PERINGATAN: Berita ini mengandung penggambaran tragedi Kanjuruhan.
Pelatih Arema FC, Javier Roca, angkat bicara terkait tragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan ratusan suporter, Sabtu (1/10) kemarin.
Kanjuruhan menjadi panggung derbi Jawa Timur yang mempertemukan tuan rumah Arema melawan Persebaya Surabaya. Laga selesai dengan skor 3-2 untuk tim tamu. Situasi pasca-laga ricuh setelah suporter tuan rumah turun ke lapangan, namun tembakan gas air mata dari pihak kepolisian membuat seisi stadion panik dan terjadi kalibut. Ratusan cedera dan data per pagi ini 125 orang meninggal dunia.
Pelatih Arema Javier Roca bercerita kepada media Spanyol Cadena Ser. Ia menyaksikan langsung korban berjatuhan, beberapa meninggal di pelukan pemain.
"Kami tidak pernah mengira ini akan terjadi, para pemain punya hubungan yang baik dengan fans. Saya ke ruang ganti dan beberapa pemain masih di lapangan," kata pelatih asal Cile tersebut.
Getty Images"Saat saya kembali dari konferensi pers, saya mendapati tragedi ini di dalam stadion, para pemain lalu-lalang dengan korban di pelukan."
"Yang paling mengerikan adalah saat korban masuk [ruang ganti] untuk dirawat dokter tim. Sekitar 20 orang masuk dan empat meninggal. Ada suporter yang meninggal di pelukan pemain," imbuhnya.
Menurut kesaksian beberapa suporter dilansir detik, aksi pitch invasion oleh fans ditanggapi burtal oleh aparat. Pendukung yang masuk dipukul mundur, puncaknya ditembaki gas air mata.
Asap pedas membuat penonton kalang-kabut dan berebut keluar stadion. Di tengah suasana panik, banyak yang terinjak-injak dan kehabisan napas.
Meski merasa "penyebab tragedi ini tidak cuma satu hal", Roca mengecam tindakan aparat.
"Stadionnya tidak siap, mereka tak menduga akan ada kekacauan sebesar ini," lanjut Roca.
"Saya rasa polisi kelewat batas, meski saya tak di lapangan dan tak mengalami dampaknya. Melihat foto-fotonya, mungkin seharusnya mereka bisa memakai teknik lain.




