2019-01-09 2008 Nani RonaldoGetty Images

"Cristiano Ronaldo Memesona" - Bagaimana Bisa Luis Nani Terinspirasi Mega Bintang Manchester United Itu Sejak Kecil?

Luis Nani berusia 12 tahun ketika dia pertama kali mengenal Cristiano Ronaldo, yang memiliki keinginan besar untuk selalu menang.

Nani berada di Lisbon untuk uji coba dengan Sporting CP, di mana Ronaldo remaja sudah sangat terkenal di sana.

Nani dengan cepat menyadari alasannya. Selama pertandingan tim muda di salah satu kompleks pelatihan Sporting, Ronaldo dibiarkan menangis di pinggir lapangan setelah wasit memutuskan untuk tidak memberinya tendangan bebas, sehingga memungkinkan lawan berlari ke ujung lain lapangan dan mencetak gol.

Pelatih Ronaldo menghampirinya saat dia duduk mengasihani dirinya sendiri dan berkata: “Ayo, kamu tidak perlu melakukan itu! Anda harus terus berjuang. Terkadang sesuatu dapat terjadi."

Ronaldo kembali memasuki lapangan permainan, langsung mendapat umpan silang dan melakukan dua sentuhan sebelum melakukan backheel di belakang gawang.

Dan Nani terpesona.

“Melihat Cristiano hari itu, dan bagaimana dia bermain, membuat saya menyadari mengapa dia begitu baik,” kata Nani dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Goal. “Bahkan pada saat itu, Anda bisa melihat bahwa dia adalah 'sesuatu' yang berbeda dibanding dengan pemain lain."

“Semua orang mengatakan dia akan menjadi yang terbaik, jadi saya mulai melihat dia dan berpikir, 'Saya perlu meningkatkan diri'."

“Pada usia itu saya tahu bahwa saya bagus, tetapi saya tidak berada di level itu, jadi saya mulai fokus pada pemain terbaik seperti dia. Saya mulai mendorong diri saya lebih banyak dan, dalam satu bulan, saya dapat melihat bahwa saya telah meningkat sangat cepat."

Nani mewujudkan mimpinya bermain untuk Sporting CP ketika ia melakoni debut seniornya pada tahun 2005 tetapi hanya menghabiskan dua musim di Portugal sebelum ditebus Manchester United seharga €25,5 juta (£21,8 juta/$30,1 juta).

Tekadnya untuk mencoba meniru mentalitas pemenang Ronaldo telah memberinya kesempatan untuk bergabung dengan rekan senegaranya di Old Trafford. "Itu indah," kata Nani dengan antusias.

Nani Alex Ferguson Manchester United GFXGetty/Goal

Dan mereka tidak hanya berbagi ruang ganti bersama. Nani pindah dengan Ronaldo dan pemain yang berbicara Portugis lainnya, gelandang Brasil Anderson.

“Itu bagus untuk kami. Kami adalah tiga pemain muda yang suka bersaing setiap hari dan kami memiliki segalanya untuk dinikmati di rumah: berenang, pingpong, tenis, dan itu membuat kami lebih baik setiap hari. Itu sempurna!"

Sementara mereka memiliki hubungan yang hebat di luar lapangan, performa Ronaldo yang luar biasa membuat Nani tetap berada di bangku cadangan selama beberapa musim. Dalam musim perdananya, ia turun sebagai starter sebanyak 16 kali, tapi yang di musim berikutnya, dia hanya membuat tujuh kali,

Meski begitu, Nani tidak pernah memiliki perasaan keras terhadap sahabatnya itu. Justru sebaliknya.

“Itu hebat,” jelasnya. “Ketika Anda memiliki pemain seperti dia di tim Anda, Anda tidak takut pada apa pun atau tim mana pun. Saya pikir itu perasaan terbesar yang bisa Anda miliki ketika Anda bermain dengannya."

“Anda selalu siap, selalu yakin Anda bisa menang dan dia memberikan itu kepada kami setiap musim.”

Pada akhir tahun pertama Nani di Manchester, Setan Merah memenangkan gelar ganda, sebuah pencapaian yang tidak akan pernah dia lupakan - paling tidak karena dia tidak sepenuhnya siap untuk perayaan gelar Liga Primer United pada hari terakhir musim itu.

"Saya tidak berada di tim melawan Wigan,” kenang pemain berusia 34 tahun itu. “Jadi saya duduk di tribun. Ketika Ryan Giggs mencetak gol, mereka membawa saya ke ruang ganti untuk berganti pakaian dan mengikuti perayaan."

“Tapi saya tidak punya sepatu lain. Jadi, saya berebut mencari sepatu dan saya harus memakai milik Owen Hargreaves! Itu agak besar untuk saya tetapi saya tidak terganggu. Saya hanya ingin merayakannya bersama tim.”

Nani Cristiano Ronaldo Anderson Manchester United GFXGetty/Goal

Itu baru permulaan bagi Nani, dengan gelar liga pertama tersebut merupakan gabungan dari empat trofi liga yang dia menangkan di bawah Sir Alex Ferguson.

Ketika Ronaldo pergi ke Real Madrid pada 2009, ia muncul dari bayang-bayangnya dan menjadi pemain reguler di tim sebagai sayap kanan, mencetak beberapa gol spektakuler dalam prosesnya. Tapi apa yang menjadi favoritnya?

“Saya pikir yang melawan Chelsea di kandang (tahun 2011),” renungnya. “Itu adalah pertandingan yang sulit, melawan tim yang kuat di depan para penggemar kami. Itu adalah permainan hebat melawan kiper yang bagus (Petr Cech) dan tidak mudah mencetak gol seperti itu melawannya."

Gol itu, tentu saja, segera diikuti dengan selebrasi backflip khasnya. Ada rumor bahwa Ferguson tidak menyetujui akrobatnya tersebut, tetapi Nani menegaskan hal itu tidak pernah didiskusikan dengan sang manajer.

"Ada beberapa rumor di klub bahwa dia pikir itu [akrobatik] masalah, tapi saya tidak pernah berhenti," katanya. "Manajer tidak pernah datang kepada saya dan mengatakan apapun tentang itu."

“Satu pertandingan, saya mencetak gol dan saya tidak melakukannya, tapi itu karena kaki saya sakit dan saya tidak bisa melakukan backflip! Segera setelah saya pulih, saya melakukannya lagi.”

Saat ini, selebrasi golnya tidak "semeriah" dulu, dengan Nani bercanda bahwa dia tidak lagi berusia 18 tahun.

Namun, Nani mempertahankan kemampuannya untuk melakukan serangan spektakuler. Sama seperti Ronaldo, dia masih kuat di usia pertengahan tiga puluhan. Memang, dia saat ini berlaga di MLS dan ditunjuk sebagai kapten Orlando City.

Musim ini, ia telah memainkan 16 pertandingan liga, mencetak sembilan gol dan mencatatkan enam assist.

Nani Orlando City MLS GFXGetty/Goal

“Saya pikir ini adalah tahun yang hebat bagi saya dan tim saya,” katanya. “Skuad ini jauh lebih kuat dan kami tampil sangat baik melawan tim kuat di MLS dan mendapatkan hasil yang bagus. Bagi saya, khususnya, musim ini adalah musim terbaik saya di sini. Saya merasa sangat percaya diri.”

Nani juga menikmati perannya sebagai pemimpin. Dia menyebut Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, Ryan Giggs dan Patrice Evra sebagai mantan rekan satu tim yang banyak dia pelajari selama berada di Old Trafford dan itu telah membentuknya menjadi kapten seperti sekarang ini.

“Pengalaman dan tantangan yang berbeda selama bertahun-tahun di klub yang berbeda, Anda mengambil sedikit perlajaran dari setiap pengalaman yang Anda miliki dalam karier Anda dan menggabungkan semuanya. Itu yang membantu saya memimpin tim,” kata Nani.

“Saya mendapat rasa hormat dari klub dan semua rekan satu tim saya, dan saya merasa seperti di rumah sendiri. Tanggung jawab yang saya miliki baik bagi saya karena bisa memberi saya motivasi yang saya butuhkan setiap hari untuk terus bekerja keras dan berkembang serta memastikan saya dapat membantu para pemain di sekitar saya berkembang.”

Sama seperti Ronaldo yang membantunya berkembang di awal kariernya, dia sekarang memberikan mentalitas kemenangannya kepada orang-orang di sekitarnya.

Dan dia tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari dia akan dipertemukan kembali dengan temannya. Meski tidak akan terjadi musim panas ini karena Ronaldo akan kembali ke Old Trafford, tetapi Nani tidak mengesampingkan apa pun.

“Masa depan ada di tangan Tuhan tetapi itu masih mungkin, Anda tidak pernah tahu,” kata Nani tentang Ronaldo bergabung dengannya di MLS.

Tapi berapa lama mereka berdua bisa terus berjalan? Nani berusia 35 dalam beberapa bulan kedepan dan Ronaldo berusia 37 tahun pada Februari.

“Saya terus berjalan, terus bekerja dan berusaha menjaga kesehatan saya dan melakukan yang terbaik setiap musim,” tambah Nani.

“Fokusnya adalah membuat saya terus maju dan mendapatkan pengalaman tentang bagaimana memperlakukan diri sendiri, Anda perlu tetap termotivasi untuk bekerja setiap hari dan menjaga kesehatan."

"Itulah rahasianya: jika Anda sehat, Anda dapat terus bekerja."

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0