Mantan penggawa Chelsea Emmanuel Petit menilai manajemen baru di bawah kepemimpinan Todd Boehly tidak mempunyai kemampuan untuk merancang strategi dalam jangka panjang, sehingga The Blues terpuruk pada musim ini.
Meski mendatangkan banyak pemain baru, Chelsea tidak menunjukkan sinarnya pada musim ini. Mereka menduduki peringkat 11 klasemen sementara. Hasil itu berujung kepada pemecatan Graham Potter sebagai manajer.
Chelsea kini sedang memburu manajer baru dengan munculnya berbagai nama sebagai kandidat, seperti Luis Enrique dan Julian Nagelsmann. Apalagi Chelsea akan menjalani pertandingan leg pertama perempat-final Liga Champions melawan Real Madrid, Kamis (13/4) dini hari WIB.
“Yang menjadi pertanyaaan buat saya, apakah mereka terburu-buru untuk melakukan itu, atau dapatkah mereka menunggu beberapa pekan hingga akhir musim? Ini keputusan yang sulit,” tutur Petit dalam wawancaranya dengan Stadium Astro.
“Jika masih ingin lolos ke Liga Champions, harapan satu-satunya adalah menang melawan Madrid, dan lolos. Ini juga bukan jaminan memenangkan Liga Champions. Menurut saya, stabilitas adalah masalah utama Chelsea dalam setahun ini.”
Getty Images“Jika ingin mempersiapkan diri untuk musim depan, Anda perlu mendatangkan manajer baru yang menjadi bagian di dalamnya untuk memiliki visi. Anda tidak bisa mendatangkan manajer pada Juni atau Juli. Dengan semua pemain yang dimiliki, mereka membutuhkan strategi. Tidak ada strategi di klub sejak Abramovich pergi.”
“Mereka perlu memikirkan masa depan, tidak hanya Madrid. Jadi manajer berikutnya yang datang, dia harus menjadi bagian dari itu. Misalnya, jika dia tidak berjalan dengan baik dalam dua atau tiga bulan, apakah mereka akan memecatnya lagi?”
Petit menambahkan, manajemen Chelsea perlu mempunyai perencanaan yang matang dalam jangka panjang. Manajemen juga tidak harus berpikir menemukan manajer yang tepat untuk mengendalikan banyaknya pemain bintang. Petit menilai kemampuan manajer yang pintar mengelola tim lebih penting dibandingkan sekadar memahami taktik.
“Menurut saya, mereka (manajemen sekarang) membeli begitu banyak pemain, dan berpikir: kita perlu menemukan manajer yang tepat yang dapat menangani semua orang, yang dapat menemukan solusi untuk bermain, dan menemukan kepribadian, serta DNA di lapangan. Well, semoga berhasil,” cetus Petit.
“Mereka memanggilnya (Potter) 'yes man' di ruang ganti. Dia kehilangan rasa hormat dari para pemain karena hal itu. Saya bisa mengerti betapa sulitnya buat dia untuk berurusan setiap hari dengan pemain yang sangat berbeda.”
“Ini tidak mudah. Anda harus memutuskan siapa pemain top di satu posisi. Itulah yang harus dilakukan Potter, dan dia tidak punya pengalaman tentang itu.”




