OLEH ERIC NOVEANTO Ikuti di twitter
Mantan bintang Bayern Munich, Bixente Lizarazu mendeskripsikan penggunaan teknologi video asisten wasit (VAR) seperti melakukan seks tanpa kepuasan.
Komentar nyentrik tersebut disampaikan Lizarazu kala menanggapi adanya gol AS Monaco yang dianulir secara kontroversial dalam laga final Coupe de la Ligue kontra Paris Saint-Germain, Minggu (1/4) kemarin.
Monaco gagal meraih trofi juara setelah mengakui keunggulan PSG dengan skor telak 3-0. Tapi laga tersebut menjadi sorotan karena adanya keputusan VAR yang dianggap merugikan Monaco.
Gol pembuka PSG yang dicetak Edinson Cavani juga hadir berkat tinjauan VAR, yang mengubah keputusan awal wasit Clement Turpin sebelum menengok tayangan ulang pelanggaran melalui monitor.
AFP/GettyLalu ada gol Radamel Falcao bagi Monaco yang dianulir saat skor 2-0, yang menurut banyak pihak sebenarnya hal tersebut masih bisa diperdebatkan kendati ada tayangan VAR.
Kejadian tersebut lantas membuat Lizarazu, yang pernah memenangkan trofi Piala Dunia dan Euro bersama Prancis, memahami kekesalan yang dirasakan fans Monaco."VAR itu seperti seks tanpa kepuasan. Pada saat momen perayaan gol, seperti diminta untuk terdiam, itu yang saya rasakan di stadion," ujar pria berusia 48 tahun tersebut kepada Telefoot.
"Fans menjadi tidak berpartisipasi dalam hal apa pun, seolah-olah mereka tidak penting. Suporter ingin berpartisipasi di dalam pertunjukkan laga, tapi dibatasi."
"Seharusnya penggunaan video itu dilakukan lebih baik. Harus lebih bisa memberi penjelasan kepada siapa pun, di dalam stadion mau pun televisi. Kita semua punya bagian dalam permainan."


