Giovanni Reyna Borussia Dortmund 2020-21Getty

Cerita Di Balik Layar Bersama Trio Darah Muda Borussia Dortmund: Bellingham, Reyna & Moukoko

Youssoufa Moukoko dan GIovanni Reyna asyik bermain video game FIFA, sementara Jude Bellingham menunggu giliran sambil leyeh-leyeh di sofa di ruang keluarga rumahnya di Dortmund. Pemandangan seperti ini hanya satu dari sekian banyak cerita kebersamaan ketiganya saat tidak sedang bertanding dalam jersey Borussia Dortmund.

"5-3, selesai," tukas Reyna setelah mengalahkan sang rekan.

"Hah? Aku kan sengaja mengalah," balas Moukoko.

Dan kita dapat mengintip rahasia di balik chemistry brilian mereka yang kerap kali kita saksikan di lapangan.

Ibunda Bellingham, Denise Bellingham, sengaja terbang dari Inggris untuk menemani putranya beradaptasi di Jerman. Di usia baru 17 tahun, pada musim debutnya di Dortmund, Bellingham telah mengoleksi 23 penampilan dan mengumpulkan 1251 menit bermain. Ini bisa melahirkan tekanan berat bagi seorang youngster dan kehadiran sang ibu melegakannya.

"Saya sangat bersyukur atas keberadaannya. Dia melakukan segalanya untuk saya dan rasa terima kasih saya tidak akan bisa cukup membalas semua yang dilakukannya," kata Jude dalam wawancara eksklusif dengan DAZN.

Sejak dirinya masih kecil, keluarga Bellingham sudah dapat mengira ia ditakdirkan menjadi pemain besar. Oleh karena itu, transisi dari Inggris ke Jerman sama sekali tidak mengganggu mereka. Justru Denise ingin senantiasa berada di samping anaknya agar saat situasi menjadi sulit, ia bisa membantu Jude melewatinya bersama-sama.

"Saya merasa gelisah untuknya karena Anda tahu bagaimana pers bisa sangat keras, begitu pula publik. Saat segalanya berjalan lancar, luar biasa, tapi ketika situasinya tidak baik... Jadi ya, saya selalu cemas tentang itu. Dan saya pikir itu wajar saja sebagai orang tua. Memang begitu," jelas Denise.

Gio Reyna

Jude memiliki adik laki-laki bernama Jobe yang juga mencuri atensi di Birmingham dengan bakat sepakbolanya. Berat baginya untuk berpisah dari sang adik dalam waktu lama, tetapi ia siap membuat pengorbanan ini agar suatu saat kelak bisa diperhitungkan sebagai salah satu pemain terbaik di dunia.

"Dia telah melangkah jauh untuk pemain seusianya, jauh sekali. Dia tahu apa yang diinginkannya, memiliki ide jelas tentang bagaimana ia ingin berperforma, ingin selalu lebih baik setiap hari," ucap Otto Addo, asisten pelatih BVB.

"Dia juga salah satu pemain yang mendatangi saya atas kehendak sendiri dan meminta analisis video atau menanyakan tentang laga sebelumnya dan apakah kami bisa menganalisisnya lagi, atau apakah saya sudah menganalisisnya, untuk menunjukkan kepadanya apa yang telah dilakukannya dengan bagus dan di bagian mana dia bisa lebih baik lagi," imbuh Addo.

Sementara, Moukoko harus merantau dari Kamerun sejak usia belia. Di umur sepuluh, ia terbang ke Jerman dan mulai menetap di Hamburg bersama ayahnya. Ia datang mengenakan sepatu kets pada hari pertama di akademi St. Pauli dan berhasil diterima.

Walau terbiasa menjadi pemain andalan di kategori junior, Moukoko memahami jalan hanya akan menjadi semakin terjal seiring peralihan menuju level senior.

"Semua orang memiliki pengalaman sendiri-sendiri. Saat mencapai level atas, Anda mesti mengantre, karena segala sesuatunya tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Anda harus bekerja keras. Ini sedikit sulit karena di tingkat sebelumnya Anda selalu bermain, tapi kemudian Anda naik kelas dan tidak bermain sesering dulu. Itu sulit," kata sang wonderkid.

Adapun Reyna berada dalam situasi unik. Ayahnya, Claudio Reyna, adalah mantan gelandang yang melakoni karier cemerlang di Eropa, memperkuat tim-tim seperti Bayer Leverkusen, VfL Wolfsburg, hingga Manchester City dan Sunderland. Sedangkan sang ibu, Danielle Egan, mengemas enam penampilan untuk tim nasional wanita Amerika Serikat.

Namun, tidak seperti Moukoko dan Bellingham, Reyna harus tinggal sendirian di Jerman, sesuatu yang diakuinya tidak mudah.

"Sekarang sudah enam pekan saya sendiri. Ya, ini berat. Saya rasa kalau Anda bisa bertanya kepada pemain-pemain muda lain... maksud saya, Jude misalnya, dia di sini bersama ibunya, jadi saya rasa salah satu dari sedikit pemain yang benar-benar tinggal sendiri," tutur Reyna.

Untuk menangani situasi seperti ini, BVB mempekerjakan psikolog olahraga dalam diri Phillip Laux, yang membantu para youngster melewati fase-fase sulit.

"Ketika sebuah karier seperti ini dimulai dan berjalan baik, sering kali mereka tak punya waktu untuk berefleksi. Laga-laga datang secara cepat, sementara waktu istirahat, saat mereka menjadi pemain internasional, sangat singkat. Tak ada waktu untuk berefleksi. Kemudian ada liburan dua minggu dan segala sesuatunya berulang lagi," urai Laux, yang telah bekerja mendampingi Reyna sejak ia pertama bergabung dengan BVB.

"Fase-fase seperti itu, ketika segala sesuatunya tidak berjalan baik, saat karier menemui jalur terjal, sesungguhnya itu memberikan Anda kesempatan untuk berefleksi, untuk memproses beberapa hal. [Contohnya] Apa yang telah terjadi sejauh ini? Seberapa besar kepribadian saya telah berkembang? Apa yang penting untuk langkah berikutnya dalam karier saya?"

Youssoufa Moukoko and Gio Reyna

Reyna sangat akrab dengan Bellingham karena keduanya sama-sama penutur bahasa Inggris. Kendati di lapangan bahasa sepakbola lebih dominan, mesti diakui bahwa di luar itu kesamaan bahasa ibu membuat Anda terasa lebih dekat dengan kampung halaman.

"Saat saya pertama datang ke klub, dia mungkin orang pertama yang merangkul dan menjaga saya. Saat saya tiba di sini, jelas hanya bisa bahasa Inggris, bertemu teman sebaya dan Anda tahu, dia orang yang sangat tenang. Dia sangat rendah hati dan membumi, menyenangkan, dan dia tipe karakter yang Anda inginkan dalam tim Anda," cerita Bellingham tentang persahabatannya dengan Reyna.

Addo merasa trio darah muda BVB ini berada di jalur tepat dan tidak mengecewakan, meskipun mereka masih membuat kesalahan-kesalahan dalam proses pembelajaran ini. Sedari awal rencana klub memang membiarkan mereka bebas berekspresi di lapangan dan terus melakukan hal-hal tepat terlepas dari jatuh-bangun yang dialami.

Bersama Addo, Sebastian Geppert juga dipromosikan dari tingkat junior untuk naik sebagai asisten pelatih tim utama supaya para pemain belia ini dapat terus bekerja sama dengan wajah-wajah familiar. Geppert sudah membantu Moukoko sejak hari-hari pertamanya di Dortmund dan ia turut bersuka cita saat si youngster membuat debut di Bundesliga sebagai pemain termuda sepanjang sejarah.

"Saya lega Geppi di sini," kata Moukoko tentang Geppert. "Kami sangat mengenal satu sama lain. Dia seperrti figur ayah, di tim junior juga begitu. Hubungan kami ibarat ayah dan anak dan hingga kini masih tetap demikian.

Moukoko menjadi sensasi di belantika sepakbola junior Jerman setelah mengukir sederet rekor mencengangkan, namun bermain di pentas senior membutuhkan ketenangan sekaligus kesabaran lebih.

"Minimalisir kehilangan bola sesedikit mungkin. Dia masih terlalu sering kehilangan bola dalam laga-laga dan juga di sesi latihan. Terutama dalam situasi di mana kami bersiap menerapkan pressing, misalnya, dia ingin langsung saja melakukannya. Kami ingin merebut bola dan dia harus menunggu momen yang tepat, jadi mungkin dia harus belajar sedikit lebih sabar, menunggu tanda-tanda yang tepat, momen-momen tepat," demikian penilaian Geppert.

Trisula remaja ini mengerti, di puncak performa, mereka punya kekuatan untuk mengalahkan tim mana pun. Seiring waktu, mereka bahkan bisa menaklukkan dunia dalam beberapa musim ke depan kalau mereka tetap menundukkan kepala dan terus bekerja keras seperti saat ini.

Kami bertanya, apa yang ingin engkau raih?

"Segalanya," tegas Moukoko tanpa keraguan sedikit pun.

Lebih dari sekadar sepakbola, kemitraan Evonik dan Borussia Dortmund juga dibangun untuk hal-hal lainnya. Cari tahu lebih lanjut di gobeyondfootball.com

Iklan