Giovanni Reyna Borussia Dortmund 2019-20Getty Images

Borussia Dortmund Agendakan Gelar Laga Legends Pasca-Pandemi Corona

Borussia Dortmund mempunyai daya pikat tersendiri bagi pencinta sepakbola berkat keberadaan sederet bintang muda bermasa depan cerah dalam skuad Die Schwarzgelben.

Tidak heran kalau raksasa Bundesliga Jerman ini didukung basis fans besar di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali Asia. Dortmund memiliki banyak penggemar di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Singapura, juga India.

Nah, di negara yang disebut terakhir itulah suporter Dortmund mungkin berkesempatan melihat langsung aksi para pemain legendaris klub secara langsung. Die Borussen mengagendakan tur skuad Legends mereka saat pandemi virus corona mereda.

Suresh Letchmanan selaku Managing Director Dortmund wilayah Asia Pasifik menegaskan, ini bukan rencana dadakan klub untuk mengeruk profit setelah terimbas wabah COVID-19, melainkan sudah masuk agenda sejak awal.

"Saya tak akan mengatakan faktor krisis [corona] ini yang membuat kami berfokus pada aktivitas komersial. Aktivitas fans selalu menjadi prioritas. Inilah BVB. Kami telah mengorganisis banyak aktivitas untuk fans di India hingga Mongolia sampai Kamboja dan ini tak akan berubah," tutur Letchmanan.

"Untuk pasar India kami telah berencana memainkan pertandingan legenda, tapi ini tidak mungkin terlaksana dalam situasi sekarang. Namun saya yakin kami akan memenuhi kewajiban mendatangkan tim ke India. Sepakbola tengah berkembang pesat di India. Kami juga memiliki kerja sama Evonik dengan W1 Sports yang berfokus membangun sepakbola akar rumput di India dan memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk memainkan gaya sepakbola BVB."

"Saat ini Tiongkok, Jepang, dan Singapura adalah pasar kunci. Kami punya kantor di Tiongkok dan Singapura, yang membantu kami melaksanakan aktivitas on-ground."

"India pastinya adalah pasar yang selalu kami coba kembangkan. Begitu kami mendapat izin, kami akan langsung memulai perencanaan untuk mewujudkan kesempatan bagi para legenda untuk bermain di salah satu kota India. Saya yakin ini akan menjadi event yang menarik," urainya.

Dortmund kesohor sebagai tim yang piawai merekrut bakat-bakat terbaik di usia belia dan mengubah mereka menjadi bintang top yang nyaris seketika langsung mengundang ketertarikan dari klub-klub besar lain di Eropa.

Apa resep rahasia Die Borussen? Benedikt Scholz, Kepala Bisnis Internasional Dortmund, menyebut krisis finansial klub pada 2005 adalah salah satu alasan kunci di balik kebijakan transfer mereka saat ini.

Lima belas tahun silam BVB terlilit utang hingga mencapai lebih dari 100 juta euro dan kesulitan membayarnya. Karenanya, peralihan kebijakan dari mendatangkan pemain bintang jadi fokus pada pengembangan talenta belia bisa dibilang sebagai sebuah keharusan, bukan pilihan. Namun, pendekatan baru ini berjalan sangat baik dalam jangka panjang dan akhirnya menjadi sinonim dengan Dortmund.

CEO Hans-Joachim Watzke memainkan peran vital dalam memimpin Dortmund lepas dari jerat kesulitan finansial. Benedikt mengklaim kontinuitas kepemimpinan di hierarki klub dan keyakinan pada pemain-pemain muda menjadi kunci kesuksesan Dortmund di bursa transfer.

Giovanni Reyna Borussia Dortmund 2019-20Getty Images

"Saya pikir kombinasi beberapa faktor berbeda, salah satunya krisis finansial yang dialami klub pada 2005. Tak ada uang yang bisa digunakan untuk membeli bintang-bintang besar dan pemain-pemain yang sudah punya pengalaman bermain di level top di Eropa. Menjadi sebuah keharusan untuk fokus pada pemain-pemain muda yang punya kapasitas untuk menembus tim utama," kata Scholz.

"Ada kontinuitas di klub di level atas. Tn [Reinhard] Rauball sudah bertahun-tahun menjadi presiden. CEO kami [Hans-Joachim] Watzke juga menjabat CEO saat krisis finansial dan dia membantu klub melewatinya. Kami memiliki Michael Zorc sebagai direktur olahraga dengan masa jabatan terlama di klub Bundesliga mana pun. Kami juga punya Lars Ricken, mantan pemain yang menjabat kepala akademi muda."

"Dua faktor ini membuat kami bisa berfokus pada talenta-talenta muda dan memberikan mereka kesempatan di lapangan. Lihat Jadon Sancho sebagai contoh. Dia datang dari Manchester City dan masuk tim utama hanya setahun setelah ia bergabung. Ini bukan hal yang bisa diberikan kebanyakan klub top Eropa kepada pemain-pemain muda."

"Ini membuat kami menjadi opsi yang atraktif bagi pemain-pemain muda berbakat seperti Jude Bellingham, yang bergabung baru-baru ini dan Giovanni Reyna, talenta Amerika Serikat kami yang menembus tim utama musim lalu."

Borussia Dortmund goalkeeper Roman WeidenfellerGetty

Apakah penjualan pemain-pemain muda top ini setelah satu-dua musim mereka melejit mengerdilkan kans Dortmund bersaing di jalur juara Bundesliga maupun Liga Champions? 

“Kami tidak merasa kami melemahkan peluang kami di Liga Champions dengan menjual pemain. Dalam sedekade terakhir cuma sekali kami absen di Liga Champions. Kami berhasil mencapai babak 16 besar [musim ini] tapi kemudian kompetisinya jadi semakin sulit," tutur Scholz.

"Kami tak peduli tentang usia pemain. Kami tak peduli apakah Jadon Sancho berumur 19 atau 21 atau 27 tahun, kalau dia pemain bagus, dia akan bermain. Ini adalah salah satu cara di mana kami bisa meyakinkan pemain-pemain muda untuk bergabung ke klub kami."

"Kami tidak membeli superstar, kami membeli pemain-pemain muda dan mengubah mereka menjadi superstar. Dan kami melakukannya dengan baik. Kami tidak merasa melemahkan tim dengan harus menjual pemain."

Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google