Sebastian Giovinco mengungkapkan bahwa para pemain Juventus merasa 'tertekan' selama masa jabatan Antonio Conte dan ketika sang pelatih pergi, ia menyebut timnya 'dapat bernapas, tersenyum, dan merasa terlahir kembali.’
Conte selama ini memang dikenal perfeksionis, dengan pendekatan intensif dan tuntutan tinggi kepada pemain, direktur, dan bahkan fans.
Hal itu juga yang sebabkan mengapa juru taktik asal Italia itu nyaris tidak menghabiskan lebih dari dua tahun melatih sebuah klub.
Pada 2014, Conte bahkan meninggalkan Juventus pada hari kedua sesi latihan pramusim jelang musim keempatnya menangani Si Nyonya Tua.
“Dia tidak pernah berhenti, seperti jack hammer (palu elektrik),” ucap Giovinco kepada media Italia, Cronache di Spogliatoio, Senin (17/4).
“Saya ingat suatu kali dia menegur Gigi Buffon karena selebrasi di ruang ganti, karena kami dituntut untuk terus berusaha dan mencapai rekor 100 poin Serie A," tutur lulusan akademi Juventus yang telah memutuskan pensiun pada September 2022 itu.
“Setelah dia pergi, para pemain bisa bernapas dan tersenyum lagi. Kami merasa terlahir kembali, karena kami telah diperas selama bertahun-tahun," imbuhnya.
Penggemblengan dalam sesi latihn bukan hal baru bagi para pemain Conte, itu juga yang ditengarai menjadi penyebab ia hanya bertahan selama dua tahun sebagai pelatih timnas Italia, dua tahun di Chelsea, dan meninggalkan Tottenham Hotspur setelah hanya 17 bulan.
Allenatore berusia 53 tahun itu saat ini masih menganggur sejak mengakhiri kontrak di Spurs lebih awal dengan persetujuan bersama, akhir Maret lalu. Ia kini dikaitkan kembali ke Serie A.
Dua mantan klub yang dilatih Conte, Juventus dan Inter, dilaporkan bisa jadi tujuan. Yang menarik, ia juga diisukan sebagai calon suksesor Jose Mourinho di AS Roma.
