Berita Live Scores
Cult Hero

Nyaris Terkenal, Mengapa Nasib Tak Memihak Kepada Ibrahim Afellay?

23.57 WIB 16/12/21
Ibrahim Afellay - Barcelona
Imbas masalah kebugaran, Afellay selamanya hanya akan dikenang dengan predikat ‘calon wonderkid’.

Pecinta sepakbola biasanya memasang taruhan tidak hanya pada tim tapi juga pada pemain tertentu. Namun, beberapa atlet dengan potensi menjanjikan berhenti bermain terlalu dini. Ibrahim Afellay adalah salah satunya.

Sempat bermain 21 kali untuk Barcelona, Afellay nyatanya hanya berada di antara pemain yang kena kutukan label ‘wonderkid’.

Afellay lahir di Utrecht, Belanda dari orangtua asal Maroko, yang beremigrasi ke Belanda pada tahun 60-an. Ayah Afellay meninggal ketika ia masih muda, meninggalkan ibunya untuk merawat dia dan saudaranya Ali.

Karier sepakbola Afellay dimulai bersama dengan tim lokal VSK sebelum bergabung dengan tim muda USV Elinkwijk, sebuah tim di Hoofdklasse, divisi tertinggi kedua dalam sepakbola amatir Belanda. Afellay bermain untuk Elinkwijk pada rentang 4–9 tahun. Pada usia 10 tahun, PSV Eindhoven merekrut sang pemain untuk ditempatkan di akademi klub.

Pada usia 17, Afellay melakoni debut di PSV. Ia menjalani enam tahun karier di tim utama, bermain 217 kali di lintas ajang, mencetak 38 gol, dan memenangkan empat gelar liga berentet pada periode 2004–2008.

Pada 2007, Afellay dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Belanda; bergabung dalam daftar yang sebelumnya diisi dengan nama-nama seperti Dennis Bergkamp, ​​Marc Overmars, Clarence Seedorf, Patrick Kluivert, Robin Van Persie, Arjen Robben, atau Wesley Sneijder.

Pada titik karier inilah dan terutama setelah musim 13 gol di Eredivisie pada musim 2008/09, Afellay mulai dicap sebagai 'wonderkid' dan bakat nyata sepakbola di masa depan. Pemuda Belanda itu mulai dipantau banyak mata dan klub-klub dari seluruh Eropa mulai tertarik untuk mengontraknya.

Pada 2010, Afellay terpilih masuk dalam skuad Belanda pada Piala Dunia di Afrika Selatan. Pada usia 24 tahun, banyak mata tertuju pada pria Eindhoven ini dalam momen yang bisa jadi kesempatannya untuk pamer kemampuan demi melanjutkan karier di luar negeri.

Tapi yang bikin kecewa, Afellay tidak memainkan peran besar di timnas Belanda pada turnamen tersebut. Ia cuma tampil tiga kali sebagai pemain pengganti, masing-masing dalam laga kontra Denmark, Jepang dan Slovakia. Tim asuhan Bert van Marwijk berhasil mencapai final, namun dikalahkan Spanyol.

Sejak pencapaian Belanda ke final turnamen, Afellay bukan satu-satunya nama yang diperbincangkan, tapi seluruh skuad Oranje telah menarik perhatian dunia.

Pada musim 2010/11, Afellay menjalni tahun terakhir kontraknya di PSV. Setelah mencoba negosiasi kontrak, raksasa Belanda tersebut tidak bisa menawarkan sang pemain kesempatan yang diinginkan dan klub-klub dari seluruh Eropa langsung datang mengendus.

Pada Oktober 2010, Afellay mengumumkan bahwa ia tidak akan memperpanjang kontrak dengan PSV, dan untuk menghindari kehilangan pemainnya itu secara gratis, pihak klub memutuskan untuk menjualnya pada jendela transfer musim dingin 2011. Alhasil, Barcelona berhasil mengontrak pemain Belanda itu dengan biaya sederhana sebesar £2,7 juta.

Setelah mencatatkan 16 penampilan pada paruh musim pertama bersama raksasa Katalunya, banyak hal yang terlihat dari Afellay; seolah-olah antusiasme dan harapannya sebagai ‘wonderkid’ masih ditunggu. Namun, hal itu tidak juga terjadi.

Pada pramusim 2011/12, Afellay mengalami cedera hamstring yang membuatnya absen pada awal musim. Ia sempat pulih dan tampil dalam dua pertandingan sebelum menderita cedera lutut parah pada bulan September, yang membuatnya absen selama 7 bulan. Pada saat ia kembali ke kebugaran penuh, Pep Guardiola tidak lagi memerlukannya dan perkembangan Afellay pun tampak terhambat.

Dalam rentang dua tahun, karier Afellay ditandai dengan grafik menurun. Lantas, Barcelona melepasnya sebagai pemain pinjaman. Ia pernah menghabiskan satu musim bersama Schalke di Bundesliga sebelum kembali ke Barca selama semusim, di mana ia cuma tampil dua kali di semua kompetisi. Kemudian, ia dipinjamkan ke klub asal Yunani, Olympiacos. Setelah kariernya di Yunani, Afellay dilepas Blaugrana dan secara mengejutkan bergabung dengan klub Liga Primer Inggris, Stoke City, dengan status bebas transfer.

Afellay dilepas Stoke City pada akhir Januari 2019 setelah tiga setengah tahun bersama klub yang kini berada di Divisi Championship tersebut. Ia sempat bermain satu musim penuh pada tahun pertamanya sebelum serangkaian cedera serius mengakibatkannya cuma bermain 19 kali di semua ajang.

Kala dilepas Stoke, Afellay belum lagi bermain sejak Desember 2017. Meskipun memiliki rekam jejak cedera, PSV memberinya kesempatan mantan pemainnya itu setelah sembilan tahun melanglang buana untuk membuktikan kebugarannya. Awalnya, ia berlatih dengan tim junior sebelum masuk ke tim senior dan hanya tampil tiga kali sebelum kontraknya berakhir.

Pernah menjadi salah satu pesepakbola paling berbakat di dunia, Ibrahim Afellay memutskan pensiun dari sepakbola pada Januari 2021. Upaya terakhir sang gelandang gagal di PSV.