Copa America 2019: Lebih Buruk Dari Diego Maradona? Lionel Scaloni Kembali Diselamatkan Lionel Messi

Komentar()
Getty Images
Scaloni tampak kesulitan menyesuaikan levelnya dalam turnamen bergengsi ini dan beruntung kapten tim menyelamatkan mukanya.

OLEH   DANIEL EDWARDS   PENYUSUN  M. RHEZA PRADITA

Berlaga lagi, bermain buruk lagi. Tim nasional Argentina kembali diselamatkan oleh Lionel Messi, dan beruntung masih bisa menahan imbang 1-1 Paraguay, Kamis (20/6) pagi WIB. Pertandingan tersebut semakin menunjukkan bahwa pelatih Lionel Scaloni bukanlah orang yang kompeten untuk menjadi nakhoda Albiceleste.

Untuk pertama kalinya sejak Diego Maradona berada di bangku cadangan, Argentina memiliki pelatih yang tidak kompeten secara taktik dan tampak di luar kendali dalam hal mengelola pemain. Berkat ketidakmampuan itu, mereka sekarang berada di ambang eliminasi putaran pertama Copa America 2019.

Scaloni awalnya hanyalah solusi jangka pendek bagi Argentina. Setelah tampil mengecewakan di Piala Dunia 2018, AFA (Federasi Sepakbola Argentina) tidak punya pilihan selain menendang pelatih Jorge Sampaoli dan mencari penggantinya.

Masalahnya adalah, tak seorang pun tampaknya bersedia untuk mengambil alih jabatan sulit tersebut. Secara terpaksa posisi tersebut diserahkan ke Scaloni, yang baru dua tahun menjadi asisten pelatih Sampaoli setelah ayahnya memohon untuk memberi Scaloni kesempatan ketika di Sevilla.

Kekalahan 2-0 dari Kolombia pada Sabtu (15/6) merupakan laga kompetitif pertama bagi Scaloni sebagai pelatih, dan hasilnya membuktikan hal tersebut. Argentina tampil buruk sepanjang laga, kecuali di 20 menit pertama babak kedua, dan layak merasakan kekalahan pertama di Copa America sejak final 2007.

Tanggapan sang pelatih membingungkan dan tidak konsisten. Secara terbuka dia memuji bahwa timnya telah tampil baik, tetapi justru mengganti empat pemain pada pertandingan selanjutnya melawan Paraguay. Termasuk mencadangkan Sergio Aguero dan Angel Di Maria, dua dari sedikit pemain berpengalaman di tim.

Maradona juga gemar mencoret dan mengganti pemain, dia tercatat menggunakan 108 pemain selama 18 bulan melatih, yang berakhir di Afrika Selatan 2010. Scaloni tidak jauh berbeda, dia sudah memilih lebih dari 50 pemain dalam waktu kurang dari setahun.

Susunan pemain inti melawan Albirroja merupakan susunan pemain inti berbeda ke-12 Scaloni dalam jumlah pertandingan yang sama. Para pemain yang tampil baik di klub seperti Messi, Gio Lo Celso, Rodrigo De Paul, dan Nicolas Tagliafico tidak mampu unjuk gigi di lapangan. Mereka bahkan kesulitan untuk melakukan umpan sukses, dan hanya melepaskan satu tembakan pada babak pertama.

Lionel Scaloni Argentina Paraguay Copa America 19062019

Messi, tentu saja, merupakan salah satu pemain yang tersisa dari era Maradona. Nicolas Otamendi adalah pemain lainnya, yang hampir mengalami trauma ketika dia mendadak dijadikan bek kanan dalam kekalahan 4-0 dari Jerman 2010 lalu. Sembilan tahun berlalu, dan setidaknya dia kini dimainkan di posisi alaminya, meski tetap memberi pertunjukan horor di lini belakang.

Kali ini posisi bek kanan diisi Milton Casco, dan dia harus rela melihat Miguel Almiron melewatinya sebelum mengirim umpan ke kotak penalti, di mana Richard Sanchez mencuri bola dan mengonversi peluang ke gawang Franco Armani. Ada banyak pemain Argentina di dalam kotak, tetapi tidak ada yang bereaksi terhadap umpan silang.

Argentina saat ini bisa saja berada di tempat yang lebih buruk jika tidak diselamatkan Messi dan VAR. Wasit di dalam ruangan melihat ada insiden handball sebelum tendangan Lautaro Martinez membentur mistar, dan Messi berhasil mengeksekusi penalti dengan sempurna.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Meski begitu, Scaloni sebenarnya masih memiliki cukup waktu untuk membawa Argentina meraih kemenangan, tetapi dia kembali gagal membaca permainan. Masuknya Aguero di awal babak kedua untuk berduet dengan Martinez membuat serangannya semakin terarah, tetapi dia justru memutuskan untuk mengganti Martinez dengan Di Maria. Kalau bukan karena Franco Armani, yang membuat penyelamatan dari eksekusi penalti, segalanya bisa jauh lebih buruk bagi tim  yang telah masuk final dalam dua Copa terakhir.

Sejauh ini, dia masih harus kembali berjuang, dan kemenangan atas Qatar pada Sabtu (22/6) mungkin sudah cukup untuk mengirim mereka ke quarter-final. Tetapi kekacauan yang terjadi di tubuh Albiceleste tidak bisa diabaikan, dan tanggung jawab utama harus diemban Scaloni.

 

Tutup