Vinicius Ancelotti 2022-23

Carlo Ancelotti: Spanyol Bukan Negara Rasis, Tapi Suka Menghina

Juru taktik Real Madrid Carlo Ancelotti menyatakan Spanyol bukan sebuah negara rasis, namun lebih cenderung kegemaran menghina orang lain, terutama kepada pesepakbola maupun pelatih.

Menjelang pertandingan melawan Rayo Vallecano, Kamis (25/5) dini hari WIB, Ancelotti menyoroti sejumlah permasalahan yang terjadi di persepakbolaan Spanyol, mulai sikap rasis terhadap Vinicius Junior hingga caci maki dan hinaan dari fans.

Vinicius setidaknya sudah mendapat perlakukan rasis sepuluh kali, dan proses formal sudah dibuka. Namun sejauh ini, baru empat orang yang ditangkap, karena menggantung boneka Vinicius di jembatan. Sedangkan selebihnya hanya berupa denda dan larangan masuk stadion.

“Sesuatu terjadi dalam pertandingan melawan Valencia. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Spanyol tidak rasis, tapi ada rasisme di Spanyol. Seperti di tempat lain. Ini harus diakhiri,” cetus Ancelotti dalam keterangannya kepada wartawan dikutip laman Sport.

“Sebenarnya Vinicius adalah korban dari apa yang terjadi. Terkadang dia dianggap bersalah, karena dikatakan memprovokasi. Di sini saya perjelas: Dia adalah korban, dan begitu juga fans yang tidak berperilaku buruk.”

Ancelotti menambahkan, sikap buruk itu hanya diperlihatkan segelintir fans saja. Pria asal Italia ini mengeluh dengan kebiasaan fans sepakbola Spanyol yang sering mengucapkan kalimat tak pantas kepada pemain. Sebab, hal itu memberikan pengaruh secara psikologi.

“Ketika saya mengatakan tentang Mestalla, saya tidak berbicara tentang 35 ribu orang. Itu adalah sekelompok orang yang berperilaku sangat buruk, baik di Mallorca, di Valladolid,” beber Ancelotti.

“Kesampingkan rasisme dahulu sejenak, sepertinya kebiasaan menghina merupakan hal yang paling serius. Mengapa di Spanyol memiliki kebiasaan menghina dengan cara yang tidak normal?”

Menurut Ancelotti, keluhan itu sudah disampaikan pelatih Barcelona Xavi. Ancelotti menambahkan, baik pemain dan pelatih sudah merasa lelah menerima perlakukan yang tidak pantas.

“Bisakah seseorang menyebut pesepakbola itu bodoh? Anda harus berhenti, dan kami merasa lelah dihina di setiap pertandingan. Itu terjadi pada Xavi, itu terjadi pada Vinicius, yang lebih bersifat rasisme.”

“Di belakang bench, mereka juga memanggil Anda 'bajingan', 'f *****…'. Saya harap institusinya bisa jelas, baik LaLiga maupun wasit.”

Iklan
0