Video Assistant Referee 2019Getty Images

Banyak Kontroversi, Sepakbola Indonesia Darurat VAR

Kinerja wasit dan asisten wasit di kompetisi sepakbola Indonesia sedang menjadi sorotan. Berulang kali, pengadil lapangan tersebut membuat keputusan tidak tepat sehingga merugikan klub.

PSSI tidak tinggal diam dengan sorotan tajam terhadap kepimpinan wasit. Federasi sepakbola Tanah Air tersebut melalui komite wasit, melakukan investigasi terkait keputusan wasit yang dinilai kontroversial.

Bila terbukti bersalah wasit tersebut bakal diistirahatkan selama beberapa pertandingan. Bahkan, jika kesalahan yang dibuat sangat fatal, PSSI akan memberhentikan pengadil lapangan itu.

Setidaknya ada enam keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Komite wasit PSSI sedang mendalami kasus tersebut dan akan memberikan hukuman sesuai dengan tingkat kesalahan yang dibuat.

Pertama, keputusan wasit yang kontroversial terjadi ketika Persik Kediri melawan Bali United, di Liga 1 2021/22. Yudi Nurcahya, yang bertugas sebagai pengadil lapangan membiarkan penalti Youssef Ezzejjari, tetap berjalan meski beberapa pemain Bali United, masuk kotak penalti sebelum eksekusi dilakukan.

Sesuai dengan peraturan FIFA seharusnya, penalti tersebut diulang, karena tidak boleh ada pemain yang masuk kotak penalti sebelum tendangan dilakukan. Namun, Yudi membiarkan kejadian tersebut.

Masih terkait penalti. Pada laga Bhayangkara FC kontra Persiraja Banda Aceh. Wasit Musthofa Umarella, tidak mengulang sepakan 12 pas Ezechiel N'Douassel, walau ada sejumlah pemain yang masuk kotak penalti sebelum eksekusi dilakukan.

Persib vs PSMAlvino Hanafi/Goal

Kemudian yang ketiga, pertandingan Persija Jakarta versus Arema FC. Oki Dwi Putra, yang memimpin laga tersebut beberapa kali mengeluarkan keputusan yang tidak tepat.

Mulai dari tidak memberikan penalti saat pemain Persija, Rio Fahmi dijatuhkan Muhammad Rafli di kotak terlarang, kartu merah Kushedya Hari Yudo, dan tak mengesahkan gol Marko Simic. Macan Kemayoran lantas mengirimkan surat protes kepada PSSI yang meminta Oki untuk dikasih hukuman.

Pertandingan Borneo FC melawan Persita Tangerang juga mendapat sorotan. Irsyad Maulana, diusir wasit Iwan Sukoco setelah menerima kartu kuning kedua, karena dinilai melakukan diving.

Padahal, dalam tayangan ulang Irsyad benar-benar dilanggar. Nuriddin Davronov yang melakukan pelanggaran pun mengisyaratkan pilar Persita tersebut tidak diving.

Bukan cuma di Liga 1, wasit juga melakukan keputusan kontroversial pada Liga 2. Kali ini terjadi dalam pertandingan Kalteng Putra melawan PSBS Biak.

Wasit Untung Santoso, cuma mengasih kartu kuning kepada Charles Rumbino. Padahal tendangan kung fu pilar PSBS tersebut sangat berbahaya karena mengenai perut pemain Kalteng Putra, Nur Akbar.

Lalu, partai Rans Cilegon kontra Badak Lampung FC. Wasit Seprio Ario, mengasih penalti untuk Rans Cilegon, meski pemain Badak Lampung tidak melakukan pelanggaran di kotak terlarang.

Di luar dari enam keputusan kontroversial yang sedang didalami komite wasit PSSI, ada satu lagi kasus yang ramai diperbincangkan. Wasit Donas Putra Damaina, mendapat kecaman karena kepimimpinannya pada laga Liga 3 yang mempertemukan Persak Kebumen dengan PPSM Magelang.

Donas hanya mengasih kartu kuning kepada Tri Hartanto. Padahal, secara jelas ia melihat pemain Persak tersebut menginjak leher bek PPSM, Santino Berti.

Demi mencegah keputusan wasit yang kontroversial terus terjadi, PT Liga Indonesia Baru (LIB) berencana menggunakan video assistant referee (VAR), pada Liga 1 musim depan. Operator kompetisi tersebut menganggarkan $6 juta atau sekitar Rp85 miliar untuk membeli satu set alat VAR.

Akhmad Hadian LukitaPT LIB

Direktur utama PT LIB Akhmad Hadian Lukita, menyatakan sudah berbicara dengan PSSI untuk memakai VAR sejak tahun lalu. Akan tetapi, pembahasan tersebut terpaksa terhenti akibat pandemi virus corona melanda.

"Tahap awal, kami akan membeli satu set VAR. Kalau nanti kompetisi kembali ke format semula, kandang dan tandang, kami harus membuat klaster VAR agar tidak jauh perpindahannya," kata Lukita.

"Polanya nanti memakai mobile sistem. Nanti VAR-nya pakai truk kontainer. Jadi bisa kami pindah-pindahkan dari satu laga ke laga lain. Jadi untuk sembilan partai, kami bisa gunakan tiga set VAR misalnya," Lukita menambahkan.

Memakai VAR, bukan perkara mudah karena ada tahapan yang harus dipenuhi. Mulai dari wasit yang dilatih khusus dan mendapat lisensi serta ditunjang infrastruktur memadai.

Lukita menyatakan bakal melakukan uji coba VAR pada akhir Liga 1 2021/22, sebelum diterapkan pada musim depan. Langkah tersebut diambil supaya wasit di Indonesia bisa belajar lebih dulu pemakaian alat canggih itu.

"Jadi kami memiliki program percepatan. Seorang konsultan VAR sudah datang ke PT LIB agar kami bisa ikut program percepatan dengan mendatangkan pengajarnya," ucapnya.

"Itu lebih efisien. Peralatannya nanti akan kami beli dan dites. Saat uji coba nanti pada akhir musim Liga 1, kami bakal didampingi. Sebab, tidak semua bisa diputuskan oleh VAR. Mungkin hanya penalti dan kartu merah," ia melanjutkan.

Rencana PT LIB, menggunakan VAR disambut positif pelatih Persija Angelo Alessio. Sosok asal Italia tersebut merasa VAR bisa mengurangi wasit mengambil keputusan kontroversial.

"VAR adalah teknologi yang bagus. Sebab saya pikir, banyak situasi yang tidak dilihat oleh wasit dan VAR bisa membuatnya jauh lebih baik. Saya pikir VAR bagus untuk dapat dipakai di masa depan. Saya berharap secepatnya kompetisi di Indonesia dapat menggunakan teknologi tersebut," ujar Angelo.

Pernyataan serupa disampaikan juru formasi Persebaya Surabaya Aji Santoso. Menurutnya, kompetisi di Indonesia sudah waktunya untuk memakai VAR, seperti di negara lain.

"Kalau memang membutuhkan VAR ini saatnya. Dengan kompetisi di Indonesia menghabiskan sangat besar sekarang VAR menurut saya sudah saatnya digunakan,” tutur Aji.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0