Daan Rots paham alasan Míchel masih mencadangkan Abdellah Ouazane di Ajax. Penyerang FC Twente itu menilai pelatih asal Spanyol tersebut lebih suka menempatkan pemain yang lebih disiplin dalam menjalankan tugas di posisi sayap kiri.
Míchel memilih Oscar Gloukh dan Oliver Edvardsen sebagai sayap kiri Ajax dalam dua laga terakhir. Edvardsen tampil di bawah standar saat menghadapi Fortuna Sittard pada Sabtu, sehingga Ouazane mendapat kesempatan tampil sebagai pemain pengganti. Setelah itu, Ajax melesat menuju kemenangan 1-5.
Rots merupakan pengagum Ouazane dan melihat langsung aksi pemain sayap itu musim lalu di Divisi Dua Belanda. "Saya berada di stadion saat De Graafschap melawan Jong Ajax. De Graafschap menang, tetapi saat itu memang agak seperti one-man show," kata pemain Twente itu dalam Goedemorgen Eredivisie.
"Dari dirinya, Anda bisa langsung melihat bahwa dia sudah siap untuk melangkah ke tahap berikutnya, atau ke level yang lebih tinggi. Dia melewati dua pemain lalu dihentikan oleh pemain ketiga. Semua itu seperti tidak terlalu berarti, dia tetap saja melewati lawannya. Saat itu usianya enam belas tahun. Ouazane benar-benar punya kualitas."
Mario Been merasa tidak masuk akal Edvardsen lebih dipilih daripada Ouazane. Presenter Milan van Dongen langsung menunjuk pada disiplin winger asal Norwegia itu. "Ikut bertahan, menjaga lebar permainan. Hal-hal semacam itu."
"Semua orang berpikir: pemain yang harus dimainkan adalah yang bisa melakukan tiga kali step-over. Tetapi kalau Anda benar-benar paham sepak bola, seperti pelatih Ajax itu, maka Anda mengerti: jika Anda punya pemain yang sangat kreatif di posisi nomor sepuluh, maka di sisi lapangan lebih baik punya pemain yang disiplin menjalankan tugas," bela Rots terhadap pilihan pelatih Ajax tersebut.
"Pelatih Ajax melihat itu, dan sangat banyak fans Ajax tidak. Mereka sangat ingin melihat Ouazane, tetapi tentu saja Anda harus mempertimbangkan apa yang terbaik untuk tim Anda," demikian winger Twente itu menutup analisisnya soal posisi sayap kiri Ajax.



