Ketua PSSI Edy Rahmayadi & Ezra Walian - IndonesiaGoal / Abi Yazid

Anomali Sikap Edy Rahmayadi Terhadap Pemain Indonesia Ke Luar Negeri


OLEH   MUHAMMAD RIDWAN

Pernyataan yang buat geleng-geleng kepala kembali dilontarkan ketua umum PSSI Edy Rahmayadi. Menurut, ia tidak segan untuk mencoret pemain Indonesia yang merumput di luar negeri.

Tentu, perkataan yang diucapkan pria yang juga menjabat Pangkostrad TNI tersebut mengherankan. Mengingat, tidak ada yang salah dengan keputusan pemain merantau ke negara orang.

Akan tetapi, Edy mempunyai perspektif yang berbeda dengan hal tersebut. Ia merasa pemain asal Indonesia tidak seharusnya pergi, karena jumlah pesepakbola Tanah Air masih kurang banyak. 

Edy pun memberikan datanya yakni negara Spanyol mempunyai 4,2 juta pesepakbola dari 45 juta jiwa. Kemudian Malaysia 126 ribu pemain bola dari 28 juta penduduk. Sedangkan Indonesia yang penduduknya 250 juta jiwa hanya punya 67 ribu pesepakbola.

Alasan tersebut tetaplah tidak kongkret buat melarang pemain Indonesia berkarier ke luar negeri. Sebab, di negara orang, mereka bisa menimba ilmu karena kompetisinya jauh lebih bagus, dan dapat diterapkan saat berseragam timnas Merah Putih.

Apalagi, kompetisi Indonesia masih jauh dari kata sempurna. Buktinya, ada klub yang masih menunggak gaji pemainnya, stadion yang masih buruk, hingga operator kompetisi yang sudah menjanjikan uang subsidi sejak awal musim tidak kunjung lunas hingga liga selesai.  

Oleh karena itu, wajar bila pemain Indonesia memilih klub asing. Mengingat, kesempatan bermain di luar negeri belum tentu bisa datang lagi pada tahun-tahun berikutnya.  

"Jangan ada [pemain] yang keluar dari Indonesia, yang keluar Indonesia saya coret dari PSSI. Siapapun, kalau negara memanggil, tak boleh menolak. Kalau menolak, berarti pengkhianat bangsa," ucap Edy.

Kecaman Edy ini muncul setelah Evan Dimas serta Ilham Udin Armaiyn, memutuskan membela klub Liga Malaysia Selangor FA, pada musim depan. Ia khawatir kedua pemain tersebut sulit mengikuti program timnas Indonesia untuk persiapan Asian Games 2018.

Rasa khawatir ini karena klub hanya wajib melepas pemainnya bila agenda resmi FIFA, sementara Asian Games tidak masuk di dalamnya. Target yang dipatok Edy pada pesta olahraga terbesar di Benua Kuning ini tidaklah main-main. Pasukan Luis Milla tersebut diminta mencapai empat besar atau babak semi-final.

Tapi, seharusnya pria berusia 56 tersebut berkaca dengan Brasil. Negara tersebut menjadi salah satu eksportir pesepakbola terbesar, karena banyak pemain Brasil yang merumput di dunia.

Kepergian para pemain tersebut tak lantas mengurangi kekuatan timnas Brasil. Mereka tetap mampu tampil gemilang di berbagai ajang internasional yang diikuti bahkan hingga sekarang Selecao masih pemegang terbanyak juara Piala Dunia yakni lima kali.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi tak mengerti dengan sikap yang ditunjukkan Edy. Ia menyebutkan seharusnya pemain Indonesia didukung untuk berkiprah ke luar negeri bukan dipersulit seperti ini.

Acuan Imam, kompetisi kasta teratas di Tanah Air mengizinkan semua klub menggunakan tenaga asing. Sehingga sepatutnya pemain dari Indonesia juga diperbolehkan pergi ke luar negeri.  

"Saya belum menerima apa alasan pelarangan itu. Karena bagi saya, soal profesionalisme, dan menurut saya tidak ada masalah mereka main di manapun asal ketika timnas membutuhkan mereka, wajib hukumnya pulang ke Tanah Air," ujar Imam.

"Sekarang mereka [pemain] di musim kompetisi ini milih klub manapun di belahan bumi ini silakan. Tapi ketika PSSI dan timnas membutuhkan, mereka harus pulang."

Iklan
0