Angin Baru Dari J.League Untuk Asia Tenggara

Komentar()
Sebelum Chanathip Songkrasin, ada beberapa pemain Asia Tenggara yang pernah mencoba peruntungan di J.League. Mari melihat kembali perjalanan mereka.

OLEH   HIRONORI SAITO     PENYUSUN   ERIC NOVEANTO    

Pada 29 Juli 2017 di Sapporo Dome, 33,3353 orang menghadiri laga antara Hokkaido Consadole, tim yang baru kembali ke J1 dalam lima musim terakhir, dan Urawa Reds, salah satu tim terbesar di Asia. Tentu saja, orang-orang menantikan performa Consadole lawan Urawa, tapi ada fokus lain pada laga itu. Sangat populer di negara asal dengan mendapat julukan sebagai Messi dari Thailand, Chanathip Songkrasin melakoni debutnya dalam laga tersebut. Sekitar 30,000 bendera Thailand diberikan kepada para penonton di setiap pintu masuk stadion untuk momen itu. Sebuah pemandangan yang mengesankan untuk melihat banyaknya bendera Thailand dikibarkan di antara bendera dan syal Sapporo serta Urawa.

Selama jalannya pertandingan, Chanathip bermain brilian. Meski memiliki postur yang kecil, ia memiliki sentuhan penuh teknik dan kemampuan dribel kuat, serta mampu membuat lawan kewalahan. Di masa lalu, tidak banyak pemain Asia Tenggara yang mampu mencatatkan kesuksesan di J1. Namun, meski baru melakoni debut di J1, gelandang serang dengan tinggi 158cm tersebut bertarung keras melawan para pemain Urawa dan para penonton dibuat sangat antusias dalam beberapa kesempatan. Sebuah debut yang menawan, ini merupakan laga pertama di mana kemampuan pemain asal Thailand mendapat pengakuan.

Hingga saat ini, tak hanya Chanathip tapi kita juga mendengar sejumlah nama pemain Asia Tenggara lainnya yang berada di J.League seperti gelandang Jakkit Wachiprom, yang menandai gol pertama pemain asal Thailand di J3 pekan ke-34, juga ada gelandang Kagoshima United di J3, Sittichok Paso, serta penggawa tim nasional Kamboja yang membela Fujieda MYFC di divisi yang sama, Chan Vathanaka, yang mendapat julukan sebagai Messi asal Kamboja. Sejarah antara J.League dan pemain Asia Tenggara berjalan dengan seiring waktu.

Le Cong Vinh - Consadole Sapporo

Semua dimulai pada 2013, pemain populer asal Vietnam, Le Cong Vinh, yang dijuluki sebagai pahlawan negaranya, bergabung dengan Sapporo ketika masih berada di J2 waktu itu. Meski Vinh bergabung pada tengah musim, ia menunjukkan eksistensi dengan kualitas teknik tinggi dan mentalitas tangguh. Ia merupakan pioner yang membuktikan bahwa pemain Asia Tenggara cukup bagus untuk bersaing di J.League.

Setelah momen itu, hubungan antara Asia Tenggara dan J.League semakin mendalam. Didukung oleh performa sukses Vinh, J.League membangun sistem baru dengan tema “Aturan pendaftaran pemain asal negara afiliasi J.League,” yang mengizinkan para pemain dari negara yang berafiliasi dengan J.League untuk merapat tanpa batasan kuota pemain asing (3 pemain asing plus 1 dari Asia). Dengan sistem tersebut, ada peningkatan signifkan dari klub-klub yang menunjukkan ketertarikan merekrut pemain asal Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand dan Indonesia. Pada 2014, Ventforet Kofu mendatangkan penggawa timnas Indonesia, Irfan Bachdim (ditransfer ke Sapporo semusim berikutnya).

Pada 2016, pemuda populer asal Vietnam, Nguyen Cong Phuong bergabung dengan Mito HollyHock. Selain itu, ada pemain Indonesia lainnya, Stefano Lilipaly yang menyusul merapat ke Sapporo. Cerezo Osaka menjalin kerjasama dengan klub Thailand, Bangkok Glass dan mengelar pusat latihan di Thailand setiap tahunnya guna mengundang sejumlah pemain muda untuk mengikuti proses latihan. Jadi, jarak antara J.League dan beberapa negara Asia Tenggara secara drastis menjadi lebih dekat selama beberapa tahun terakhir.

Irfan Bachdim - Ventforet Kofu - JP OUT

Kita bisa melihat adanya pengaruh mereka baik di dalam dan luar lapangan. Saat Vinh berkostum Sapporo, ada banyak kesempatan di mana orang-orang asal Vietnam menghadiri langsung pertandingan timnya. Ketika saya mewawancarai seorang penonton asal Vietnam, ia berkata: “Saya senang melihat Vinh bermain secara langsung. Tapi saya lebih antusias dengan bagaimana menariknya untuk bisa menonton pertandingan secara langsung. Ini merupakan pengalaman pertama dan sebelumnya tak mengetahui betapa menyenangkan.” Dan, dengan senyum merekah di wajahnya, ia bertepuk tangan saat mendengar lagu kebesaran klub yang dinyanyikan oleh para suporter yang duduk di belakang gawang. Saya merasa ada atmosfer kuat di mana mungkin akan ada lebih banyak lagi yang bergabung ke J.League.

Chanathip, yang bergabung dengan Sapporo, juga membawa angin baru. Baru-baru ini, rombongan turis asal Thailand yang mengunjungi Hokkaido meningat pesat dan mulai sering melihat orang-orang Thailand mendatangi lapangan latihan tim untuk melihat Chanathip secara langsung. Mereka tersenyum lebar ketika mengambil gambar dengan sang pemain setelah latihan. Di kampung halaman mereka, Chanathip adalah figur penting yang Anda akan jarang sekali untuk bisa mendekatinya, tapi di Sapporo, mereka bisa sering berkomunikasi langsung. Jadi bisa dikatakan itu menjadi kesempatan spesial bagi turis asal Thailand. Dan sekarang, di restoran dalam Sapporo Dome di mana berlangsungnya pertandingan, ada masakan Nasi Gapao yang ditambahkan ke dalam menu.

Chanathip Songkrasin

Lebih lagi, menyusul kedatangan Chanathip pada juli lalu, media-media asal Thailand mulai sering mengirimkan koresponden mereka ke Jepang. Mereka menyewa apartemen di dekat pusat latihan tim, dan para jurnalis serta fotografer bisa secara dini mengerjakan cerita mereka dan mengirimkan skrip, foto dan video ke negara asal mereka. Pada suatu hari, ruang media justru lebih dipenuhi wartawan asal Thailand ketimbang Jepang.

Kota Sapporo menjadi lebih dingin setelah musim gugur. Saya asumsikan akan menjadi sulit bagi para wartawan asal Thailand yang datang dari tempat hangat, tapi saya dibuat terkesan dengan gairah mereka untuk meliput “Messi dari Thailand.” Saya merasa melihat mereka menunjukkan upata sehari-hari yang sama berharganya dengan saya. Beberapa berbicara bahasa Inggris dan beberapa lainnya tidak, jadi terkadang kami memiliki kesulitan untuk berkomunikasi satu sama lain, tapi itu tidak mengurangi daya tarik yang ada.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Setelah performa hebat Chanathip, saya melihat adanya liputan tentang berita transfer pemain Thailand lainnya ke J.League, seperti Teerasil Dangda atau Theerathon Bunmathan (sama-sama dari Muangthong United). Kita mungkin ke depan akan sering melihat para pemain Thailand bermain satu lawan lainnya di J.League. Atau mungkin akan ada beberapa pemain Thailand sekaligus berada di satu klub suatu hari nanti. Industri sepakbola Jepang harus terus dinantikan perkembangannya.

GFXID Pemain Asean J.League

 

Tutup