Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), tak habis pikir PSSI telah menetapkan besaran gaji yang dibayarkan klub karena kompetisi dihentikan. Setiap pemain atau ofisial hanya mendapat 25 persen dari gaji yang tertera dikontraknya.
Penyebaran virus corona yang kian parah di tanah air membuat PSSI memutuskan Liga 1 dan 2 force majeure atau keadaan kahar. Seluruh pertandingan kompetisi ditiadakan terhintung Maret sampai Juni 2020.
Klub baru wajib membayarkan gaji penuh saat kompetisi kembali bergulir pada Juli mendatang. Akan tetapi, bila penyebaran virus corona belum membaik, Liga 1 dan 2 musim ini diputuskan berakhir.
Kuasa hukum APPI Riza Hufaida, menilai PSSI terlalu gegabah dalam mengambil keputusan besaran gaji. Padahal FIFA selaku federasi sepakbola dunia belum menetapkan apa pun terkait hal tersebut.
Riza memandang seharusnya PSSI menunggu arahan dari FIFA terlebih dahulu baru mengambil keputusan. Mengingat, berhentinya kompetisi karna virus corona tak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan hampir di seluruh dunia.
"Termasuk juga liga-liga di Eropa, FIFA juga belum menentukan dan masih dalam pembahasan dengan pemangku kepentingan lainnya termasuk FIFPro, yang merupakan induk dari APPI masih dalam proses membicarakan untuk mencari solusi erbaik," kata Riza.
"Ini PSSI dalam tanda kutip lancang dan mendahului FIFA dan kenyataan FIFA belum memutuskan nasib-nasib liga-liga yang ada di bawah mereka seperti apa," Riza menambahkan.
Selain itu, Riza menyayangkan PSSI tidak melibatkan pihaknya dalam mengambil keputusan tersebut. Induk sepakbola nasional hanya mengajak beberapa klub saja ketika membahasnya.
"Kami harusnya sebagai salah satu pemangku kepentingan sepakbola Indonesia, apalagi pemain yang paling berdampak nanti kalau terjadi apa-apa harusnya kita diajak ngobrol dan duduk bareng."
