EKSKLUSIF GUILLEM BALAGUE ALIH BAHASA HAPPY SUSANTO
Dua pertandingan liga sudah dimainkan di Calcio, namun pemain baru Juventus, Cristiano Ronaldo, belum mencetak satu pun gol. Apa yang sebenarnya terjadi?!
Mungkinkah ada elemen kebenaran dalam pernyataan bahwa lebih sulit mencetak gol di Italia ketimbang di tempat lain? Apakah Ronaldo benar-benar berjuang untuk memberi dampak yang sama di Serie A Italia seperti yang dilakukannya di Liga Primer Inggris dan La Liga Spanyol?
Saya akan memberi saran secara hati-hati. Dalam kata-kata humoris Evan Esar, statistik bisa menjadi "ilmu menghasilkan fakta-fakta yang tidak dapat dipercaya dari angka-angka yang dapat dipercaya."
Benar, mari kita eksplorasi mitos bahwa lebih sulit mencetak gol di Italia daripada di Spanyol.
Ada 1.900 pertandingan di dua liga itu dalam lima tahun terakhir dan hanya 57 gol lebih yang dicetak di La Liga ketimbang Serie A (5.239 dibandingkan 5.182)--hampir tidak ada perbedaan besar.
Selanjutnya, selama periode itu, ada rata-rata 2,72 gol yang dicetak per pertandingan Serie A dibandingkan 2,75 gol per pertandingan di La Liga.
Statistik di atas memberitahu kita bahwa selama periode yang sama, pencetak gol terbanyak di La Liga (el pichichi) mencetak total 190 gol, sedangkan pencetak gol terbanyak di Serie A (il capocannoniere) hanya mencetak 138 gol.
Tidak ada topskor di Italia yang mencetak lebih banyak gol dalam satu musim ketimbang padanannya di La Liga dan hanya sekali dalam lima musim terakhir ada pemain Serie A yang mencetak lebih dari 30 gol (Gonzalo Higuain, 36 gol pada musim 2015/16).
Namun, empat dari lima Pichichis terakhir dimenangni oleh Ronaldo atau Leo Messi, dan itulah kuncinya di sini.
Dalam pandangan saya, Cristiano adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa, sedangkan Messi adalah pemain terbaik di generasi ini dan yang lain.
Getty ImagesKedua pemain yang produktif itu telah mengubah segalanya, membuat tampak mudah untuk mencetak gol di Spanyol ketimbang di Italia, ketika kebenarannya adalah bahwa kita membicarakan tentang dua pemain hebat sepanjang masa yang mencetak gol secara bebas di lima mana pun.
Statistik tidak mengatakan keseluruhan cerita dan hal yang sama berlaku untuk 'perjuangan' Ronaldo di Serie A.
Siapa pun yang menonton dua pertandingan sejauh ini, lawan Chievo dan Lazio, akan mengetahui kalau ia tampil bagus di dua laga tersebut.
Mari kita mengingat, di Real Madrid musim lalu, Ronaldo membutuhkan delapan pertandingan untuk membuka kran golnya di La Liga, sementara ia hanya meraih empat gol hingga pertengahan musim 2017/18.
Namun, sering diabaikan kalau ia absen di empat matchday pertama setelah mendapat sanksi akibat dua kartu kuning yang bodoh dan diikuti dengan sebuah dorongan pada wasit Ricardo de Burgos di leg pertama Piala Super kontra Barcelona di Camp Nou.
Ditambah, ketika ia harus berjuang untuk mencetak gol di paruh pertama musim La Liga, ia masih bisa bersenang-senang di Liga Champions dan akhirnya mencetak 44 gol dalam 44 pertandingan di berbagai ajang kompetisi.
Jadi, akan konyol jika mencoret Ronaldo di tahan awal ini.
Diakui, Ronaldo telah memuncak dari perspektif fisik dan ia mengubah permainannya untuk menjadi mesin gol dengan satu sentuhan.
Selain itu, setelah mendiskusikan masa depannya dengan mantan pelatih Real Madrid Zinedine Zidane, ia memutuskan untuk menghemat energinya menuju akhir musim, yang mengakibatkan Ronaldo diistirahatkan lebih banyak di La Liga ketimbang sebelumnya.
Oleh karena itu, mari kita tunggu dan melihat bagaimana Ronaldo menyelesaikan musim daripada membuat asumsi gegabah akibat cara yang ia mulai lakukan.
Pemain asal Portugal itu sudah membuat pelatih-pelatih Juventus berkesan dengan ketajamannya, tapi perasaannya adalah bahwa masih ada banyak lagi yang akan datang; ia bisa menjadi lebih kuat.
Jelas tidak ada keraguan atas Ronaldo di Turin hanya karena ia gagal mencetak gol di dua pertandingan pembuka musim ini.
Saya berada di Italia untuk menonton debutnya lawan Chievo dan menarik bisa melihat bagaimana Torinesi dengan cepat terperangkap dalam histeria umum yang selalu menyebut-nyebut CR7.
Nayak penduduk lokal yang mungkin tidak suka mengakuinya, tapi Turin bisa berapi-api dan ramai seperti kota bagian selatan Italia dan kedatangan Ronaldo telah menggerakkan sisi gairah mereka seperti tidak ada pemain lain sebelumnya.
Penjualan kaos yang memecahkan rekor; harga saham yang melonjak; kenaikan harga tiket; dan ada ek krim edisi spesial Cristiano Ronaldo--ini semua adalah elemen sirkus CR7.

Sayangnya, untuk Juventus dan Massimiliano Allegri, memiliki Ronaldo dan mengetahui secara langsung bagaimana mengerahkan kemampuan terbaik dari dirinya adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
Bos Bianconeri bahkan mengakui secara pribadi sebelum pertandingan lawan Chievo kalau ia masih belum yakin di mana ia akan memainkan rekrutan bintang musim panas itu dan kalau ia akan mencoba berbagai formasi untuk melihat apa yang paling cocok untuk Ronaldo.
Di babak pertama lawan Chievo, pemain nomor 7 itu berada di depan dua winger dalam formasi 4-3-3, tapi ketika Mario Mandzukic dipasnag sebagai pemain nomor 9 setelah turun minum, Ronaldo pindah ke sayap kiri, dan ia tampil bagus.
Sementara itu, lawan Lazio, Mandzukic dan Ronaldo berulang kali bertukar posisi dengan efek yang bagus. Ia bahkan terlihat siap untuk keluar dari penjagaan pemain lawan, tapi tendangannya yang deflected menghasilkan sebuah assist untuk partner strikernya sehingga membuat pertandingan menjadi aman dengan tendangan voli yang empatik.
Ronaldo mengangkat tangannya dalam frustrasi dan tersenyum, senang timnya mencetak gol tapi sebahagia jika ia sendiri yang mencetak gol.
Apa yang kita lihat sekarang ini adalah Ronaldo yang lebih rendah hati. Ingin dilihat sebagai bagian dari tim, menarik berat badannya, sopan, pekerja keras, dapat diterima--itu adalah semua hal yang staf pelatih Allegri lihat dan akui, teguh pada keyakinan jalau gol-gol akan datang.
Seperti yang kita ketahui, para striker adalah mirip para pejuang dan hal terakhir yang hilang adalah naluri finishing mereka. Ronaldo tetap pencetak gol kelas berat dan ia masih bisa membuat kejutan.
Mungkin terlalu dini untuk membuat prediksi, tapi tidak ada jumlah statistik yang akan mengubah saya dari pemikiran bahwa Ronaldo bisa mencetak 40 hingga 50 gol di berbagai ajang kompetisi pada musim ini.
Faktanya, saya tidak meragukan dirinya untuk sesaat.



