang. Akan ada tanggapan bahwa MSL tidak lah sesulit K-League, tetapi keikutsertaan Terengganu ke Piala AFC  memberikan ekspektasi tinggi terhadap tim untuk melaju jauh di kejuaraan tersebut. Da Silva dituntut memberikan impak langsung di atas lapangan. Makan Konate - David Da Silva - PersebayaPersebayaOfficial

Bagi Konate, selain melanjutkan kecemerlangan penampilan yang dilakukan ke mana pun melangkahkan kaki, dia juga harus meyakinkan para pendukung Terengganu bahwa dirinya dan Shitembi mampu mengemudi lini tengah Terengganu sepeninggal dua gelandang yang selama ini bermain bagus, yaitu Lee Tuck dari Inggris dan Sanjar Saakhmedov dari Uzbekistan. Dua pemain tersebut mampu menciptakan lini tengah tim yang cerdas dan terencana dengan baik, sehingga Konate dan Shitembi menghadapi tuntutan menghidupkan lagi upaya tersebut atau bahkan memberikan pencapaian yang lebih baik.

Pemain yang bakatnya ditemukan oleh Mundari Karya dari sebuah pertandingan fun football, Konate akan membawa pengalaman penting bagi Terengganu, yaitu penampilan di Piala AFC 2015 bersama Persib Bandung. Hal itu diakuinya dalam wawancara dengan saya, Konate tidak sabar kembali bertarung di kompetisi antarklub Asia tersebut. Meski akan diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19, pengalaman berharga Konate akan dibutuhkan Nafuzi dalam mendorong prestasi tim di kejuaraan.

"Saya pernah bermain di Piala AFC bersama Persib. Waktu itu, Persib dikalahkan Kitchee SC," bilangnya. "Saya berharap Terengganu berprestasi lebih baik daripada Persib. Saat ini, kami ingin lolos dari fase grup untuk kemudian fokus step by step."

Kini, setelah melalui proses pembangunan ulang serta dibarisi bakat-bakat muda plus pemain-pemain asing berstatus marquee, tahun 2021 merupakan tahun penentuan bagi Terengganu untuk memenuhi hasrat pendukung dengan merebut kejayaan domestik di Malaysia. Ditambah lagi dengan beban mengibarkan Jalur Gemilang (bendera Malaysia) sebagai salah satu wakil di Piala AFC. Anehnya, bagi sebagian fans, momen pramusim kali ini bak mengingatkan lagi memori pahit yang pernah terjadi musim 2016 lalu. Saat itu, Terengganu merekrut sejumlah pemain bereputasi untuk membangun tim yang kuat, tapi malah terjerumus ke papan bawah dan akhirnya terdegradasi dari MSL.

Walaupun bolasepak Terengganu hari ini diperkuat oleh wajah-wajah baru, kenangan tragis itu kembali menghantui kalau mereka dilihat seolah-olah mengulangi metode yang sama musim ini. Biarpun luka memori lama itu sudah copa ditepis, tapi Terengganu tetap belum mampu berjaya di pentas bolasepak Malaysia. Pernah nyaris mencapai sukses di final Piala Malaysia 2018, Terengganu harus menderita karena gagal membendung kebangkitan lawannya, Perak, di akhir pertandingan.

Pertanyaannya sekarang, apakah transfer Konate dan Silva memberikan solusi yang diinginkan dalam mendatangkan kejayaan domestik pertama ke Kuala Terengganu sejak 2011? Bagi Konate dan Da Silva, mampukah mereka memberikan kejayaan baru secara individual dengan meraih trofi di Malaysia setelah gagal melakukannya di Indonesia beberapa musim belakangan?

Apapun jawabannya, yang lebih penting adalah perencanaan berjenjang dalam jangka panjang tim ini. Terutama, penekanan terhadap aspek sepakbola modern serta pemilihan pemain muda yang sudah mulai diterapkan. Sekiranya Nafuzi sukses membentuk para pemain muda ini dengan dibantu para pemain berpengalaman di Liga Primer Inggris seperti Chris Herd, atau Piala Afrika seperti Shitembi, termasuk pengalaman Konate dan Da Silva di Indonesia, modul Terengganu ini pasti akan memberikan hasil nyata.

Pembaharuan infrastruktur seperti penggunaan rumput jenis Bermuda di lapangan Stadion Sultan Mizan Zainal Abidin serta fasilitas pusat latihan yang berkonsep kabin merupakan sesuatu yang dapat dibanggakan bolasepak Malaysia. Semua ini hanya akan berhasil apabila modul itu ditunjang dan diawasi oleh sederetan individu yang fokus, berpengetahuan, dan yang paling penting, mempunyai renjana (passion) sepakbola yang dalam. Pembaharuan fasilitas tersebut akan siap digunakan awal Februari sehingga pemain seperti Konate dan Da Silva dapat menikmati hasilnya. Syaratnya, mereka memberikan prestasi setinggi-tingginya dan lama bertahan di Kuala Terengganu.

Transfer Konate dan Da Silva adalah aspek unik yang dilahirkan dari "bolasepak serantau". Selain meningkatkan nilai pasar Terengganu dan bolasepak Malaysia di Indonesia, penyeberangan kedua pemain telah mencetuskan hype yang luar biasa karena mereka telah memiliki kecemerlangan individual selama berkarier di Indonesia. Hubungan ini niscaya akan bertambah lebih istimewa sekiranya bekas bintang-bintang liga Indonesia itu mampu membawa tim pesisir pantai timur Malaysia mengecapi prestasi tinggi di Piala AFC nanti. Sekaligus memberikan pengertian baru terhadap gagasan "bolasepak serantau" antara Malaysia dan Indonesia menyusul pemulihan ekosistem sepakbola di Asia Tenggara pascapandemi Covid-19.

Iklan
0