Andries Jonker, yang bekerja sebagai asisten manajer Louis van Gaal di Barcelona dan Bayern Munich, mengakui sempat muncul keraguan mengenai kesesuaian Andres Iniesta untuk hidup sebagai bintang senior di Camp Nou.
Pada 2002, tim pelatih Belanda kembali ke Catalunya untuk periode kedua kepelatihan bersama raksasa La Liga Spanyol itu.
Mereka mewarisi skuad yang mulai melihat lulusan akademi La Masia yang menjajikan, dengan masa depan Iniesta termasuk di antara mereka yang melangkah ke tim utama setelah ia menunjukkan potensi yang tidak diragukan lagi.
Iniesta melakoni debut seniornya pada Oktober 2002, di pertandingan Liga Champions lawan Club Brugge, dan mencatatkan 674 penampilan untuk Azulgrana dalam periode 16 tahunnya yang sarat trofi.
Namun, Iniesta harus memenangkan kepercayaan dari van Gaal dan tim kepelatihan di awal kariernya, dengan Jonker mengatakan kepada Goal dan SPOX: "Saya ingat persis ketika saya melihat Andres untuk pertama kalinya selama pramusim."
"Ia sangat kecil dan kurus, pucat, berambut panjang, dan berjalan ke ruang ganti dengan kantong plastik."
"Awalnya, saya bertanya pada diri sendiri apa yang dilakukan anak kecil di sana. Kemudian semua bintang berdiri dan bertepuk tangan untuknya. Saya bertanya apa yang terjadi dan mereka mengatakan bahwa dia telah memenangkan Piala Eropa U-19 bersama Spanyol dan terpilih sebagai pemain terbaik turnamen. Sekarang dia harus berlatih bersama tim utama."
"Saya melihatnya lagi dan berpikir itu tidak akan pernah berhasil. Saya mengatakan itu kepada Louis juga. Ia juga skeptis, tapi ingin memberinya kesempatan karena semua orang mengira dia adalah talenta besar."
"Setelah lima menit melewati sesi, Louis dan saya saling memandang dan berkata: "Ia bisa melakukan ini'."
Setelah satu musim di Barcelona dan empat musim yang produktif bersama AZ di Eredivisie, van Gaal direkrut Bayern pada 2009.


