OLEH FARABI FIRDAUSY
FC Tokyo menampilkan kelas mereka ketika mampu melumat kampiun Liga 1, Bhayangkara FC, dengan skor akhir 4-2, akhir pekan lalu. Permainan Tokyo makin hidup setelah munculnya sosok bocah 16 tahun, Takefusa Kubo.
Sepasang gol dijaringkan pemain yang pernah dibina Barcelona itu. Simon McMenemy, pelatih dari Bhayangkara, sampai-sampai menyebut bahwa julukan 'Messi Jepang' untuk Kubo adalah sebuah hal yang pantas diberikan.
"Tidak adil jika mengatakan kualitas pemain kita di bawah Jepang. Secara kualitas dan teknik sebenarnya tidak ada yang berbeda, tapi mereka menerapkan pembinaan mereka dengan sangat benar untuk memaksimalkan potensi dari para pemain mereka," buka McMenemy.
(C)Getty Images for DAZN"JFA [federasi sepakbola Jepang] sangat berkomitmen dalam pembinaan, bahwa mereka melakukan terobosan dalam memaksimalkan pembinaan mereka. Anda bisa lihat hasilnya dari pemain yang masuk pada babak kedua [Kubo], dia sangat berkualitas, pemain yang sungguh luar biasa, julukan Messi adalah hal yang wajar untuk dia."
Aksi dari Kubo seakan jadi peringatan tersendiri untuk sepakbola Indonesia, yang tengah giat 'menjebloskan' klub untuk terus memainkan pemain muda. Hal itu digeber sejak Liga 1 2017 lalu, di mana setiap klub wajib memainkan pemain U-23 dalam tiap pertandingan.
Regulasi demikian memang menjadi jalan pintas dari Indonesia yang klubnya tidak punya akademi berstruktur dan tak ada kompetisi jelas untuk pemain muda. Namun, Kenta Hasegawa selaku pelatih Tokyo juga menerangkan bahwa menit bermain untuk pemain muda bakal jadi kunci kemunculan generasi berkualitas.
Goal / Abi Yazid"Kunci yang sangat penting dari kami adalah harus memainkan pemain muda walaupun ada risikonya untuk tim. Karena pemain muda memang kurang pengalaman, terkadang melakukan kesalahan yang fatal untuk tim," ucap pelatih yang pernah menjuarai J.League 2014 bersama Gamba Osaka itu.
"Meski ada risiko itu, kami harus tetap berani memainkan dia. Kegagalan dari pemain muda itu akan jadi pengalaman yang sangat berarti untuk dia dan nantinya untuk kami [tim]," imbuh Kenta.
Jika membandingkan pembinaan akar rumput dan terobosan yang sudah dilakukan JFA, Indonesia kesulitan untuk mengejar. Menurut Kenta, pendekatan pembinaan yang harus dilakukan akan berbeda, tergantung kultur negara tersebut.
"Mungkin karena saya sendiri kurang tahu sifat dari orang Indonesia, jadi saya tidak bisa kasih saran yang detail untuk kalian. Tapi seperti yang saya bilang tadi, kalau pemain muda Indonesia jangan takut salah dan harus selalu agresif. Harus latihan secara rutin secara keras," bebernya.
"Di Jepang saya sering dikatakan sebagai pelatih yang gemar memainkan pemain muda, sebenarnya saya juga takut memainkan pemain muda, mungkin pelatih di Indonesia harus juga rajin memainkan pemain muda Indonesia supaya potensi mereka terbuka. Pengalaman dari sebuah kesalahan akan sangat berarti untuk pemain muda," pungkas pria 52 tahun itu.




