Jose Mourinho menyalahkan kelemahan psikologis pemain AS Roma setelah menjadi korban epic come back Juventus, Senin (10/1) dini hari WIB.
Roma unggul 3-1 hingga pertengahan babak kedua, tetapi pasukan Mourinho kolaps dan malah berakhir kalah 4-3.
Setelah hasil mengecewakan ini, Mourinho meyakini skuad Roma punya masalah psikologis yang mesti dibenahi.
Apa yang terjadi?
Hingga menit ke-70, Roma unggul 3-1 di Stadio Olimpico berkat sumbangan Tammy Abraham, Henrikh Mkhitaryan, dan Lorenzo Pellegrini.
Tetapi, dimulai dari gol Manuel Locatelli di menit ke-70, Bainconeri bangkit. Dejan Kulusevski dan Mattia De Sciglio memastikan tim tamu melakukan epic come back, dengan mencetak tiga gol dalam tujuh menit.
Roma punya peluang menyamakan kedudukan setelah Matthijs de Ligt didakwa melakukan handsball di dalam kotak penalti, tetapi eksekusi Pellegrini berhasil diselamatkan Wojciech Szczesny.
Apa komentar Mourinho?
"Kami memegang kendali total selama 70 menit," ujar Mourinho kepada DAZN.
"Tim bermain dengan apik dan bermental memegang kendali, kami memulai dengan perkasa. Kami ingin melakukan pressing tinggi, mengontrol tempo, dan berinisiatif."
"Semuanya berjalan lancar selama 70 menit, lalu tiba-tiba terjadilah kehancuran psikologis. Skor 3-2 membunuh kami, karena Felix [Afena-Gyan] bermain hebat... Saya menariknya keluar dan penggantinya [Eldor Shomurodov] benar-benar berantakan."
Eks-manajer Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid itu membebankan kesalahan kepada anak asuhnya.
"Saat kami membiarkan mereka membuat skor menjadi 3-2, tim dengan mentalitas baja seperti Juventus, dengan karakter yang kuat, rasa takut itu menyeruak. Kompleks psikologis. Skor 3-2 tak masalah buat saya, tetapi masalah buat mereka. Buat tim saya."
"Pada akhirnya, ketika Anda terpuruk, Anda bangkit dan karakter Anda diuji. Tetapi ada orang-orang di ruang ganti yang agak terlalu baik hati, agak terlalu lemah."
"Saya sudah bilang ke pemain, jika laga berakhir di menit ke-70, laga ini akan menjadi penampilan yang luar biasa. Sayangnya saat itu belum berakhir."




