Catatan Dari Myanmar: Di Balik Sarung, Bedak & Megahnya Pagoda Negeri Tanah Emas

Komentar()
Rais Adnan - Reza Hikmatyar
Sarung longyi, bedak thanaka, hingga Shwedagon jadi nuansa kental dalam perjalanan Goal Indonesia ke Myanmar, untuk meliput Timnas Indonesia U-19.

LAPORAN     AHMAD   REZA   HIKMATYAR    DARI   YANGON    Ikuti @rezahikmatyar di twitter

Mingalaba pembaca Goal Indonesia !

Tidak terasa sudah lebih dari sepekan atau tepatnya sepuluh hari Goal Indonesia berada di Yangon, Myanmar. Kali ini kami hadir untuk meliput perjuangan Timnas Indonesia U-19 di Piala AFF U-18 2017.

Tak heran jika sudah begitu banyak pengalaman yang kami dapat selama berada di kota yang dahulunya merupakan ibu kota Myanmar ini. Mari kita memulainya dengan kebiasaan masyarakat setempat menggunakan sarung  longyi .

Myanmar

Ketika berkunjung ke Myanmar, kita akan dibuat heran ketika mayoritas warganya menggunakan sarung. Baik pria, wanita, tua, maupun muda. Sarung longyi yang dipakai kaum laki-laki disebut “paso”, sementara yang dipakai kaum perempuan disebut “htamain”.

Ada sedikit perbedaan soal cara memakai sarung di Myanmar dan Indonesia. Jika di Tanah Air kita cenderung menggunakannya dengan cara digulung di bagian atas, masyarakat Myanmar lebih memilih untuk mengikatnya.

Cara khas Myanmar membuat pemakaian sarung jadi terasa lebih kuat, meski tidak lebih cantik secara tampilan. Sehingga tak heran mereka  cuek  saja mengapitkan dompet hingga ponsel di bagian pinggang sarung, tanpa khawatir terjatuh.

Selain itu ada satu lagi alasan mengapa masyarakat Myanmar begitu suka mengenakan sarung longyi dalam menjalankan aktivitasnya. "Sederhana saja, kami merasa lebih 'adem' jika menggunakan sarung longyi," ujar salah satu supir taksi setempat yang kami temui, Khin Zaw.

Myanmar

Myanmar

Selain sarung longyi, tidak bisa tidak, kita lantas dibuat bertanya-tanya dengan kebiasaan masyarakat Myanmar menggunakan bedak lewat tampilan mencolok. 

Tampilannya mirip dengan wajah kebanyakan anak kecil di Indonesia sehabis mandi, dengan bedak tebalnya yang tidak merata.

Bedak khas Myanmar itu memiliki nama thanaka. Bedak ini dibuat dari pasta hasil gerusan batang pohon khas Myanmar. Kebiasaan ini sudah berlangsung ribuan tahun lamanya dan jadi budaya mencolok di sana.

"Bedak itu kami gunakan sebagai pelindung dari teriknya sinar matahari. Selain itu khasiatnya juga bisa menghaluskan kulit wajah," ungkap warga setempat, Kyaw Min Oo.

Shwedagon Pagoda, Yangon

Selanjutnya tim  Goal Indonesia  juga menyempatkan diri ke simbol Myanmar, Shwedagon. Tidak afdol rasanya bila Anda ke Negeri Tanah Emas, tapi tak berkunjung ke tempat ibadah Budha yang megah nan indah tersebut.

Shwedagon yang juga dikenal dengan julukan Pagoda Emas, adalah sebuah stupa atau pagoda setinggi 98 meter (321,5 kaki) yang berlapis emas dan terletak di tengah kota Yangon. Bangunannya yang begitu luas dan tinggi, mendominasi pemandangan kota yang dahulu bernama Dagon tersebut.

Tim  Goal Indonesia  pun dibuat takjub ketika berkunjung ke sana sekaligus menderita. Takjub dengan kemegahan Shwedagon, tapi menderita karena berkunjung di waktu yang salah. Kami masuk ke tempat terbuka tersebut pada pukul 13 siang, ketika matahari sedang tinggi-tingginya.

Pemandangannya memang tampak begitu cerah dan indah, tapi kulit kami terbakar oleh suhu yang mencapai 36 derajat celcius. Belakangan kami menyimpulkan akan lebih menarik dan nikmat berwisata ke Shwedagon di kala senja.

Myanmar

Jika harus menyebut hal yang kurang mengenakkan dari Myanmar, jawabannya tentulah cuaca. Sejatinya iklim di Myanmar tidak jauh beda dengan Indonesia. Namun karena letak lintangnya, Myanmar jadi punya tiga iklim yakni tropis, subtropis, dan angin musim.

Myanmar memiliki tiga musim, yakni musim hujan, yang terjadi pada Mei hingga Oktober, musim kemarau sejuk terjadi pada November hingga Februari, dan musim kemarau panas pada Maret hingga April. Dari situ bisa ditebak bahwa tim  Goal Indonesia  dan Timnas U-19 datang di musim hujan.

Tampak lebih baik memang jika dibandikan dengan musim kemarau panas. Namun musim hujan di Myanmar tergolong ekstrem, karena selalu diawali dengan cuaca yang superpanas hingga 36 derajat celcius sebelum mendadak berubah jadi dingin dan diguyur hujan.

Tidak heran bila kemudian banyak pemain Timnas U-19 bertumbangan akibat demam dan flu, seperti Feby Eka Putra dan Nurhidayat Haji Haris. Jurnalis dari Indonesia pun banyak yang didera penyakit serupa. Dokter Garuda Nusantara, Ifran Akhmad, jadi dibuat repot karenanya.

"Cuaca di sini sulit ditebak. Kadang bisa panas sekali, tapi tiba-tiba dingin dan hujan. Bisa dibilang ekstrem. Jadi tidak heran bila banyak yang sakit, termasuk pemain kami," tutur Ifran pada  Goal Indonesia .

Timnas Indonesia U-19

Cuaca yang ekstrem ini juga membuat kondisi rumput di Thuwunna Stadium dan Bogyoke Aung San Stadium yang jadi venue  turnamen jadi begitu buruk. Anda mungkin bisa melihatnya dengan jelas melalui layar televisi. 

Untungnya situasi itu tak diperparah dengan pelayanan panitia turnamen, yang tergolong mengorganisasikan helatan ini dengan baik. Tidak ada kasus memalukan seperti kurangnya akomodasi, buruknya transportasi, atau bahkan bendera terbalik. Mereka juga melayani jurnalis dengan sangat layak.

Segalanya semakin nyaman dengan sikap masyarakat Myanmar khususnya Yangon yang santun. Mengetahui status kami sebagai warga Indonesia, mereka bersikap sewajarnya saja apalagi menyinggung isu diskrimnasi agama.

Lebih dari itu semua, akan terasa luar biasa ketika pulang nanti tim  Goal Indonesia  bisa mengangkat  headline:  "Timnas Indonesia U-19 Jadi Raja di Tanah Emas!"

 

Tutup