Daniele De Rossi mengatakan bahwa alasannya memilih bergabung dengan Boca Juniors karena mereka memiliki suporter 'paling gila' di sepakbola.
Gelandang 36 tahun tersebut menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama AS Roma setelah naik dari akademi, namun pergi pada musim panas ini secara bebas transfer dan mengundang kecaman dari fans Giallorossi.
Awalnya, sang eks penggawa internasional Italia terlihat akan gantung sepatu, namun Boca kemudian muncul sebagai potensi tujuan berikutnya dalam karier dan De Rossi tak ragu menerima pinangan klub raksasa Argentina tersebut.
De Rossi langsung mendapat sambutan bak pahlawan ketika tiba di Buenos Aires, dan Boca mengonfirmasi perekrutannya pada Kamis (25/7) lalu setelah sang pemain sepakat menerima kontrak 12 bulan.
Senin (29/7), ia diperkenalkan ke hadapan publik dan media dengan didampingi oleh mantan rekan setimnya di Roma yang kini menjabat sebagai direktur olahraga Boca, Nicolas Burdisso.
"Akhir-akhir ini saya merasa ingin berada di dalam stadion ini, untuk mengetahui secara mendalam apa artinya," ungkap De Rossi kepada reporter.
"Sambutan di bandara sangat luar biasa. Saya tidak bisa cukup berterima kasih selain melakukan pekerjaan saya seserius mungkin. Saya harus serius agar bisa menunjukkan bahwa kita semua telah membuat keputusan baik."
"Dari waktu ke waktu kami berbicara, Nicolas dan saya. Pertama, saya mengatakan ya setelah meninggalkan Roma, tapi kemudian saya bertanya kepadanya apakah saya bisa memikirkannya lebih lagi."
"Berusia 36 tahun dan mengubah segalanya sekaligus adalah sesuatu yang bisa menakutkan saya, tapi tempat ini merangsang saya, dan Nicolas adalah jaminan saya."
"Ia mengatakan kepada saya bahwa semua di Boca adalah profesional dan saya memercayainya. Ia adalah teman saya, ia tidak akan membawa saya ke tempat di mana saya tidak cocok."
"Saya butuh orang serius, dengan struktur yang mirip dengan Eropa, dan apa yang sudah saya lihat di sini adalah tempat ini cocok untuk bekerja."
"Saya bertanya kepada diri sendiri berkali-kali. Saya hidup 20 tahun lamanya di negara di mana sepakbola hidup selama 24 jam sehari."
"Saya bisa memilih tempat yang jauh lebih tenang untuk bersantai, tapi saya hanya tahu satu hal: keseriusan, dan kemudian saya memilih datang ke tempat yang punya suporter paling gila di sepakbola," tukasnya.


