Raksasa Liga Primer Inggris Arsenal telah membentuk sebuah gugus tugas yang akan membantu para pemainnya dalam mengatasi rasisme dan ujaran kebencian di media sosial.
Langkah ini ditempuh The Gunners setelah maraknya perundungan berbau rasisme yang diterima para pemain sepakbola di internet.
Arsenal meluncurkan kampanye "Stop Online Abuse" pada Selasa (30/3) dengan salah satu aksinya adalah membentuk gugus tugas memberikan fasilitas formal kepada para pemain dan stafnya yang mengalami diskriminasi secara online.
Tak hanya itu, gugus tugas Arsenal yang terdiri dari kelompok lintas departemen ini juga memberikan konsultasi kepada para pemain terkait masalah lainnya, seperti hukum.
"Kami telah memperkuat prosedur internal kami dengan membentuk gugus tugas yang akan memberikan dukungan emosional dan formal bagi para pemain kami," demikian pernyataan Arsenal di laman resminya.
"Gugus tugas ini memiliki jaringan yang kuat ke Kepolisian Inggris, jaringan internasional yang didukung oleh Liga Primer Inggris, organisasi Kick It Out, platform media sosial, dan data fans kami."
"Gugus tugas ini akan memastikan dilakukannya langkah-langkah yang jelas ketika pelecehan terjadi. Jika seorang anggota fans Arsenal terbukti melakukan pelecehan online, mereka akan diblokir. Klub juga akan melakukan langkah hukum lebih lanjut."
Selain membentuk gugus tugas, Arsenal juga akan meningkatkan jumlah seminar kepada pemainnya untuk menjelaskan cara memblokir akun-akun dan kata-kata yang mengumbar kebencian.
Lebih lanjut, Arsenal berharap fansnya untuk lebih proaktif melakukan dialog dan berbagi ide di laman media sosial klub, serta mendorong mereka untuk melakukan report jika terjadi diskriminasi online.
Sebelumnya, legenda Arsenal Thierry Henry memutuskan untuk meninggalkan media sosial sebagai wujud protes atas minimnya aksi yang dilakukan perusahaan media sosial dalam mencegah perundungan di dunia maya.


