Sepakbola munculkan banyak tikungan, belokan, dan skenario. Imbas pandemi Covid-19, bal-balan Spanyol bakal hamparkan hal yang benar-benar unik pada bulan April.
Dua final Copa del Rey bakal berlangsung dengan hanya berselang dua pekan. Partai puncak edisi 2020 terpaksa ditunda di tengah pandemi virus corona.
Lampu sorot tajam tertuju ke Athletic Bilbao. Los Leones jadi aktor utama dalam dua episode terakhir turnamen.
Terdekat, Bilbao bakal menghadapi rival sesama Basque, Real Sociedad, dalam final tunda Copa tahun lalu di Stadion Olimpico de Sevilla, Minggu (4/4) dini hari WIB.
Sayang, laga masih dilangsungkan tertutup. Suporter dilarang menghadiri Derby paling terkenal di Spanyol lantaran wilayah Basque yang terbelah antara Athletic dan La Real.
Hanya berselang dua pekan, Skuad arahan Marcelo ini akan melawan raksasa Katalunya, Barcelona, pada 17 April mendatang.
Getty ImagesMantan gelandang Bilbao, Benat Etxebarria, adalah bagian dari perjalanan klub menembus final 2020. Pemain berusia 34 tahun itu mencetak gol pada putaran pertama dan tampil di babak 16 besar, sebelum meninggalkan San Mames untuk tim baru A-League Australia, Macarthur FC.
"Dua final itu penting, tapi melawan Real Sociedad adalah derby dan Anda selalu ingin menang, entah itu di final Copa atau tidak," ucap Benat, seperti dilansir dari Stats Perform News, belum lama ini.
"Derby selalu spesial. Tapi, pertandingan kontra Barcelona akan menyenangkan dan mereka akan berusaha untuk menang.”
"Kota Bilbao selalu bersama tim ini. Para fans selalu ada untuk Bilbao. Seperti yang terlihat, seluruh kota Bilbao dan provinsi Bizkaia penuh dengan warna merah dan putih untuk menegaskan dukungan jelang dua laga final ini.”
"Sayangnya, mereka tidak bisa menghadiri langsung pertandingan karena pandemi Covid-19,” pungkas jebolan akademi Bilbao itu.
Getty ImagesPerjalanan Benat ke Sydney, Australia bikin dia kembali bertemu dengan mantan rekan setimnya di Bilbao, Markel Susaeta.
Winger berusia 33 tahun itu menjalani sebagian besar kariernya di Bilbao. Ia mencatatkan 507 penampilan dan menjadi pemain kelima sepanjang sejarah klub yang punya jumlah laga terbanyak, di bawah: Jose Angel Iribar (614), Jose Francisco Rojo (541), Joseba Etxeberria (514), dan Andoni Iraola (510).
Susaeta mengenakan ban kapten dan antarkan Bilbao menangkan Piala Super Spanyol pada 2015 sebelum meninggalkan klub kesayangannya ini pada 2019, sejak kali pertama kenakan jersey garis merah dan putih yang ikonik tersebut pada 2007.
Susaeta—yang pernah rasakan tiga kali jadi finalis Copa del Rey—tentu tidak asing dengan Derby Basque. Ia pernah mencetak dua gol dalam kemenangan 2-0 Bilbao atas Sociedad di LaLiga pada 2012.
"Jelas bahwa sekarang adalah momen besar bagi sepakbola Basque," tutur Susaeta, yang mengaku akan menonton final bersama Benat pada Sabtu dini hari waktu Australia.
"Dua final yang tidak normal, situasinya juga. Bilbao memiliki peluang besar untuk merebut gelar besar ini,” tambahnya.
"Dalam pertandingan ini, emosi dan intensitasnya sangat istimewa dan ini penantian [untuk juara] yang sangat lama,” ujar sang pemain yang tergabung dalam tim runner-up edisi 2009, 2012, dan 2015 itu.
“Bilbao telah menunggu berbulan-bulan. Mereka sangat bersemangat. Sangat sulit untuk mengendalikan emosi. Ini adalah pertandingan yang ingin dimainkan setiap pemain,” pungkasnya.
Meskipun sempat ada pergantian pelatih, dari Gaizka Garitano ke Marcelino, pada 4 Januari lalu, Bilbao nyatanya sukses mengklaim trofi Piala Super Spanyol 12 hari berselang dalam kemenangan sensasional atas Barcelona.
Getty ImagesBilbao adalah tim idealis dalam berkompetisi. Kebijakan khusus [pemain asal] Basque telah mencuri perthatian sepakbola dan olahraga dunia. Tercatat, Los Leones hanya memilih pemain dari satu wilayah tersebut sejak 1912.
Terlepas dari transformasi sepakbola oleh globalisasi, Bilbao tetap kukuh pada akarnya. Hanya mereka yang lahir atau dibesarkan di Basque Country lah yang memenuhi syarat mewakili klub. Sementara pesaing mereka, Real Sociedad, menyetop kebijakan serupa pada 1989.
Meskipun dianggap merugikan dan membatasi kebijakan Bilbao di bursa transfer, faktanya mereka tidak pernah terdegradasi dari LaLiga. Kendati, tim papan tengah itu kerap kehilangan bintang selama bertahun-tahun, tapi Basque terus menjadi tempat bakat-bakat pemain untuk berkembang.
"Sangat sulit memainkan partai final melawan Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid, atau Valencia. Gaji mereka sangat besar dan memiliki pemain terbaik di dunia," tambah Susaeta.
“Bermain pada laga final untuk membela Bilbao dan jika Anda tumbuh dari akademi klub, itu adalah salah satu hal istimewa yang bisa Anda jalani sebagai pesepakbola. Tidak banyak kans kami untuk memenangkan gelar. Tentu, kesempatan seperti ini akan menjadi sangat istimewa,” pungkasnya.
