"Sampai jumpa, bukan selamat tinggal," reaksi seorang suporter Juventus di dunia maya menanggapi kepergian Andrea Pirlo.
Pirlo telah resmi bercerai dengan Juventus, hanya semusim setelah menjalani debutnya sebagai pelatih kepala.
Kepergiannya cukup disayangkan karena dicap sebagai juru taktik yang gagal. Meski sukses mempersembahkan dua trofi - Piala Super dan Coppa Italia - tapi itu tergolong minor bagi klub sebesar Juventus yang sebelumnya sukses mendominasi jagat Italia selama sembilan tahun beruntun.
Kegagalan mempertahankan Scudetto Serie A serta tersingkir lebih awal, di babak 16 besar Liga Champions menjadi faktor utama pemecatan Pirlo.
Cukup disayangkan, cap buruk dalam awal karier di dunia kepelatihan seakan-akan membuyarkan warisan hebatnya sebagai pemain.
Tak elok jika menjadikan Pirlo sebagai kambing hitam atas kegagalan Juventus musim ini.
GettyManajemen klub yang terkesan salah kaprah yang patut disalahkan. Terdengar tidak masuk akal menunjuk Pirlo, yang nol pengalaman melatih, pada awal musim 2020/21 untuk memimpin Bianconeri yang telah memenangkan sembilan trofi Serie A secara berturut-turut.
Tapi faktanya itu langkah yang ditempuh presiden Andrea Agnelli beserta wakilnya, Pavel Nedved dan direktur Fabio Paratici.
Keputusan yang tergolong seperti taruhan, yang bahkan tidak akan dilakukan tim-tim kuda hitam seperti Lazio dan Atalanta.
Terlepas dari raihan dua trofi, permainan Juventus di bawah Pirlo cenderung membingungkan, bagi fans dan juga para pemain sepanjang musim. Tapi tidak menjanjikan seperti yang digembar-gemborkan pada mulanya.
Si Nyonya Tua bahkan tertatih-tatih bersaing di papan atas klasemen dan nyaris terlempar dari empat besar, yang membuat mereka tidak bisa tampil di Liga Champions musim depan, apabila tidak mendapat "bantuan" dari Hellas Verona yang menahan imbang Napoli pada pekan terakhir liga.
Situasi yang dialami oleh Pirlo mirip seperti Juventus saat dikomando Maurizio Sarri. Permainan dan prestasi tim tidaklah memuaskan selama kampanye 2019/20, sang pelatih pun juga pada akhirnya dipecat kendati mampu mempertahankan Scudetto.
Ada kesimpulan yang bisa ditarik dari persamaan nasib Pirlo dan Sarri, yakni ketidakbecusan manajemen Juve dalam dua tahun terakhir berdampak pada penurunan prestasi tim.
GoalKini, para petinggi klub sudah mengambil langkah tegas usai memecat Pirlo. Massimiliano Allegri, pelatih sebelum era Sarri dan Pirlo, kembali direkrut.
Manajemen Juve sepertinya berharap klub bisa kembali ke trek yang "benar" seperti sudah dibuat oleh Allegri, juru latih yang mempersembahkan lima dari total sembilan dominasi Scudetto terakhir.
Peran Paratici sebagai direktur klub yang biasa menangani urusan transfer pemain dan penunjukkan pelatih -- termasuk mendepak Allegri dua tahun lalu -- pun dicopot, mengindikasikan Juve serius membenahi masalah tim.
Nasib serupa juga mungkin akan dialami oleh Agnelli, dengan beberapa laporan di Italia mengatakan bahwa Exor sebagai induk yang mengontrol operasional Juventus, mulai tidak puas dengan perannya sebagai presiden klub terlebih ia -- bersama dengan Real Madrid dan Barcelona -- bersikukuh mewujudkan proyek Liga Super Eropa yang mendapat kecaman luas dari publik mau pun UEFA.
Pemecatan Pirlo dan kepulangan Allegri memang bukan jaminan instan Juve bisa kembali berkuasa, namun setidaknya klub telah menyadari "salah kaprah" mereka selama dua musim ini.


