Berdamai Dengan Italia Yang Menjengkelkan

Komentar()
Getty Images
Italia berhasil meraih tiket ke babak 16 besar Euro 2016, lewat permainan yang mungkin bisa disebut menjengkelkan.

Tanpa diduga-duga, Italia berhasil jadi tim kedua -- setelah tuan rumah Prancis -- yang berhasil meraih tiket  ke babak 16 besar Euro 2016. Mereka memastikan hasil positif tersebut, usai menekuk Swedia lewat skor tipis 1-0, Jumat (17/6) dini hari WIB.

Gol tunggal penyerang imigrannya, Eder, dua menit jelang pertandingan berakhir jadi pembeda jalannya laga. Pemain kelahiran Brasil itu melakukannya lewat cara yang sangat menghibur, dengan menggocek bola melewati kepungan empat pemain Swedia, sebelum lepaskan tembakan mematikan.

Gol tersebut sekaligus jadi pengobat hati insiden enam menit sebelumnya, tatkala  tandukan Marco Parolo gagal berbuah gol dengan hanya membentur mistar gawang Swedia.

Namun mari kita berbicara jujur. Tanpa adanya dua peristiwa mendebarkan itu, apakah Anda mampu menemukan sisi menghibur dari laga tersebut? Atau apakah ada di antara Anda yang tak menguap menahan kantuk saat berusaha keras untuk menikmati pertandingan?

Swedia tak pantas disalahkan atas ‘dosa’ tersebut. Mereka butuh kemenangan, mereka bermain begitu ngotot, hingga mampu menguasai jalannya pertandingan.

Tapi sekali lagi, Italia melalui karaktersitik catenaccio-nya, mampu melenyapkan semangat membara sang lawan dengan mengemas laga jadi tampak membosankan dan menjengkelkan.

Italia kontra Swedia berlangsung membosankan

Babak pertama pertandingan ini bahkan mungkin layak ditunjuk sebagai periode paling tak diinginkan sepanjang Euro 2016. Laga berjalan dengan tempo yang sangat lambat, sangat monoton.

Swedia tampil mendominasi dengan penguasaan bola mencapai 59 persen, tapi hanya mampu melepaskan dua tembakan yang tak satu pun tepat sasaran.

Segala usaha  tim asuhan Erik Hamren dalam menyerang, selalu saja mentok pada tembok kokoh Italia yang dibangun oleh trio BBC – Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini. Sang kiper, Gianluigi Buffon, bahkan hanya membuat empat sentuhan tangan terhadap bola.

Meski begitu, Italia sendiri bisa dibilang tak melakukan apapun untuk membalas tekanan. Mereka hanya menciptakan 153 operan dengan akurasi yang sangat rendah, di angka 72 persen, dan melepaskan tiga tembakan yang kesemuanya gagal menemui sasaran.

Duet lini depan Italia, Eder dan Graziano Pelle, secara ajaib tak mampu melakukan sentuhan bola di dalam kotak penalti Swedia. Nama yang disebut terakhir bahkan tak sekali pun memenangkan enam duel perebutan bola yang melibatkan dirinya.

Skor 0-0 merupakan kesimpulan sempurna terhadap apa yang terjadi di sepanjang paruh pertama.

Segalanya sedikit membaik di babak kedua, terutama bagi Italia. Mereka gantian mendominasi permainan, hingga mengikis persentase penguasaan bola Swedia sebanyak tujuh persen.

La Nazionale juga sanggup melepaskan 231 operan dengan akurasi yang jauh membaik menjadi 78 persen, meski 60 persen sirkulasi bola terjadi di sepertiga akhir daerah pertahanannya sendiri.

Tak heran, Italia jadi punya ruang lebih untuk melepaskan tembakan, guna meningkatkan peluangnya mencetak gol. Tercatat lima tembakan berhasil dilepaskan dengan tiga di antaranya tepat sasaran.

Puncaknya hadir lewat aksi magis Eder di menit ke-88. Ia melepaskan tembakan yang menjebol jala Andreas Isaksson usai lolos dari kawalan empat bek Swedia, dengan dibumbui fakta bahwa itulah tembakan tepat sasaran perdana dalam pertandingan!

Usai unggul 1-0, aksi yang jauh lebih menjengkelkan ditampilkan Italia. Dengan tiga menit injury time yang diberikan wasit, sandiwara kelas Hollywood dipertontonkan. Kapten berkharisma, Buffon, bahkan terlibat ketika dirinya tampak berkonflik dengan Chiellini dan Bonucci selama 30 detik, hanya untuk mengeksekusi bola mati hasil offside Zlatan ibrahimovic.

Paling mudah diingat tentu saja aksi licik Simone Zaza dan Antonio Candreva. Memanfaatkan situasi sepak pojok, keduanya ‘sukses’ habiskan waktu satu menit di pojok lapangan berusaha menahan bola diam di tempat dan membenturkannya ke pemain Swedia yang mendekat, sampai tiga kali bolak-balik hasilkan sepak pojok.

Pada akhirnya pertandingan dengan jumlah tembakan ke gawang terendah sejak Euro 1980 ini (12 kali) berhasil dimenangkan oleh Italia. Cara Gli Azzurri meraihnya memang sama sekali tak menghibur dan menjengkelkan, tapi marilah kita berdamai dengan identitas mereka.

Italia tak menyalahi aturan apapun, mereka melakukannya tetap dalam koridor legalitas yang diberlakukan dalam sepakbola. Seperti pernah dibahas, catenaccio, yang tak hanya bertahan tapi dibumbui intrik, adalah filosofi permainan yang membawa mereka ke puncak dunia, Eropa, dan efektivitasnya masih bertahan hingga kini.

Terlebih generasi pemain Italia juga tengah mengalami pengikisan kualitas, sehingga pelatih sekelas Antonio Conte yang begitu memuja sepakbola menyerang,  jadi tak punya banyak pilihan taktik. Catenaccio selalu jadi solusi untuk meraih hasil positif, ketika hal seperti itu terjadi.

Satu hal yang harus kita camkan adalah tim-tim seperti Italia inilah yang membuat sepakbola lebih menarik, menjadi sulit ditebak. Mereka memberikan warna dan pendekatan berbeda, di tengah homogenitas yang samar-samar terbentuk.

Karena jika semua tim bermain dengan indah dan menghibur layaknya Spanyol, hasilnya tentu bisa ditebak dengan mudah ketika melihat komposisi pemain tim yang bertanding bukan?

Lagipula, seperti kutipan terkenal dalam novel “A Song of Ice and Fire” karya George R. R. Martin, “Mereka yang menjengkelkan, biasanya malah jadi pemenang dalam perang.”

 

Tutup