Jose Mourinho membuka kepada publik mengenai adanya perbedaan karakter ketika melatih dan di luar lapangan, serta menilai kisah sukses yang ditorehkannya di Manchester United tidak sepenuhnya dihargai.
Selama dua tahun di Old Trafford, Mourinho menganggap ada kesuksesan ketika memenangkan tiga trofi domestik musim 2016/17 termasuk Liga Europa serta finis di belakang Manchester City yang menjuarai Liga Primer Inggris 2017/18 dengan memecahkan rekor 100 poin.
Juru latih 56 tahun asal Portugal, yang punya persentase kemenangan di Liga Primer lebih besar ketimbang Jurgen Klopp, Mauricio Pochettino dan Arsene Wenger, saat ini tengah menjalani masa vakum selepas dipecat United pada Desember lalu dan secara terbuka memberikan wawasan menarik soal karakternya di luar lapangan.
Ditanya Sky Sports mengapa karakter pribadinya berbeda di dalam dan luar lapangan, Mou menjawab: "Itu mungkin salah saya. Saya sangat tertutup. Ketika saya bekerja saya butuh kesendirian."
"Manajer sepakbola dalam beberapa kesempatan adalah sosok yang kesepian. Kesepian dengan pikiran mereka. Kesepian dengan keputusan mereka. Anda bisa punya staf dan orang-orang yang bekerja dengan Anda, tapi kata kuncinya adalah keputusan, hanya ada satu orang yang bertanggung jawab sebagai pengambil keputusan."
"Jadi itu mungkin salah saya karena ada tendensi untuk menutup diri saya dalam sebuah batasan. Kemudian juga salah saya karena orang-orang hanya melihat saya selama 90 menit. Cara Anda bersikap selama pertandingan, cara Anda tampak di kamera. Orang-orang yang melihat saya di jalanan berkata: 'Oh, Anda tampak lebih muda. Oh, saya kira Anda lebih gemuk, Anda tampak lebih langsing. Oh, Anda lebih tinggi, kami kira Anda lebih pendek."
"Jadi saya pikir TV mengubah perspektif."
"Saya adalah saya. Saya tidak berpura-pura. Saya melihat orang-orang berpura-pura. Saya tidak. Segalanya natural. Ketika saya berada di bangku lapangan dan saya tidak melakukan selebrasi gol, itu natural, saya fokus pada apa yang akan datang. Natural ketika saya mengambil botol dan melemparkannya. Natural ketika saya menendang botol. Apa yang Anda lihat, ya itulah. Jika saya punya alasan untuk tersenyum, saya tersenyum. Saya suka tersenyum. Saya tidak bisa menjelaskannya."
Mourinho menyoroti bahwa finis sebagai runner-up Liga Primer musim 2017/18 di belakang rival sekota, City yang sangat superior waktu itu merupakan sebuah pencapaian besar dan ia terkejut dengan banyaknya kritikan yang datang sehingga merasa perjuangannya sejatinya layak mendapatkan apresiasi lebih.
"Saya hanya bisa mengatakan bahwa periode di Manchester United bukan masa yang mudah. Saya selalu merasa bahwa memenangkan Liga Europa itu fantastis dan tidak terlihat seperti itu, dari cara orang-orang menilainya," keluh Mou.
"Finis kedua di Liga Primer juga lebih dari itu [kesukesan], jadi saya merasa sedikit seperti: 'Wow, saya bekerja dengan baik, saya memberikan segalanya dan saya tidak mendapatkan apa yang saya pikir layak saya dapatkan."
"Satu-satunya hal yang bisa saya janjikan kepada Anda adalah ketika saya memiliki klub selanjutnya, proyek selanjutnya, saya akan sangat senang sehingga saya akan pergi ke jumpa pers dengan senyum yang lebar. Itu yang bisa saya janjikan."


