Buffon ManningerGetty Images

Bagaimana Rasanya Jadi Pelapis Gianluigi Buffon?


OLEH  ROMEO AGRESTI  PENYUSUN  AHMAD REZA HIKMATYARIkuti @rezahikmatyar di twitter

Pada hari ulang tahun ke-40 pada Minggu (28/1) lalu, Gianluigi Buffon mengisyaratkan bahwa dirinya punya potensi memperpanjang kontraknya bersama Juventus yang bakal kadaluwarsa di pengujung musim ini.

Tentu saja itu jadi kabar bagus buat Juve dan tifosi salah satu kiper terbaik sepanjang masa tersebut, yang masih bermain di level tertinggi usai menjalani debutnya bersama Parma 23 tahun silam.

Wojciech Szczesny mungkin jadi satu-satunya pihak yang kurang suka dengan gagasan itu, menilik musim ini dirinya sudah menunjukkan kepantasan jadi suksesor Buffon di Juve mulai musim depan.

Buffon ManningerGetty Images

Meski begitu, sejarah mengungkap bahwa tidak pernah ada kiper yang menyesal pernah jadi pelapis ikon sepakbola Italia satu ini. Banyak dari mereka bahkan menganggap status itu sebagai sebuah kehormatan dan pengalaman yang berharga.

Salah satunya Alex Manninger yang menghabiskan sampai empat musim kariernya di Juve pada 2008 hingga 2012. Meski statusnya sebagai kiper nomor dua dan cuma mentas 40 kali, eks Arsenal dan Liverpool itu tak pernah menyesali satu detik pun periodenya di Turin.

"Gigi [Buffon] adalah sosok yang eksepsional!" buka Manninger dalam wawancaranya dengan Goal.

"Ketika saya tiba di Juve Gigi memberi saya sambutan yang hebat dan bisa langsung menjalin hubungan personal yang spesial. Kami masih saling mengontak dan kami kerap berkomunikasi hingga sekarang.

"Empat tahun saya di Turin merupakan pengalaman dengan level yang luar biasa karena Gigi.

"Sebagai seorang kiper, tak ada yang bisa dibantah darinya. Gigi merupakan pemain kelas dunia sejati, contoh bagi semua orang yang ingin menjadi penjaga gawang. Sederhananya, dia adalah titik referensi yang nyata.

"Saya masih mengingat, ketika jadi lawannya, saya terus memperhatikannya dari jauh. Saya mengikuti gerakannya dan saya sungguh mengaguminya.

"Kemudian tiba kesempatan saya membela Juve di mana saya bisa bertemu dengannya setiap hari saat latihan. Momen itu membuat saya semakin memahami kebesarannya bahkan lebih jauh."

Manninger memahami bahwa Buffon bukan sekadar kiper yang hebat, tapi juga sosok yang bisa menginspirasi rekan-rekan setimnya di Juve.

"Dari Buffon, saya belajar begitu banyak hal khususnya soal bagaimana menjadi kapten yang baik," lanjut pemain yang gantung sarung tangan di pengujung musim lalu tersebut.

"Gigi selalu tampil sebagai pemimpin sejati setiap kali memasuki ruang ganti. Dia sanggup memotivasi rekan setimnya, keras pada saat yang dibutuhkan, dan memberi kami semua insentif yang besar untuk memperbaiki diri.

"Saya sangat bangga bisa menghabiskan empat tahun dari karier saya bersama legenda sejati sepertinya," ungkap Manninger.

Michelangelo Rampulla & Gianluigi Buffon

Buffon bergabung ke Juve dari Parma pada musim panas 2001 lewat banderol €52 juta, yang masih jadi nilai transfer tertinggi untuk seorang kiper. Pelapis pertamanya di Tim Hitam Putih, Michelangelo Rampulla, lantas mengungkap bagaimana Superman tiba dengan kerendahan hati yang luar biasa.

"Saya adalah kiper pertama yang jadi pelapis Buffon di Juve," buka Rampulla yang kini jadi pelatih kiper dalam staf keplatihan Marcello Lippi di timnas Tiongkok.

"Saat itu dia sudah dikenal sebagai pemuda yang bermental juara, sementara saya berada di pengujung karier. Saya berusia 40 tahun kala itu, tapi langsung bisa menjalin hubungan baik dengannya.

"Gigi adalah sosok yang begitu baik, tulus dan ceria. Tidak pernah ada kebencian di antara kami berdua. Saya bahkan selalu sekamar dengan Buffon setiap kali Juve bertandang.

"Saya ingat satu episode, secara khusus, setelah saya bergabung dengan staf kepelatihan Didier Deschamps [pelatih Juve musim 2006/07] sebagai pelatih kiper.

"Saat itu Buffon baru saja memenangi Piala Dunia 2006 di Jerman, tapi membela Juve yang didegradasi ke Serie B Italia. Jadi segalanya berlangsung aneh.

"Namun ketika kami berhasil mengamankan tiket untuk kembali ke Serie A, kami terlibat pembicaraan serius soal masa depan Buffon. Saya menyarankannya untuk bertahan, karena dia akan menjadi legenda klub ini. Salah satu yang paling legendaris dalam sejarah Bianconeri dan itulah yang terjadi sekarang.

"Hubungan kami tidak pernah berubah dan masih baik sampai sekarang. Bahkan ketika saya kembali sebagai pelatih kiper, dinamika kami sedikit berubah pada tingkat profesional, karena alasan hierarki tentunya, tapi hubungan kami tetap dan selalu ideal," pungkasnya.

Gianluigi Buffon GFX ID

Selanjutnya ada Emanuele Belardi yang bergabung dengan Juve saat didegradasi ke Serie B, akibat skandal calciopoli. Dia juga mengungkap segala hal baik tentang Buffon, yang dianggapnya sebagai rekan setim sempurna.

"Ketika saya tiba di Turin, dampak yang diberikan Gigi benar-benar positif," terang Belardi yang habiskan dua musim di Juve, kepada Goal.

"Gigi adalah golden boy, begitu kaya ide untuk melempar lelucon dan cukup usil. Bahkan hingga detik ini, dia selalu menepati janji untuk sekada bertemu padahal punya ribuan agenda lainnya.

"Gigi tak pernah sekalipun membanding-bandingkan sosok juara hebat sepertinya dengan kami yang cuma jadi pelapisnya."

Meski menyesalkan fakta bahwa Buffon belum sekalipun memenangkan Liga Champions, Berardi lebih menyoroti kepantasan sang rekan mendapat penghargaan Ballon d'Or, untuk mewakili kehebatannya sebagi pesepakbola dan olahragawan.

"Seseorang seperti Gigi pantas mendapat pengakuan itu. Dia adalah kiper terbaik sepanjang masa. Dia adalah Messi atau Crisiano Ronaldo di posisinya; seorang pemain kelas dunia sejati!"

Iklan