Nasser Al-Khelaifi Lionel Messi Paris Saint-Germain 2021-22Getty

Apakah Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi Orang Paling Berpengaruh Di Sepakbola Saat Ini?

Makan siang di Paris pada November 2010 mengubah jalannya sejarah sepakbola.

Sebelum makan malam dengan Perdana Menteri Prancis Nicolas Sarkozy dan putra mahkota Qatar Tamim bin Hamad al-Thani di Istana Elysee, presiden UEFA Michel Platini telah memberi kesan kepada otoritas Amerika Serikat (AS) bahwa ia akan mendukung negara tersebut untuk menjadi Piala Dunia 2022.

Namun, kurang dari dua minggu kemudian, legenda Prancis itu malah mendukung Qatar, memainkan peran kunci dalam keberhasilan negara Timur Tengah itu menjadi penyelenggara Piala Dunia.

Platini, tentu saja, sangat berhak untuk berubah pikiran, tetapi keputusannya yang berubah 180 derajat dipandang sebagai kejutan besar, terlebih sebelumnya ia mengklaim Piala Dunia di Qatar akan menjadi bencana.

Mantan pemenang Ballon d'Or itu menyatakan bahwa tidak ada seorang pun di Istana Elysee hari itu yang memintanya untuk mendukung satu tawaran di atas tawaran lainnya.

"Saya selalu memilih apa yang baik untuk sepakbola, bukan untuk diri saya sendiri, bukan untuk Prancis," Platini - yang kemudian dilarang dari semua aktivitas sepak bola yang diselenggarakan oleh FIFA hingga 2023 menyusul penyelidikan etika terkait kasus korupsi eks presiden FIFa, Sepp Blatter - mengatakan kepada The Guardian pada 2013 lalu.

"Platini mengungkapkan, bagaimana pun, dirinya tidak hanya mengetahui dukungan Sarkozy untuk tawaran Piala Dunia di Qatar, ia juga tahu bahwa presiden negaranya itu "ingin orang-orang dari Qatar membeli Paris Saint-Germain".

Jelas bahwa negara berpenduduk hanya 2,6 juta orang, tetapi dengan cadangan gas alam dan minyak terbesar ketiga di planet ini, sangat serius dalam membuat dampak besar pada permainan global.

Jadi terjadilah, bahwa pada Juni 2011, lebih dari enam bulan setelah pemungutan suara untuk tuan rumah Piala Dunia 2022, Tamim bin Hamad Al Thani membeli 70 persen saham PSG melalui organisasi pemegang saham milik negara Qatar Sports Investments (QSI), anak perusahaan dari Qatar Investment Authority (QIA), dana kekayaan negara tersebut.

PSG sejak itu menjadi salah satu klub terbesar berkat kekuatan finansial mereka yang hampir tak tertandingi. Memang benar, pada Kamis (16/9), dalam pertandingan penyisihan grup Liga Champions lawan Club Brugge, PSG bisa menurunkan lini depan trio Neymar, Kylian Mbappe dan Lionel Messi.

Target QSI untuk musim 2021/22 jelas: memenangkan trofi Liga Champions pertama bersama PSG di tahun yang sama saat Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia. Ini mewakili kesimpulan sempurna dari upaya besar selama satu dekade untuk menjadikan Qatar sebagai kekuatan utama dalam dunia sepakbola.

PSG jelas menjadi penerima manfaat utama dari inisiatif ini. Sebelum kedatangan QSI satu dekade lalu, klub ibu kota Prancis hanya memenangkan dua gelar Ligue 1. Sekarang mereka memiliki sembilan, sementara mereka juga mencapai final Liga Champions untuk pertama kalinya dua musim lalu.

Keberhasilan mereka seringkali semata-mata dikaitkan dengan gelontoran dana besar dari QSI yang mencapai €1,3 miliar hanya untuk mendatangkan pemain-pemain baru.

PSG signings GFXGetty/Goal

Neymar dan Mbappe adalah dua pemain termahal dalam sejarah, sementara kedatangan Messi dari Barcelona telah digambarkan sebagai 'transfer abad ini', dengan pemain Argentina itu akan mendapatkan gaji €35 juta per tahun sesudah pajak.

Tapi bukan hanya PSG yang menikmati peningkatan luar biasa dan menjadi terkenal selama dekade terakhir. Presiden mereka, Nasser Al-Khelaifi, sekarang dianggap oleh banyak orang sebagai orang paling berkuasa di sepakbola, yang tidak buruk bagi mantan pemain tenis yang nyaris tidak berhasil menembus 1000 besar dunia selama hari-harinya bermain.

Namun, melalui tenis Al-Khelaifi berteman dengan Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, yang sekarang menjadi emir Qatar. Berkat dukungan Tamim, 'NAK' - sapaannya - begitu akrab dengannya, menjadi presiden Federasi Tenis Qatar pada 2008, dan kemudian menjadi ketua QSI tiga tahun kemudian.

Jadi, ketika Tamim membeli PSG pada 2011, Al-Khelaifi diberi mandat sebagai pemimpin di Parc des Princes.

Pada penampilan pertamanya di media, ia bersikeras bahwa proyek barunya bukan tentang merekrut superstar yang sudah ada seperti Messi, tetapi mencoba menggali permata generasi berikutnya. Namun, itu tidak menghentikan langkah PSG untuk mendatangkan nama-nama tenar seperti Zlatan Ibrahimovic dan David Beckham untuk meningkatkan profil klub di dalam dan di luar lapangan.

Target komersial Al-Khelaifi adalah untuk mengubah klub menjadi merek besar di seluruh dunia, seperti adidas dan Nike, yang ditegaskan oleh kemitraan PSG dengan Air Jordan - kesepakatan yang didalanginya dalam upaya memanfaatkan minat besar dalam pasar bola basket di Amerika Utara dan Asia.

Ia juga mengambil inspirasi dari NBA dalam hal melayani dan berkomunikasi dengan penggemar di stadion. Al-Khelaifi mengamati dengan cermat apa yang akan terjadi di babak pertama saat laga berlangsung, bagaimana klub bisa menjual makanan, menerima pesanan, apa yang dipakai oleh para fans dan apakah suporter bisa memesan tempat duduk mereka.

Orang-orang yang sangat dekat dengannya mengatakan ia terobsesi dengan detail-detail kecil dan membandingkannya dengan spons, yakni terus-menerus menyerap informasi, selalu mendorong PSG untuk meniru pekerjaan terdepan yang dilakukan oleh klub-klub lain atau, lebih sering daripada tidak, menanyakan apakah mereka bisa melakukannya lebih baik.

Penekanannya selalu pada inovasi, menghasilkan cara baru untuk menciptakan aliran pendapatan baru.

David Beckham Zlatan Ibrahimovic PSG GFXGetty/Goal

Pengejaran kesempurnaan Al-Khelaifi di luar lapangan secara mengejutkan membuahkan kesuksesan.

Setelah kalah secara sensasional dari Montpellier dalam perburuan gelar juara Ligue 1 pada Mei 2012, Paris perlahan tapi pasti mulai mendominasi di dalam negeri, sementara juga muncul sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan di arena internasional.

Namun, tentu saja ada celah dalam proyek mereka yang sebenarnya masih dalam tahap awal.

"QSI telah belajar banyak dari waktu ke waktu," koresponden CBS Sports Golazo Prancis, Jonathan Johnson, mengatakan kepada Goal.

 "Nasser sendiri selalu sangat tertarik dengan apa yang dilakukan PSG. Ia selalu tampil di media secara reguler. Ia selalu berada di garis depan setiap pengumuman kesepakatan sponsor baru. Tapi cara mereka diterima oleh pers tidak selalu begitu positif."

"Saya ingat dalam suatu wawancara, Nasser ditanya tentang kemampuan PSG untuk menghabiskan banyak uang untuk merekrut nama-nama besar dan ia berkata, 'Para pemain yang saya inginkan, akan saya miliki.' Ini mengatur nada yang salah dengan pers."

"Jadi, mereka harus belajar dari momen-momen semacam itu dan memperbaiki citra mereka dari waktu ke waktu, tentunya di tahun-tahun sebelumnya ketika mereka dicurigai melanggar FFP."

Memang, karena PSG dengan cepat bisa membeli banyak pemain bintang, ada tuduhan bahwa mereka melanggar aturan Financial Fair Play (FFP) UEFA, yang diterapkan sebagai usaha untuk mengontrol pengeluaran di antara klub-klub Eropa.

"Masalah FFP ini pada dasarnya menggantung di atas PSG sejak diakuisisi Qatar," Tariq Panja dari New York Times mengatakan kepada Goal. "[Mereka menandatangani] sponsor besar-besaran dari Qatar Tourist Authority (QTA), yang hampir menggandakan neraca PSG dalam semalam."

"QTA mengatakan mereka perlu mempromosikan negara dan mereka sangat menghargai profil PSG. UEFA campur tangan, meski pun, memutuskan pada 2014 bahwa mereka telah melanggar aturan FFP, tetapi PSG menyetujui penyelesaian dengan pimpinan UEFA Gianni Infantino di mana mereka dihukum tetapi tidak dihukum dengan cara yang signifikan."

"Skuad Liga Champions mereka harus dibatasi dan didenda €60 juta."

Sanksi tersebut tentu tidak menghalangi rencana ambisius PSG untuk menaklukkan Eropa.

Pada 3 Agustus 2017, mereka memecahkan rekor transfer dunia ketika menebus klausul pembelian dalam kontrak Neymar di Barcelona sebesar €222 juta. Tepatnya empat minggu kemudian, mereka menyetujui kesepakatan pinjaman dengan AS Monaco untuk Kylian Mbappe dengan kewajiban untuk membeli sebesar €180 juta.

Nasser Al-Khelaifi Neymar PSG GFXGetty/Goal

"Presiden UEFA Aleksander Ceferin berjanji untuk memeriksa langkah PSG," terang Panja, "dan panel investigasi dibentuk. Mereka memeriksa semuanya dengan cermat dalam jangka waktu yang lama tetapi anggota panel terpecah atas apa yang harus dilakukan."

"Dan hal yang harus Anda pahami tentang cara kerja FFP, adalah Anda memiliki panel yang membahas kasus tetapi satu orang, ketua, memiliki wewenang penuh untuk memutuskan apakah ada pelanggaran atau tidak. Ada begitu banyak tekanan pada satu orang."

"Anggota panel yang ingin melakukan pekerjaan dengan benar seperti, 'Ini perlu dirujuk ke ruang pengadilan karena kami pikir ada pelanggaran.' Tapi ketua, dalam hal ini mantan perdana menteri Belgia Yves Leterme, berpikir berbeda."

"Ia merasa bahwa tidak ada hal yang tidak diinginkan telah terjadi, begitu banyak, pada kenyataannya, ketika pergi ke ruang pengadilan, yang dijalankan pada saat itu oleh seorang hakim senior dari Portugal bernama Jose Narciso da Cunha Rodrigues, ia melihatnya dan pada dasarnya mengatakan, dalam istilah yang cukup pedas, 'Melihat laporan Anda, dan apa yang telah Anda simpulkan berdasarkan bukti, Anda perlu mengambil ini kembali. Ini tidak sesuai dengan awal. Anda telah membuat kesalahan nyata di sini'."

"Tetapi, pada saat yang sama, PSG membawa proses ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), dan di sinilah hal itu menjadi sangat menarik, karena ketika Anda membawa kasus FFP ke CAS, hakimnya keluar dari lingkaran dan ruang adjudicatory keluar dari lingkaran pula. Seluruh kasus ditangani oleh administrasi UEFA."

"Jadi, terserah UEFA untuk memutuskan seberapa keras dan seberapa besar keinginannya untuk membela penyelidik dan hakimnya. Dan, dalam hal ini, UEFA berpihak pada argumen PSG."

"PSG mengatakan bahwa hakim terlalu lama menyerahkan kasus itu kepada penyelidik. Mereka mengatakan itu harus dilakukan dalam waktu 10 hari. Hakim mengatakan Anda salah menafsirkan aturan, dan tidak mungkin ada orang yang bisa menganalisis seluruh kasus di 10 hari. Itu tidak akan terjadi. Intinya adalah Anda memulai proses peninjauan dalam 10 hari."

"Tapi UEFA setuju dengan PSG dan kasusnya ditutup."

Pada tahap ini, bukan hanya PSG yang berada di bawah pengawasan ketat, tetapi juga Al-Khelaifi.

Pada Mei 2019, supremo PSG dituduh memvalidasi pembayaran ilegal sebesar €3,1 juta untuk membantu upaya Doha menggelar Kejuaraan Dunia atletik pada 2017. Namun, pengacaranya, Francis Szpiner, menjelaskan tuduhan tersebut. sebagai hal yang "benar-benar tidak akurat".

"Nama Nasser Al-Khelaifi tidak muncul di dokumen mana pun dalam file itu," kata Szpiner kepada Le Parisien mengacu pada kasus yang disusun oleh hakim investigasi Renaud van Ruymbeke di Paris.

"Perlu dicatat bahwa sidang awal Nasser Al-Khelaifi hanyalah hasil dari kebingungan yang disesalkan oleh hakim investigasi. Nasser Al-Khelaifi tidak pernah terlibat secara operasional dalam tawaran Doha untuk Kejuaraan Dunia Atletik."

Nasser Al-Khelaifi PSG GFXGetty/Goal

Pada saat yang sama, Al-Khelaifi juga menghadapi tuduhan kriminal di Swiss terkait pemberian hak siar Piala Dunia.

Dalam perannya sebagai kepala Grup Media beIN, Al-Khelaifi dan pihak ketiga diduga menghasut mantan sekretaris jenderal FIFA Jerome Valcke untuk menerima suap. Namun, pada Oktober 2020, orang Qatar itu dibebaskan dari “salah urus kriminal yang parah”.

Sebuah pernyataan dari kepala PSG Al-Khelaifi berbunyi: "Putusan hari ini adalah pembenaran total. Setelah kampanye empat tahun tanpa henti melawan saya yang mengabaikan fakta dasar dan hukum di setiap kesempatan, saya akhirnya sepenuhnya dan benar-benar bisa membersihkan nama saya."

"Ini mengembalikan kepercayaan saya pada supremasi hukum dan dalam proses hukum, setelah empat tahun tuduhan tak berdasar, tuduhan fiktif, dan pencemaran nama baik terus-menerus - yang semuanya telah terbukti sepenuhnya dan sepenuhnya tidak berdasar."

Ia menambahkan: "Saya sekarang dapat mencurahkan seluruh energi saya untuk berbagai peran saya, yang semuanya difokuskan untuk membangun masa depan yang positif bagi dunia olahraga - pada saat industri sangat membutuhkan kepemimpinan yang kuat."

PSG tidak dapat disangkal membutuhkan perhatian penuh Al-Khelaifi pada saat itu, dengan keraguan meningkat atas komitmen Neymar dan Mbappe untuk target besar klub.

Desas-desus masalah internal di Parc des Princes mulai muncul pada 2018, dan memuncak dengan tim yang tersingkir dari babak 16 besar Liga Champions oleh Manchester United asuhan Ole Gunnar Solskjaer pada Maret 2019.

Al-Khelaifi mengakui pada musim panas bahwa perubahan sikap diperlukan, mengungkapkan bahwa ia ingin mengakhiri "perilaku 
para superstar" yang diyakininya menghambat klub.

"Kami semua kekurangan karakter dan otoritas [musim lalu],” katanya kepada France Football. "Dan saya harus menjadi orang pertama yang mengakuinya. Saya tidak ingin melalaikan tanggung jawab saya. Saya pelakunya yang pertama. Saya tidak ingin bersembunyi atau menyalahkan orang lain, para pemain dan pelatih. Jika kami tidak sukses musim ini, itu memang karena kesalahan saya. Tapi segalanya akan berubah."

Dan itu terjadi.

Al-Khelaifi memberhentikan Antero Henrique sebagai direktur olahraga dan mempekerjakan kembali Leonardo, yang sebelumnya memegang posisi itu antara 2011 dan 2013.

"Tim perlu mendapatkan kembali sedikit ketelitian. Jika seorang pemain membuat kesalahan, Leonardo tidak akan mengampuni perasaannya. Ia akan tahu bagaimana menjelaskan kepada para pemain bahwa klub jauh lebih penting daripada mereka."

"Para pemain harus memikul tanggung jawab mereka lebih dari sebelumnya. Saya ingin pemain yang bangga mengenakan seragam kami, bukan pemain yang melakukan pekerjaan saat itu cocok dengan keinginan mereka pribadi."

"Mereka tidak ada di klub hanya untuk bersenang-senang. Dan jika mereka tidak setuju, pintu untuk pergi terbuka. Ciao."

Kylian Mbappe Neymar PSG GFXGetty/Goal

Perubahan menghasilkan dampak yang diinginkan, dengan PSG mencapai final Liga Champions untuk pertama kalinya, pada Agustus 2020.

Musim lalu, bagaimana pun, mereka tersingkir oleh Manchester City di empat besar dan kekecewaan itu menyebabkan munculnya belanja besar-besaran lainnya, yang bisa dibilang melampaui yang pernah mereka lakukan pada 2017.

PSG sebenarnya menghabiskan lebih sedikit uang untuk biaya transfer kali ini tetapi berkomitmen jutaan euro untuk gaji para pemain yang mereka datangkan secara gratis seperti Messi, Sergio Ramos, Gigi Donnarumma dan Gini Wijnaldum.

Memang, dengan kedatangan duo bek sayap, Achraf Hakimi dan Nuno Mendes masing-masing dari Inter Milan dan Sporting CP, pasukan Mauricio Pochettino tampak tidak punya kelemahan. Dalam hal mewujudkan impian Liga Champions mereka, PSG jelas semakin jadi favorit juara.

Tapi sekali lagi, hal yang sama berlaku untuk Al-Khelaifi.

PSG tidak hanya berhasil meningkatkan kekuatan skuad mereka di saat sebagian besar klub sedang berjuang melawan krisis finansial dampak pandemi COVID-19, sang presiden juga memiliki pengaruh kuat di antara tokoh-tokoh terkemuka di dunia sepakbola setelah kekacauan yang disebabkan oleh upaya pembentukan Liga Super Eropa.

Saat 12 klub top Eropa hendak membentuk kompetisi baru tandingan Liga Champions, PSG menolak untuk bergabung, dengan Al-Khelaifi malah berpihak pada presiden UEFA Aleksander Ceferin.

Setelah ESL runtuh, presiden Juventus Andrea Agnelli dicopot sebagai ketua Asosiasi Klub Eropa (ECA) dan digantikan oleh Al-Khelaifi.

Ia sebenarnya enggan untuk mengambil peran tersebut. ECA menginginkan seseorang dari mereka yang bersatu melawan pemberontak ESL untuk menjadi pemimpin baru, namun Al-Khelaifi membutuhkan beberapa hari untuk menerima tawaran tersebut karena beban kerjanya yang sudah berat.

Tentu saja, fakta bahwa ia mendapat dukungan seperti itu dari rekan-rekannya menggarisbawahi seberapa jauh Al-Khelaifi dan PSG telah berkembang selama dekade terakhir.

"PSG dan Al-Khelaifi mendapat informasi yang sangat baik mengenai situasi Liga Super dan tidak ingin terburu-buru membuat komitmen terhadap sesuatu seperti itu," ungkap Johnson.

"Saya pikir itu cukup untuk memberitahu bahwa Bayern Munich, sebuah klub yang telah memandang rendah PSG selama bertahun-tahun terlepas dari fakta bahwa mereka memiliki hubungan sponsor Qatar sendiri, dengan enggan menghormati PSG dan sikap yang mereka ambil terkait Liga Super."

"Pada akhirnya, PSG tidak ingin melihat adanya ajang persaingan yang ditutup, mereka menginginkan persaingan. Jangan lupa, PSG belum pernah putus dominasi sejak mereka tiba di Prancis. Mereka hanya kalah dari Montpellier saat proyek dimulai, kemudian ada Monaco pada 2017 serta Lille musim lalu."

"Jadi, ada kalanya mereka tidak memiliki segalanya dengan caranya sendiri dan Nasser menyambut tantangan itu. Ia ingin Ligue 1 tumbuh, menjadi kompetisi yang lebih kompetitif dan dihormati."

"Satu hal yang akan saya katakan, yang disepakati oleh mereka yang pernah bertemu dengannya, adalah ia sangat, sangat kharismatik. Ia adalah sosok yang sangat menarik, pada dasarnya adalah pemimpin modern yang ideal dari sebuah klub."

"Bahkan ketika ada masalah persaingan, lihat kancah domestik dengan Lyon dan Jean-Michel Aulas, tidak peduli berapa kali mereka bentrok, Aulas selalu mengatakan betapa dirinya Nasser dan menganggapnya sebagai pemikir modern. Aulas memandangnya sebagai tipe pemimpin diharapkan ada pada dirinya ketika masih muda."

"Jadi, itu jelas tercermin dengan baik pada Al-Khelaifi dan PSG sebagai klub bahwa mereka sama sekali tidak tergoda dengan proyek Liga Super yang gagal."

Nasser Al-Khelaifi Leonardo PSG GFXGetty/Goal

Memang banyak pengamat yang tiba-tiba bertanya pada diri sendiri apakah PSG tiba-tiba menjadi 'pahlawan' sepakbola Eropa?

Selain itu, saat Al-Khelaifi dan klub terus mendapat serangan dari bos-bos klub lain dan liga saingan, PSG sangat bangga dengan cara mereka mengubah perusahaan yang relatif kecil yang mereka peroleh dengan harga €70 juta pada 2011 menjadi merek besar yang menurut perkiraan Forbes akan bernilai €2.2 triliun dalam 10 tahun mendatang.

Mereka tidak pernah berusaha menyembunyikan fakta bahwa klub yang dibentuk pada 1970 tidak dapat membanggakan sejarah atau silsilah yang sama dengan kekuatan tradisional sepakbola Eropa, tetapi mereka percaya bahwa saingan mereka sekarang mencari inspirasi untuk mereka dalam hal memperluas merek mereka sendiri.

PSG memandang diri mereka sebagai 'klub generasi baru' karena cara mereka memanfaatkan selera anak muda. Sepuluh tahun yang lalu, misalnya, mereka memiliki 500.000 pengikut. Itu sekarang melonjak hingga 140 juta, dan terus bertambah. Bahkan, mereka mendapat tambahan 25 juta pengikut lebih banyak setelah kedatangan Messi.

PSG berpendapat bahwa lonjakan popularitas mereka bukan hanya karena pemain bintang. Mereka merasa terhubung dan terlibat dengan penggemar sepakbola yang lebih muda dengan cara yang sangat berbeda dengan klub lain. Mereka menargetkan pasar tertentu dengan cara tertentu. Misalnya, di Jepang, di mana mereka memiliki tiga toko mandiri, mereka bekerja dengan desainer lokal untuk memproduksi perlengkapan berkualitas tinggi yang menarik bagi anak muda Jepang.

Al-Khelaifi, bagaimana pun, tetap bersikeras bahwa PSG adalah institusi Prancis pertama dan terutama. Dalam pertemuan dengan Nike, ia diketahui meminta penambahan simbol atau bendera yang terkait dengan Prancis atau Paris untuk mengingatkan semua orang tentang akar merek global ini.

Ia bahkan menuntut agar makanan yang disediakan di area VIP di Parc des Princes berasal dari katering terbaik di Prancis. Ketika ia menyelenggarakan makan malam, ia yang memilih restoran dan koki. Sekali lagi, semuanya harus sempurna dan mencerminkan yang terbaik yang ditawarkan Prancis.

Nasser Al-Khelaifi PSG GFXGetty/Goal

Hasil akhirnya adalah semakin banyak selebritas yang beralih ke sepakbola dengan memakai mengenakan merchandise klub, dan, bukan karena mereka dibayar untuk mempromosikan PSG – sesuatu yang menurut klub tidak pernah dilakukan – tetapi karena mereka menyukai merek tersebut.

Sekali lagi, mereka sadar bahwa pendekatan mereka yang agresif dan unik untuk memasarkan dan memperluas klub telah mengecewakan beberapa anggota orde lama, tetapi mereka percaya bahwa itu berhasil justru karena berbeda.

Tentu saja, PSG beruntung karena mereka memiliki dermawan yang sangat kaya. Tidak setiap klub dapat mengandalkan tingkat dukungan keuangan yang luar biasa seperti itu.

"Anda harus terus mengingatkan diri sendiri bahwa PSG dimiliki oleh negara Qatar, seperti halnya grup beIN Sports, yang juga merupakan pelanggan terbesar UEFA, membayar mereka miliaran hak siar selama bertahun-tahun," kata Panja.

"Dan Nasser Al-Khelaifi kebetulan menjadi ketua grup beIN Sports, dan, seperti yang kita tahu, ia juga presiden PSG."

"Ia sekarang diangkat ke komite eksekutif UEFA, dewan paling kuat di sepak bola Eropa. Sekarang, akan aneh di industri lain jika pelanggan Anda berada di dewan Anda, tetapi begitulah."

Tentu saja, setelah pengeluaran boros musim panas untuk pemain baru, lebih banyak pertanyaan diajukan tentang kepatuhan PSG terhadap FFP.

Sekali lagi, Al-Khelaifi menegaskan bahwa klub selalu mematuhi aturan, mengatakan kepada wartawan saat sesi perkenalan Messi: "Mengenai aspek keuangan, saya akan menjelaskan: kami tahu aturan Financial Fair Play dan kami akan selalu mengikuti aturan tersebut."

"Sebelum kami melakukan apa pun, kami berkoordinasi dengan orang komersial, keuangan, dan hukum kami. Kami memiliki kapasitas untuk mengontraknya. Jika kami merekrut Leo, itu karena kami bisa, jika tidak kami tidak akan melakukannya."

Nasser Al-Khelaifi Lionel Messi Leonardo PSG GFXGetty/Goal

Dengan keberadaan Messi, tampaknya akan semakin memuluskan ambisi PSG yang telah bertahan selama satu dekade untuk memenangkan Liga Champions.

Tapi apa yang akan terjadi pasca-Qatar 2022? Ada anggapan bahwa seluruh proyek akan berhenti tiba-tiba, atau setidaknya tidak lagi gencar seperti sekarang.

Al-Khelaifi, jelas, sekarang dalam posisi kekuasaan yang pastinya tidak akan ditinggalkannya hanya dalam waktu satu tahun? Tentunya ia ada di sini untuk memainkan peran utama dalam sepakbola global? Tentunya ia membuktikan dirinya sebagai salah satu pengelola top di sepakbola?

"Anda tidak dapat melihat di luar fakta bahwa ia menghabiskan banyak sekali uang," bantah Panja. "Sepakbola bukanlah industri yang sangat canggih. Kekuasaan sering berada di tangan mereka yang punya uang. Dan di situlah uang dibelanjakan."

"Tapi sulit untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Itu bisa berlangsung selamanya, atau bisa langsung berhenti. Ini semua berdasarkan keputusan satu orang: Tamim bin Hamad al-Thani."

Yang pasti, Al-Khelaifi tidak menunjukkan tanda-tanda itu. Sumber mengatakan bahwa proyek PSG masih akan terus berjalan dengan kecepatan 100 mil per jam dan sang presiden tetap menjadi kekuatan pendorong di belakang keseluruhan proyek.

Ia telah berulang kali menyatakan bahwa kepemilikan Qatar akan tetap ada dan skala investasi yang masih mereka buat di klub tampaknya mendukung klaim itu.

Mereka sedang membangun pusat pelatihan canggih baru yang akan siap pada 2023 atau 2024 dan juga berniat untuk mulai merenovasi stadion sepenuhnya segera sesudah itu.

Ada pengakuan bahwa Al-Khelaifi masih memiliki banyak hal ditawarkan ke depannya, namun dikatakan bahwa ia tetap lapar untuk terus membentuk masa depan PSG, dan sepakbola Eropa pada umumnya.

Jadi, meski pun ia mungkin tidak hadir di makan siang yang menjadi titik krusial bagi era Paris 11 tahun yang lalu, ia pastinya sudah berada di meja makan top Eropa sekarang.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0