Quinn CanadaGetty Images

Bintang Kanada Quinn: Atlet Transgender Pertama Dalam Sejarah Olimpiade

Ada banyak diskusi di beberapa sudut media sosial dan media umum mengenai kehadiran atlet transgender di Olimpiade 2020 yang sedang berlangsung di Tokyo.

Namun di luar pantauan, atlet transgender pertama telah membantu negara mereka dalam upaya memburu medali selama sepekan terkahir. Bintang sepakbola, Quinn telah membantu Kanada melaju ke perempat-final turnamen sepakbola wanita, di mana mereka akan menghadapi Brasil, Jumat (30/7) esok.

Pemain berusia 25 tahun itu merupakan bagian penting dari tim wanita Kanada, yang piawai bermain sebagai bek tengah atau gelandang bertahan, dan telah memiliki 65 caps untuk negaranya. Memang belum sebanding dengan catatan 301 caps milik kapten tim, Christine Sinclair, namun perannya tetap signifikan.

Mereka berdua adalah bagian dari tim Kanada yang sukses meraih medali perunggu di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, serta juga tim yang berlaga di Piala Dunia Wanita 2019.

Sang pemain OL Reign, klub Amerika Serikat (AS), kini mendapat perhatian khusus karena statusnya sebagai atlet transgender pertama sejak perubahan aturan di Olimpiade pada 2004 yang memungkinkan atlet untuk ambil bagian dalam cabang olahraga berdasarkan gender terkini, meski pun harus melewati prosedur yang ketat.

Sebenarnya ada beberapa atlet transgender di Olimpiade kali ini, tapi berkat turnamen sepakbola yang berlangsung lebih awal maka Quinn mencatatkan namanya di buku sejarah sebagai yang pertama, mendahului atlet angkat besi transgender, Laurel Hubbard dan pemain skateboard Alana Smith.

Menulis di Instagram setelah bermain imbang 1-1 dengan tuan rumah Jepang di pertandingan pertama Kanada, Quinn mengatakan: "Atlet transgender pertama di Olimpiade yang bertanding. Saya tidak tahu bagaimana rasanya."

"Saya merasa bangga melihat [nama] 'Quinn' di susunan pemain dan akreditasi saya. Saya merasa sedih mengetahui ada atlet [transgender] Olimpiade sebelum saya yang tidak bisa hidup dalam kebenaran karena dunia."

"Saya merasa optimistis akan perubahan. Perubahan legislatif. Perubahan aturan, struktur, dan pola pikir. Sebagian besar, saya merasa sadar akan kenyataan. Wanita transgender dilarang berolahraga. Wanita trans menghadapi diskriminasi dan bias ketika mencoba mengejar impian Olimpiade mereka. Pertarungan belum berakhir, dan saya akan merayakannya saat kita semua di sini."

Quinn, yang sebelumnya juga bermain untuk Washington Spirit serta di klub Prancis dan Swedia, mengumumkan dirinya sebagai ransgender pada September tahun lalu, menghapus nama sebelumnya dan meminta hanya dipanggil dengan nama keluarga aslinya.

Dengan secara terbuka mengumumkan perubahan status yang sudah diketahui lebih dulu oleh keluarga dan teman-temannya, Quinn mampu membuang apa yang mereka sebut "pada dasarnya dua kehidupan yang berbeda [pria menjadi wanita]".

Katanya kepada BBC pada November lalu: "Sangat sulit ketika Anda tidak melihat orang-orang seperti Anda di media atau bahkan di sekitar Anda atau dalam profesi Anda. Saya bergerak di ruang menjadi menjadi pesepakbola profesional dan saya tidak melihat orang seperti saya."

"Saya benar-benar tidak suka merasa seperti saya memiliki keterputusan antara berbagai bagian hidup saya, menjadi figur publik, jadi saya ingin hidup secara otentik."

Sebagai pemain transgender paling terkenal di dunia sepakbola - pria, wanita atau non-biner - Quinn tidak menghindar dari perhatian yang secara alami datang, mengenakan hoodie bertuliskan 'Lindungi Anak-anak Trans' sebelum pertandingan Reign, dan mengungkapkan keprihatinan mereka tentang kebijakan trans-eksklusif dari badan pengatur olahraga lainnya sebelum membuat sejarah di Olimpiade.

"Saya pikir ini benar-benar memprihatinkan," katanya tentang larangan World Rugby pada atlet transgender, atau juga aturan ketat World Athletics tentang kadar testosteron, yang telah membuat beberapa atlet wanita - termasuk Caster Semenya - secara efektif dilarang berkompetisi.

"Saya pikir kita perlu fokus pada mengapa kita berada dalam olahraga di tempat pertama dan perayaan keunggulan tubuh kita. Saya hanyalah orang lain yang melakukan hal yang saya sukai dan saya mendapatkan hak istimewa untuk melakukan itu setiap hari di lapangan."

Dengan kehadiran Quinn di lini tengah, Kanada telah membuat perkembangan solid hingga mampu lolos ke babak gugur turnamen sepakbola wanita, bermain imbang dengan Jepang dan Great Britain serta menang atas Chile untuk menyegel posisi kedua di grup.

Begitulah dampak permainan Quinn, dan keberadaannya saat ini bisa saja menjadi pembuka gerbang bagi lebih banyak atlet atau khususnya pesepakbola transgender di masa depan.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0