Borussia Dortmund Tantangan Terbesar Peter Bosz

Komentar()
Getty Images
Peter Bosz menjadi pelatih baru Borussia Dortmund dengan sejumlah tantangan besar yang telah menunggu.

OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Peter Bosz menjadi anggota skuat Ajax Amsterdam pertama yang hijrah setelah sukses menembus final Liga Europa musim 2016/17.

Bosz menerima pinangan Borussia Dortmund dan secara resmi diumumkan sebagai pelatih baru mereka menggantikan Thomas Tuchel, Selasa (6/6). Bosz kabarnya menerima bayaran sebesar €3,5 juta per tahun dalam kontrak berdurasi hingga 2019. Ajax sendiri menerima kompensasi mencapai €5 juta.

Kepindahan Bosz memukul kepercayaan diri fans Ajax. De Godenzonen melampaui ekspektasi dengan mencapai final Liga Europa. Apalagi, mereka melakukannya diperkuat banyak pemain muda. Ajax tampil di final dengan skuat berusia rata-rata termuda dalam sejarah kejuaraan antarklub Eropa.

SIMAK JUGA: "Dortmund Salah Satu Dari Sepuluh Klub Terbesar Dunia"

Meski memulai dengan pelan serta memiliki latar belakang sebagai pemain dan direktur olahraga Feyenoord Rotterdam, Bosz mampu merebut hati fans Ajax. Perkerutan pemain yang tepat ditambah reorganisasi permainan mampu menyegarkan lagi gaya main tim yang terlalu steril ketika lama ditangani Frank de Boer.

Puncaknya, Ajax menggilas Olympique Lyon 4-1 pada leg pertama semi-final Liga Europa melalui penampilan yang penuh gairah. Para pemain Ajax berjuang menguasai lagi saat kehilangan bola, lini belakang tampil tanpa kompromi, dan lini serang penuh kreativitas. Untuk kali pertama dalam lebih dari 20 tahun terakhir, semangat Ajax hidup lagi.

Ajax mengakhiri musim 2016/17 dengan status sebagai runner-up Liga Europa dan Eredivisie Belanda. Penampilan prima mereka di kedua ajang itu mendorong ekspektasi para fans untuk menantang masa depan. Sayangnya, harapan itu berakhir seiring kepindahan Bosz ke Dortmund.

SIMAK JUGA: Sensasi Semalam Ajax

Menurut De Telegraaf, keputusan Bosz pindah bukan semata karena mendapat tawaran atau nilai kontrak yang lebih baik. Awalnya, Bosz ingin bertahan dan melanjutkan proyek Ajax yang baru berlangsung 12 bulan. Namun, gagasan dan ide kepelatihan Bosz rupanya tak selamanya didukung oleh staf kepelatihan seperti Dennis Bergkamp, Carlo l'Ami, Hennie Spijkerman, dan Bjorn Rekelhof. Bosz dan asisten kepercayaannya, Hendrie Kruzen, praktis seperti berjalan sendiri.

Gairah Bosz terhadap sepakbola tak terukur. Semasa masih merintis karier sebagai pemain, dia pernah membeli tiket terusan Ajax hanya untuk dapat menonton penampilan Johan Cruyff dkk dari pertandingan ke pertandingan. Dia juga mengkliping artikel serta kutipan Cruyff ke dalam sebuah buku catatan khusus.

Saat melatih, Bosz selalu meluangkan waktu untuk mengevaluasi penampilan tim dengan menyaksikan rekaman video pada malam dan pagi hari setelah pertandingan. Kemudian, pelatih 53 tahun itu mengumpulkan tim untuk menganalisis hasil temuannya dan memperbaiki kekurangan. Terkadang, alih-alih terus-terusan dievaluasi, metode ini tidak cocok bagi pemain yang hanya butuh dorongan berupa kalimat motivasional.

SIMAK JUGA: Transformasi Ajax Mulai Tampakkan Hasil

Kini, Ajax harus mencari pengganti sepadan bagi Bosz. Kerugian terbesar Ajax terletak pada kecermatan Bosz dalam merekrut pemain. Kecermatan juga ditunjukkan Bosz dengan merevitalisasi peran Nick Viergever, Daley Sinkgraven, dan Lasse Schone dalam tim.

Nilai positif lain, Bosz memberi kesempatan kepada banyak pemain muda untuk tampil debut. Mulai dari Matthijs de Ligt, Deyovaisio Zeefuik, Donny van de Beek, Carel Eiting, Frenkie de Jong, Pelle Clement, Abdelhak Nouri, Kasper Dolberg, dan Justin Kluivert. 

Meski memang harus diingat juga, di satu sisi, Bosz seperti meminggirkan peran pemain muda era De Boer seperti Riechedly Bazoer, Mitchell Dijks, Jairo Riedewald, dan Kenny Tete.

SIMAK JUGA: Debut Indah Pemain Muda Ajax

Bagi Bosz, kesempatan Dortmund tidak datang dua kali. Tantangan Dortmund otomatis bakal dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan seperti saat melatih Ajax. Dortmund menjadikan Bosz prioritas utama setelah memutus kerja sama dengan Tuchel. Penampilan Ajax di Liga Europa berhasil menjadi etalase Bosz dalam meningkatkan nilai jual.

Kehadiran Bosz dinilai dapat melanjutkan tradisi permainan counter-pressure yang diperagakan Dortmund pada era Tuchel dan Jurgen Klopp. Banyak bintang muda Dortmund yang siap naik kelas. Julian Weigl, Emre Mor, Felix Passlack, Alexander Isak, Ousmane Dembele, dan Christian Pulisic akan menjadi amunisi bertenaga buat Bosz musim depan.

Bosz belum pernah meraih gelar apapun sepanjang 17 tahun karier kepelatihan. Bahkan, Ajax menjadi klub besar pertama yang pernah dilatihnya. Tantangan lain adalah menjalin keharmonisan dengan CEO Hans-Joachim Watzke dan direktur olahraga Michael Zorc. Ingat, Tuchel terpental karena konflik dengan dua petinggi klub itu.

Sebesar apapun tantangan yang dihadapi, Bosz menandai acara perkenalan diri sebagai pelatih baru Dortmund dengan narasi yang selalu diyakininya di setiap klub yang dilatih.

"Saya ingin meraih sukses dan memainkan sepakbola indah," tegasnya.

 

Tutup