Berita Live Scores
Perjalanan

Ralf Rangnick Ingin Latih Klub League Two - Bagaimana Akhirnya Jadi Bos Manchester United

08.47 WIB 07/12/21
Ralf Rangnick 2021-22 Manchester United
Rangnick ingin membantu tim kasta bawah Liga Inggris menjadi tim kuat, tetapi Ed Woodward memberinya jalan pintas.

Manchester United, boleh menjadi klub Inggris pertama yang dilatih Ralf Rangnick. Akan tetapi, sepakbola negara tersebut bukan sesuatu yang asing untuk sosok berusia 63 tahun itu.

Perkenalan pertama Rangnick dengan sepakbola Inggris terjadi pada 1979. Kala itu ia datang ke negara tersebut guna melanjutkan studi di Universitas Sussex, Brighton.

Sembari menimba ilmu, Rangnick gabung dengan klub kampusnya, Southwick FC. Kala itu, ia masih berusia 21 tahun dan bermain di posisi gelandang tengah.

Sayang, karier Rangnick bersama Southwick FC, berjalan tidak baik. Ia harus mengalami cedera tulang rusuk akibat menerima tekel keras dari belakang sehingga membuat menepi dari lapangan hijau selama beberapa pekan.

Setelah berpuluh-puluh tahun, Rangnick, datang kembali ke Inggris. Meski posisi berbeda, ia sudah paham dengan karakter permainan sepakbola negara yang menjuarai Piala Dunia satu kali tersebut.

Debut Rangnick, sebagai manajer interim Manchester United berakir indah. Ia membawa Setan Merah, mengalahkan Crystal Palace lewat gol tunggal Fred, Minggu (5/12).

Sebelum datang ke Manchester United, Rangnick sempat ditawari untuk menukangi Chelsea pada musim lalu. Namun, ia menolaknya karena The Blues, cuma memberikan kontrak selama empat bulan.

Rangnick pun tidak langsung mengiyakan saat petinggi Manchester United, menawari pekerjaan untuk membesut Cristiano Ronaldo dan kolega, selama enam bulan. Ia akhirnya menyetujuinya karena setelah itu dipercaya mengemban tugas konsultan klub selama dua tahun.

"Rangnick adalah penggemar Inggris. Dia kebanyakan menonton pertandingan Inggris. Melatih di Inggris adalah mimpi baginya," kata pelatih St Gallen Peter Zeidler, tentang Rangnick kepada Goal.

Zeidler, memang mengenal betul Rangnick karena sempat bekerja sama di Hoffenheim antara 2008 dan 2011. Ia menceritakan setiap kali berpergian, Rangnick selalu mencari surat kabar berbahasa Inggris untuk melihat berita hasil pertandingan.

“Dia bisa memberi Anda semua klub di divisi tiga Inggris.”

Tak sampai di situ, Rangnick masih membicarakan soal sepakbola Inggris, saat menjadi manajer olahraga dan pengembangan di Lokomotiv Moskow. Ia sering berbicara dengan rekan-rekannya untuk pindah ke Inggris.

“Beberapa minggu yang lalu, dia memberi tahu saya bahwa kita harus mengambil klub League One atau League Two dan melakukan hal yang sama seperti dengan Hoffenheim atau Salzburg dan Leipzig,” ungkap Zeidler.

“Dia terpesona oleh Inggris, dengan bahasa dan sepakbola Inggris. Dalam konteks seperti ini, orang selalu cenderung melebih-lebihkan, untuk mengatakan bahwa itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Tapi, baginya, itu adalah kebenarannya."

"Dia selalu mengagumi Arsenal asuhan Arsene Wenger yang menggunakan pemain muda. Ketika kami berada di Hoffenheim dari 2008 hingga 2011, dia selalu ingin melakukan apa yang dilakukan Wenger."

Kegemaran Rangnick, memakai pemain muda merupakan angin segar untuk akademi Manchester United. Maklum, kesebelasan tersebut punya segudang nama yang siap dipromosikan ke skuad senior.

Hanya saja, sebelum mulai membangun generasi bintang dari akademi Rangnick harus mampu membuat para pemain senior Manchester United, percaya lebih dulu. Tanpa hal tersebut sulit rasanya ia bisa membuat pemain muda Manchester United unjuk kemampuan di tim senior.

Rangnick, bertemu dengan para pemain Manchester United untuk pertama kalinya di Carrington, beberapa hari sebelum menghadapi Arsenal. Ia sudah menganalisis kekurangan dan kelebihan anak asuhnya.

Pertandingan kontra Arsenal, berakhir untuk kemenangan Manchester United dengan skor 3-2. Rangnick juga menonton langsung laga tersebut di Old Trafford, sambil tetap membuat catatan.

"Pertandingan kemarin [lawan Arsenal] menarik buat fans, tapi buat diriku, sebagai pelatih masa depan Manchester United, bukan laga itu yang kami butuhkan karena buatku sepakbola adalah meminimalisir faktor kebetulan, juga meraih dan memegang kendali permainan. Itulah sepakbola," ujar Rangnick.

"Inilah pendekatanku dan saya akan berusaha membantu para pemain bertalenta ini untuk berupaya menjauhkan bola dari gawang sendiri," Rangnick melanjutkan.

Kesan bagus diberikan Rangnick, untuk orang-orang yang bertemunya. Ia tampil cerdas, tenang, santai, dan berpengetahuan luas selama setengah jam, konferensi pers tatap muka di Old Trafford.

Rangnick memulai dengan lelucon tentang waktu awal pertemuan, memiliki bantahan ringan untuk pertanyaan tentang penandatanganan Erling Haaland. Walakin, yang paling penting, ia jelas dalam tujuannya di Manchester United.

Kerja keras menjadi kunci Rangnick, disegani di dunia sepakbola. Setiap kali berlatih ia membawa stopwatch yang akan digunakan untuk permainan yang disebut 'aturan delapan detik'.

Para pemain diperintahkan merebut bola dalam detik atau harus melakukan tembakan saat memegang bola selama sepuluh detik. Tidak ada waktu untuk leha-leha.

“Dia sangat menuntut. Seperti semua pelatih bagus yang saya alami, dia menggunakan kekalahan untuk mengajari Anda. Seiring waktu, saya memiliki dua tahun yang hebat bersamanya," kata Andreas Beck, yang bekerja dengan Rangnick di Hoffenheim.

“Ketika Rangnick menjadi bagian dari Bundesliga, dia pasti berinovasi. Kami memainkan permainan menekan yang luar biasa ini dengan Hoffenheim."

“Itu adalah gaya menyerang, tanpa waktu untuk bernafas, selalu berburu dan pada awalnya, kami mengincar tempat pertama. Tidak ada yang tahu Hoffenheim tapi itu sesuatu yang baru.”

Gaya menekan yang dimainkan banyak tim papan atas sekarang bukan lagi hal baru. Begitulah cara Manchester City mendominasi Liga Primer selama satu dekade terakhir dan apa yang membuat Liverpool begitu sukses di bawah Jurgen Klopp.

Bisa dibilang Rangnick adalah penemu gegenpressing. Hanya saja, ia tdak membicaran tentang itu, melainkan fokus untuk membantu Manchester United, ke permainan terbaik.

"Setiap kali saya datang ke klub lain di tengah musim, seperti yang terjadi di Stuttgart atau Schalke, Anda harus memastikan bahwa memiliki peluang besar untuk memenangkan pertandingan berikutnya. Itulah masalahnya dan kemudian, selangkah demi selangkah, biarkan para pemain berpartisipasi," tutur Rangnick.

"Mereka harus pergi bersama saya, mereka tidak hanya harus mengikuti instruksi saya, tetapi mereka juga harus setuju dengan gagasan bahwa saya dapat menawarkan kepada mereka bagaimana kami ingin bermain di masa depan."

"Itulah masalahnya. Itu harus terjadi selangkah demi selangkah. Tidak bisa dilakukan dalam satu atau dua hari. Tidak akan berhasil seperti itu."

Sadar waktu yang tersisa menungkangi Manchester United, tidak panjang Rangnick, menginginkan para pemain membantunya. Tanpa ada kerja sama, sulit untuk membuat perubahan secara cepat.

“Saya pikir untuk mendapatkan kendali, kami harus bermain secara proaktif, tidak peduli apakah kami sendiri yang menguasai bola atau tim lain yang menguasai bola,” katanya.

"Ini tentang membantu tim untuk bermain bersama, ini tentang kebersamaan, ini juga tentang semangat tim. Jelas itu tidak mudah, saya tidak bisa melakukannya dalam satu atau dua sesi latihan, bahkan dalam satu atau dua minggu."

"Ini bukan tentang bermain pressing atau counter-pressing demi itu. Ini tentang kontrol. Ini adalah target utama."