"Ini situasi yang aneh," kata pelatih Inter Milan, Antonio Conte kepada Rai Sport setelah timnya kalah di Coppa Italia dari Juventus pada 2 Februari. "Tidak ada gunanya menyembunyikannya. Kami punya proyek tetapi dihentikan pada Agustus."
Conte, tentu saja, dikenal dengan gaya khasnya yang kerap terbuka mengkritik pemilik Inter yang tergolong pelit, dengan berbagai pembenaran atas kinerja dirinya.
Dalam hal ini, ia terdengar ada benarnya. Lagipula, Inter belum mengeluarkan satu sen pun untuk membeli pemain baru sejak September tahun lalu.
Entah itu alasan atas ketidakkonsistenan Nerazzurri di lapangan musim ini, masih bisa diperdebatkan. Sejalan dengan pemilik klub, Suning, grup tersebut telah memenuhi hampir semua tuntutan transfer Conte sebelum dimulainya kampanye 2020/21.
Namun, jelas bahwa perusahaan yang berbasis di Tiongkok itu tidak lagi bersedia - atau mungkin mampu - melakukan investasi lebih lanjut pada pasukan Conte.
Sebuah laporan Corriere dello Sport pada 2 Januari yang mengklaim Suning bersedia untuk menjual klub dimentahkan oleh presiden Inter, Steven Zhang, yang menyebut berita tersebut tak punya dasar.
Akan tetapi, kurang dari dua pekan kemudian, CEO Nerazzurri, Beppe Marotta mengonfirmasi bahwa Suning sedang mempertimbangkan peluang untuk menjual klub.
"Kami tahu kami dapat mengandalkan basis yang kokoh," katanya kepada Radio Rai. "Kami aman. Ada rumor yang melayang-layang di atas kepala kami, tetapi kami seharusnya tidak peduli tentang hal tersebut."
Rumor tersebut tentu saja memicu kepanikan di kalangan fans. Bahkan, ada kabar yang menyebutkan bahwa Inter berada dalam kesulitan finansial yang sama besarnya dengan Barcelona dan situasi klub dalam bahaya.
"Saat ini, ada banyak kebingungan di sekitar klub dan orang-orang di Milan mengatakan banyak hal," kata Marco Bellinazzo dari Il Sole 24 ORE kepada Goal. "Namun, Suning telah menjamin untuk melunasi semua utangnya hingga akhir tahun. Tidak ada ancaman tunggakan bagi Inter."
"Suning telah menginvestasikan €600 juta di Inter sejak mengakuisisi klub lima tahun lalu, namun sekarang mengalami banyak masalah, sama seperti kebanyakan perusahaan, di tengah pandemi, yang telah menyebabkan krisis ekonomi dalam sepakbola di level internasional."
"Jadi, karena mereka rugi sekitar €100 juta pada 2020, Inter sekarang menghadapi masalah likuiditas, seperti banyak klub besar Eropa, termasuk Barcelona di Spanyol."
Getty/Goal"Namun, terlepas dari pandemi, Suning punya masalah politik. Pada Agustus tahun lalu, pemerintah Tiongkok memberlakukan pembatasan investasi asing di sektor nonstrategis, termasuk sepakbola, yang jelas bertentangan dengan dorongan pemerintah mereka dua tahun lalu."
"Sekarang, Tiongkok ingin terus berinvestasi pada sepakbola, namun mereka memilih untuk melakukannya hanya dalam kancah domestik. Jadi, investasi di luar negara mereka tidak lagi menjadi tujuan [pemerintahan di] Beijing."
"Kedua faktor ini - masalah likuiditas di Inter yang disebabkan oleh pandemi; dan masalah politik - telah memaksa Suning ke pasar finansial untuk mencari pihak yang dapat meminjamkan uang kepada mereka karena mereka membutuhkan €150 juta- €200 juta sebelum 30 Juni untuk menutupi kewajiban finansial mereka."
"Selain itu, Suning harus membayar obligasi sebesar €350 juta yang ditetapkan saat mereka mengambil alih Inter pada 2016. Jadi, semua ini menjelaskan mengapa mereka mulai mencari investasi, sekitar Oktober atau November tahun lalu."
Tentu saja, sekadar konfirmasi bahwa Suning sedang mencari investor baru cukup untuk membuat para fans Inter khawatir dan membandingkan situasi mereka dengan rival sekota, AC Milan yang pernah terjerumus ke dalam kekacauan finansial di bawah kepemilikan asal Tiongkok.
Pada 2018, gerbong investasi Yonghong Li, Rossoneri Sport Investment Lux, terpaksa menyerahkan kendali klub kepada Elliott Management Corporation setelah gagal memenuhi pembayaran pinjamannya kepada korporasi asal Amerika Serikat yang telah membantu mendanai proses akuisisi klub setahun sebelumnya.
Hanya saja, posisi Suning sama sekali tidak berbahaya, meski pun Zhang mengkonfirmasi pada Jumat (19/2) bahwa perusahaannya akan tanpa ragu-ragu akan menutup dan memangkas bisnis ritel yang tidak terkait [di Tiongkok].
"Mereka tidak dalam situasi yang baik karena pandemi," terang Bellinazzo. "Mereka memiliki beberapa masalah di Tiongkok, sekali lagi terkait karena pandemi, namun juga sebagian karena investasi di mal dan supermarket yang tidak berjalan dengan baik. Mereka memiliki kewajiban pembayaran hampir €1 miliar yang jatuh tempo."
"Namun, jangan lupa bahwa Suning adalah raksasa keuangan yang menghasilkan hampir €70 juta setahun. Jadi, itu solid, meski pun sedang mengalami krisis yang serius."
Getty ImagesPerlu juga ditekankan bahwa Suning mencari investor - bukan pembeli.
Berita mereka bahkan mempertimbangkan tawaran untuk Inter adalah hal yang signifikan dan mengejutkan banyak orang, termasuk mantan presiden Massimo Moratti.
Akan tetapi, Suning tidak hanya ingin memangkas kerugian dan kabur begitu saja, seperti yang digarisbawahi oleh fakta bahwa mereka menolak tawaran €750 juta, sesuai laporan, dari perusahaan BC Partners yang berbasis di London untuk mengambil alih kendali klub.
"Paket keuangan yang disajikan oleh BC Partners jelas tidak memuaskan menurut Suning dan mereka tidak serta merta gegabah langsung menjual klub," lanjut Bellinazzo.
"Jadi, saat ini Suning sedang menunggu tawaran yang lebih tinggi dari BC Partners, sembari juga berbicara dengan perusahaan lain tentang pinjaman atau akuisisi saham minoritas di klub tersebut."
"Perlu dicatat bahwa, pada akhir bulan, dana bisa datang dari LionRock Capital, yang saat ini memiliki 31 persen saham klub. Jadi, pada 28 Februari, bisa ada pinjaman, atau penjualan minoritas atau saham mayoritas di klub. Pada dasarnya, semua opsi masih ada di meja mereka."
"Suning tidak pergi ke pasar untuk sekadar menjual klub tetapi terbukti bahwa jika tawaran datang mendekati apa yang dibutuhkan Suning - yaitu antara €900 juta dan €1 miliar, yang memastikan tidak ada kerugian atas dana pembelian mereka - maka mereka akan mempertimbangkannya dengan serius."
"Tapi itu bukan pilihan yang mereka sukai. Penjualan tidak ditetapkan begitu saja - terutama dengan Inter akhirnya mencapai target untuk memperebutkan gelar. Agak konyol untuk melepas klub beberapa bulan sebelum musim berakhir."
Getty/GoalMemang, Suning sangat ingin melihat investasi mereka di Inter terbayar dengan gelar juara Serie A pertama klub sejak terakhir merengkuh treble pada 2010.
Menjelang derbi pada Minggu (21/2) melawan AC Milan di San Siro, Nerazzurri unggul satu poin dari rival sekota mereka di puncak klasemen dan, mungkin yang lebih penting, delapan poin di atas juara bertahan Juventus.
Tampaknya tidak mungkin, bahwa akan ada perubahan kepemilikan sebelum selesainya perburuan Scudetto.
"Ada banyak minat dalam dunia sepakbola saat ini, terutama sepakbola Italia," kata Bellinazzo. "Dan Suning telah berulang kali dan dengan jelas menyatakan bahwa mereka tidak ingin meninggalkan Inter sepenuhnya."
"Jadi, kecuali ada tawaran besar yang datang, saya tidak melihat Suning hengkang. Namun, Inter pastinya harus mengelola fase ini secara mandiri dalam hal keuangan."
"Investasi besar, seperti yang dilakukan Suning di Inter baru-baru ini, akan menjadi kenangan setidaknya selama satu musim sampai kita dapat melihat cahaya di ujung terowongan pandemi."
Intinya, jika Suning tetap memimpin Inter, Conte mungkin akan kembali mengeluhkan sikap pelit mereka sebelum bursa transfer musim panas berikutnya berakhir.




