Chelsea cuma bisa menang dua kali dari enam laga Liga Primer Inggris terakhir, dengan badai cedera serta wabah Covid-19 menjadi sumber masalah utama.
Kendati begitu, mari kita menilik sudut pandang alternatif: seorang Thomas Tuchel harusnya dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap situasi nestapa ini.
Juru taktik asal Jerman itu pantas turut disalahkan atas menurunnya performa Chelsea, ironisnya, karena ia terlalu sering mengutak-atik starting XI tanpa memodifikasi strategi mereka secara keseluruhan.
Saat Tuchel tiba di Stamford Bridge, ia dikenal sebagai manajer overthinking yang hobi gonta-ganti formasi.
Ia bakal memformulasikan rancangan kompleks untuk mengebiri ancaman lawan dan menusuk titik lemah mereka, kadang sampai senjata makan tuan saking kompleksnya. Yang jelas, ia jarang berpuas diri, tidak takut menggunakan formasi nyeleneh demi menemukan solusi mujarab.
Anehnya, selama 11 bulan pertama sebagai manajer The Blues, tak sekalipun ia mengubah skema tiga bek. Hingga saat ini, hasil imbang 0-0 versus Wolves 24 jam setelah pengangkatannya sebagai pelatih Chelsea adalah satu-satunya laga di mana ia menggunakan empat bek.
Tuchel gagal beradaptasi?
Secara keseluruhan, formasi 3-4-2-1 dilengkapi dengan lebih banyak pemain bertahan ketimbang 4-3-3 atau 4-2-3-1.
Meski Antonio Rudiger bertindak sebagai semi-penyerang dengan pergerakannya yang menusuk serta tak habis-habisnya wing-back Chelsea naik-turun, sang juara Eropa bisa dibilang tak punya pemain kreatif sebanyak pesaing mereka.
Getty/GOALSalah satu masalah terbesar Chelsea adalah mereka terlalu teratur. Pergerakan The Blues kaku, dengan kerangka formasi yang ketat dan kurang kebebasan berekspresi secara kreatif, problema yang diperparah dengan kurang produktifnya lini depan mereka.
Total angka harapan gol atau expected goal (xG) Chelsea hanya sebanyak 33,8, jauh lebih sedikit ketimbang pesaing mereka dan bahkan lebih sedikit dari Arsenal di peringkat keempat.
Chelsea terlalu sering memenuhi area pertahanan lawan dan melakukan pertukaran umpan tanpa mampu melakukan penetrasi. Dengan hanya diperkuat dua gelandang tengah, vertikalitas ke depan jadi amat minim.
Tuchel bisa jadi belum beradaptasi dengan Liga Primer, yang memaksa klub sebesar Chelsea mendominasi penguasaan bola. Terkadang ini juga menjadi sumber masalah saat ia menangani Paris Saint-Germain, tetapi ia diselamatkan oleh superioritas teknik pemain.
Sebelum hijrah ke Prancis, Tuchel berkarier di Jerman, yang menjadi lahan basah untuk permainan serangan balik; menembus pertahanan lawan dengan sepakbola vertikal yang menusuk.
Sebagai manajer klub selevel Chelsea, tak ada ruang untuk menggunakan taktik serangan balik melawan tim yang lebih lemah di atas kertas, dan setelah diimbangi Wolves dan Everton yang bermain ultra-defensif, ini akan menjadi masalah besar di kemudian hari.
Pakai 4-2-3-1 supaya lebih 'lemas'
Formasi 3-4-2-1 racikan Tuchel menuntut struktur kaku di mana pemain bergerak seirama dengan atau tanpa bola.
Selain itu, tugas mengalirkan bola memang dibagi antara tiga bek dan dua gelandang di tengah, tetapi aliran tersebut mampet begitu tiba di pertahanan lawan.
Romelu Lukaku diharapkan bisa menjadi striker yang rajin turun untuk menjemput bola dan bekerja sama dengan dua penyerang di sampingnya, tetapi hasilnya kurang memuaskan dan justru sempat menjadi sumber masalah.
Getty/GOALBerganti ke 4-2-3-1, dengan Mason Mount bertindak sebagai penyambung lini tengah dengan trisula di depan, bakal membuka ruang untuk aliran bola ke depan, sehingga menghindari skenario di mana lawan bertahan sangat dalam dan menyerap pressing.
Dampak terusan dari perubahan ini bisa meringankan tugas bek meski kehilangan satu personil karena tak terlalu terbebani tugas aliran bola, dan bisa lebih sedikit membuka permainan serta mendapatkan ruang untuk melakukan transisi.
Laga yang lebih terbuka justru bisa membuat pemain-pemain Chelsea lebih rileks, lemas, dan terbebas, serta tak perlu terlalu mengandalkan penguasaan teritori.
Butuh starting XI konsisten
Agak tidak adil jika menyoroti perubahan starting XI yang Tuchel lakukan, mengingat ia terpaksa karena badai cedera di tubuh skuad Chelsea.
Namun, masalah ini sudah ada sejak awal musim, karena problema mencetak gol mereka bukan cuma struktur kaku versus kebebasan atau soal formasi saja.
Chelsea seolah hhilang arah, perlahan tenggelam seiring dengan lenyapnya pola permainan dan ketidakmampuan menjaga ritme permainan.
Getty/GOALTuchel selalu mengganti starter Chelsea sepanjang musim, total selama empat bulan dan 27 laga, starting XI The Blues selalu berubah-ubah.
Trisula yang sama cuma bermain berturut-turut selama beberapa kali saja; seolah tak ada yang benar-benar tahu seperti apa tim terbaik Chelsea itu.
Pada sepertiga awal musim, sifat ini terasa seperti sebuah sumber kekuatan, pertanda bahwa Chelsea sulit ditebak dan memiliki pemain pelapis yang solid.
Semua itu sekarang lenyap tak berbekas. Alih-alih, Chelsea terlihat seperti tim yang belum terbiasa bermain bersama. Sinergi antar pemain tak ada, gerakan mereka tak seirama, dan tak bisa memahami intensi satu sama lain.
Tuchel mestinya bisa menjaga konsistensi dengan menurunkan pemain-pemain yang sama di tengah dan di depan selama beberapa laga. Di saat yang sama, ia juga harus menjajal sedikit inkonsistensi dengan mengubah formasi agar tim terlihat segar dan lebih rileks.
Chelsea masih punya waktu untuk bangkit dan memenangkan Liga Primer musim ini. Tetapi demi mencapainya, Tuchel harus mau beradaptasi di tengah situasi penuh nestapa di Stamford Bridge.


