Ujung tombak Chelsea Christian Pulisic menegaskan, Amerika Serikat berusaha mendapatkan hasil lebih baik di Piala Dunia 2022 dibandingkan di penyelenggaraan 2014 di Brasil.
Amerika Serikat kembali berkompetisi di Piala Dunia setelah impian itu tak tewujud di 2018, karena menelan kekalahan dari Trinidad & Tobago di kualifikasi zona Concacaf. Padahal empat tahun sebelumnya, Amerika Serikat sukses menembus ke 16 Besar.
Torehan buruk itu memaksa Amerika Serikat melakukan perombakan besar-besaran di dalam skuad dengan memasukkan banyak pemain muda, satu di antaranya Pulisic yang menjadi tumpuan, sehingga mendapat julukan Captain America.
Pulisic mengatakan, Piala Dunia kali ini menjadi momen bagus bagi Amerika Serikat untuk mengubah pandangan terhadap persepakbolaan mereka, di samping target utama lolos dari fase grup. Apalagi Amerika Serikat bersama Kanada dan Meksiko akan menjadi tuan rumah bersama di penyelenggaraan 2026.
“Itulah yang kami lakukan di sini. Mungkin ini bukan cabang olahraga terkenal, atau apa pun itu, di Amerika Serikat. Tapi kami ingin mengubah cara dunia melihat sepakbola Amerika. Itu salah satu tujuan kami,” ujar Pulisic kepada AFP.
“Kami belum berada di level kekuatan besar dunia dalam beberapa dekade terakhir. Tetapi kami memiliki tim yang bagus dengan hati besar di dalam diri kami. Saya pikir kami bisa membawanya ke langkah berikutnya dengan Piala Dunia yang sukses. Itu akan mengubah banyak hal.”
Meski baru berusia 24 tahun, Pulisic sudah dianggap pemain veteran di skuad Amerika Serikat. Pulisic menyadari tanggung jawab yang dipikulnya selama kampanye tahun ini.
“Saya tidak melihatnya sebagai beban sama sekali. Ini adalah puncak karir banyak orang, bermain di Piala Dunia, mewakili negara mereka. dan itulah yang saya lakukan di sini,” kata Pulisic.
“Saya telah bermain di beberapa pertandingan besar, saya telah mencapai banyak hal, saya telah melakukan banyak hal yang ingin saya lakukan. Tetapi Piala Dunia adalah sesuatu di atas semua itu. Itu adalah sesuatu yang selalu saya inginkan.”
“Saat saya masih kanak-kanak di Pennsylvania, berusia lima hingga sepuluh tahun, itu semua yang saya pikirkan: bermain di tim Amerika Serikat di Piala Dunia. Itu impian saya sepanjang hidup saya.”
