Gerard Pique Barcelona Bayern Munich Champions League 2021-22Getty

Bukan Lagi Klub Elite! Bayern Munich Paksa Barcelona Telan Kenyataan Pahit

Pada akhirnya, fans Barcelona lebih peduli dengan bola yang dilempar di tribune belakang gawang Marc-Andre ter Stegen daripada pertandingan itu sendiri.

Barca jatuh dalam realitas baru yang menyedihkan saat dipermalukan Bayern Munich dengan skor 3-0 di Camp Nou pada laga pembuka Grup E Liga Champions, Rabu (15/9) dini hari WIB.

Barcelona bahkan gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran, statistik yang menyoroti gap antara kedua tim seolah skor saja tidak cukup.

Tuan rumah punya borok membekas sebelum laga, yakni pertemuan terakhir mereka melawan Bayern yang berakhir dengan skor mencolok 8-2, di tempat yang sama pada tahun lalu.

Ada spanduk 'Koeman out' terbentang di salah satu stan yang akhirnya diturunkan petugas. Tapi rasanya tidak akan lama sebelum itu kembali muncul, dan lebih banyak lagi.

Skuadnya tidak berada di level elite Eropa, dan yang terpenting, pelatihnya juga tidak.

Ronald Koeman menyebut kemenangan Chelsea di Liga Champions musim lalu sebagai salah satu alasan Barcelona bisa mengacaukan peluang, tapi dia tidak bisa menawarkan setengah dari jumlah taktik Thomas Tuchel.

Mungkin tiga gol bagi Bayern bakal tidak cukup banyak andai mereka memulai laga dengan oke dan langsung menemukan ritme serangan.

Perlahan skuad arahan Julian Nagelsmann menemukan klik tersebut. Mereka mulai menghabiskan waktu selama-lamanya di wilayah pertahanan Barcelona, ​​termasuk di area penalti.

Setelah terlalu banyak gerakan dan peluang peluang gagal hanya beberapa meter dari gawang Marc-Andre ter Stegen, Thomas Muller memutuskan untuk mencoba sesuatu yang lain, dan usahanya dari jarak jauh terdefleksi Eric Garcia.

Pedri Barcelona Bayern Munich Champions League 2021-22 GFXGetty/Goal

Pertahanan yang buruk dari Barca, dengan start penuh kesalahan. Ter Stegen mati langkah dan terlihat putus asa jauh sebelum bola akhirnya menghujam jaring gawang.

Bayern terus mencengkeram meski Meski tampak beruntung pada gol pembuka, mereka tak henti memindahkan bola dari kanan ke kiri, bermain-main dengan Barcelona. Gaya main yang mengingatkan kita pada masa kejayaan Pep Guardiola di Katalunya.

Koeman, dengan tangan bersilang di pinggir lapangan, tidak punya banyak pilihan dengan skuadnya imbas badai cedera. Dia menggunakan formasi 5-3-2 dengan hati-hati, barangkali dengan pertimbangan 8-2.

Di rumah, di Camp Nou, entah kapan Barcelona main begitu bertahan. Bertahun-tahun juga bahwa mereka telah memula laga dengan begitu yakin bahwa Blaugrana berada di bawah level lawan lawan mereka.

Laga yang dalam arti sebenarnya merupakan duel anak laki-laki melawan pria dewasa. Koeman menurunkan Alejandro Balde, Gavi, Yusuf Demir, dan Oscar Mingueza, untuk bergabung dengan Pedri dan Ronald Araujo, yang semuanya berusia 22 tahun ke bawah.

Itulah satu-satunya harapan bagi klub, dan kesediaan untuk menggunakan talenta La Masia adalah salah satu dari sedikit alasan Koeman dipertahankan Barca. Barcelona lebih baik pasca-pergantian pemain. Kehadiran Gavi terbilang menyuntikkan tenaga setelah performa lemah selama satu jam.

Philippe Coutinho, yang kembali setelah berbulan-bulan cedera, juga tampil cemerlang dan menawarkan sejumlah percikan yang mengisyaratkan bahwa ia bisa jadi pilar penting klub musim ini.

Namun, di masa depan klub terletak di pundak para pemain muda, dan suatu hari mereka mungkin bisa bermain pada pertandingan seperti ini, dan memenangkannya.

Itu bukan situasi Barcelona saat ini dan mungkin tidak terjadi untuk beberapa lama.

Saat Gerard Pique yang lelah menghela nafas setelahnya, “Inilah apa adanya kami, kami adalah kami. Itu bukan alasan, itu kenyataan.”

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0