OLEH Mark Doyle | PENYUSUN Gunawan WidyantaraIkuti di twitter
Semua berawal dari kelakar.
Di musim panas lalu, setiap direktur olahraga AC Milan Massimiliano Mirabelli meminta Alessandro Lucci menyebutkan salah satu pemain terbaiknya sang agen selalu menyebutkan satu nama, Leonardo Bonucci.
Ketika itu Mirabelli mengacuhkannya, namun pada 12 Juli situasinya berubah. Fakta terkuak, tidak hanya Bonucci yang siap meninggalkan Juventus, sang raja Italia juga tidak keberatan melepas salah satu bek paling brilian yang pernah mereka miliki.
"Transfer Bonucci tidak direncanakan, tetapi ada kesempatan dan kami harus mengambilnya," kata Mirabelli pada Rai Sport.
Milan TV"Pada awalnya saya bahkan tidak membicarakannya pada CEO Marco Fassone karena saya pikir Lucci sedang bercanda. Kemudian saya menyadari Bonucci memang ingin ke Milan dan kami langsung melakukan negosiasi dengan cepat."
Memang benar, kesepakatan terjadi hanya dalam tempo 48 jam. Rossoneri menebusnya seharga €42 juta untuk mendapatkan pemain yang juga diincar Chelsea dan Manchester City.
Bahkan pemain Milan ikut terkejut dengan kedatangan Bonucci dari Turin namun mereka tidak keberatan saat sang pemain anyar itu langsung mendapat ban kapten.
"Sebenarnya saya tidak percaya Bonucci datang," ujar Giacomo Bonaventura. "Leo adalah pemenang, pilar tim nasional dan kedatangannya adalah fantastis."

"Dari yang saya tahu, karakter Bonucci akan berguna di kamar ganti karena dia berhasil bangkit dari keterpurukan. Bonucci memang ditakdirkan jadi panutan."
Apa yang dimaksud oleh rekan satu tim Bonucci itu jelas sangat dimengerti.
Sejak jatuh ke pelukan si Nyonya Tua pada 2010, Bonucci berkembang menjadi salah satu bek terbaik sepakbola. Pep Guardiola bahkan memujanya. Bonucci punya peran dalam kesuksesan Bianconeri meraih enam Scudetto beruntun dan Juventus menjadi salah satu tim paling kuat di Eropa.
Bonucci bukan sekadar bek tengah, dia penting dalam strategi permainan Juventus karena punya kemampuan mengumpan di atas rata-rata. Fakta ini membuat langkah Milan memboyongnya ke San Siro dipuji meski mereka harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Satu pembelian, diyakini akan menghadirkan kesuksesan. Seorang pemimpin natural punya kekuatan mengubah pecundang jadi pemenang.

Sayangnya, sekarang keputusan yang telah dibuat itu terasa bagai lelucon.
Awal pekan ini Bonucci dinyatakan masuk dalam daftar 30 nominasi peraih Ballon d'Or tetapi momen tersebut malah terasa aneh mengingat bagaimana performanya menurun sejak berkostum Merah-Hitam.
Bek terbaik dunia sekarang terlihat seperti salah satu bek terburuk di Serie A hingga membuat mantan direktur Napoli dan Udinese Pierpolo Marino untuk mengklaim: 'Saya pikir Milan sudah menyesal membeli Bonucci.'
"Saya rasa andai Massimiliano Mirabelli dan Marco Fassone bisa memutar waktu, mereka kan menghabiskan uang itu untuk membeli striker top."
Getty ImagesTidak begitu juga sebenarnya.
Harus diakui, kedatangan Bonucci malah menyodorkan dilema bagi Vincenzo Montella. Apakah dia harus mengubah formasi untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dari pemain anyarnya itu? Pada musim sebelumnya, Rossoneri biasa memainkan empat bek sejajar namun posisi kegemaran Bonucci adalah di bagian tengah tiga pemain bertahan.
Montella mengambil keputusan untuk mengubah formasi, artinya Milan tidak hanya memulai kompetisi dengan sepuluh pemain baru, mereka juga punya formasi anyar. Kondisi ini membutuhkan adaptasi. Mengejutkan memang, justru Bonucci yang terlihat bingung di formasi kegemarannya.
Tidak seperti biasa, Bonucci kerap hilang konsentrasi, melakukan banyak kesalahan dan umpan-umpannya kerap mengecewakan. Bonucci didatangkan untuk membangkitkan Milan, tetapi yang terjadi sebaliknya.
"Bonucci tahu bagaimana harus meningkatkan performa tetapi dia sendiri yang harus mengakuinya," kata Montella sebelum jeda internasional. "Bonucci bukan masalah dan tidak akan pernah jadi masalah. Dia sumber kekuatan untuk Milan untuk waktu yang lama."
Sekarang waktunya Montella untuk membuktikan klaim tersebut. Setelah membela Italia lawan Macedonia dan Albania, Bonucci telah kembali ke Milanello.
Rossoneri sekarang duduk di peringkat tujuh klasemen sementara Serie A dengan tiga kekalahan dari Sampdoria dan Roma. Kekalahan ketiga beruntun bakal menjadi bencana bagi harapan Montella untuk mempertahankan pekerjaannya. Tidak mudah karena lawan Milan berikutnya adalah Inter.
Dini hari nanti Montella benar-benar membutuhkan tuah Bonucci di San Siro. Sebuah performa buruk di laga yang krusial dan sarat gengsi, akan menjadikan kisah kepindahan Bonucci ke Milan lebih dari sekadar lelucon.
