Pelatih timnas Indonesia di tiga ajang Piala AFF, Alfred Riedl telah berpulang pada Selasa (8/9), di Austria. Kepergian Riedl tentu meninggalkan kesedihan bagi pesepakbola Indonesia yang pernah dipoles bahkan diorbitkan olehnya.
Pada 2010 yang merupakan ajang Piala AFF pertama Riedl sebagai pelatih kepala Indonesia, ia mencoba sejumlah nama yang jarang mengisi posisi inti di timnas seperti Kurnia Meiga, Muhammad Nasuha, Zulkifli Syukur, Ahmad Bustomi, hingga Okto Maniani.
Tak hanya mengorbitkan nama-nama yang jarang menjadi langganan timnas, Riedl juga membuat sejarah baru bagi sepakbola Indonesia. Untuk pertama kalinya pada AFF 2010, Indonesia di bawah Riedl mulai memberi kesempatan pada pesepakbola naturalisasi yakni Cristian Gonzales dan pesepakbola keturunan yakni Irfan Bachdim.
Setelah melewatkan satu edisi Piala AFF (2012), Riedl kembali didaulat sebagai pelatih kepala timnas pada Piala AFF 2014. Kala itu, Riedl tak berhenti mengorbitkan nama-nama baru ke tim senior yakni Rizky Pora dan sang wonderkid, Evan Dimas, yang kala itu masih berusia 19 tahun.
Di samping itu, Riedl juga memberi kesempatan seluas-luasnya bagi pemain naturalisasi dan keturunan untuk memakai hak mereka membela timnas Indonesia. Victor Igbonefo dan Sergio van Dijk mendapat debutnya membela timnas di Piala AFF dan Riedl pun memanggil Raphael Maitimo untuk mengikuti Piala AFF keduanya.
Riedl yang gagal membawa Indonesia lolos fase grup Piala AFF 2014 sempat dilengserkan namun kemudian direkrut kembali jelang Piala AFF 2016. Pada kesempatan itu, Riedl kembali memberi bukti dengan membawa Indonesia ke final kejuaraan sepakbola antarnegara paling bergengsi di Asia Tenggara itu.
Pada AFF 2016, Riedl lagi-lagi memberi kesempatan bagi pesepakbola muda untuk menjalani debutnya di Piala AFF seperti Abduh Lestaluhu, Dedi Kusnandar, Yanto Basna, Muchlis Hadi, Bayu Gatra, Bayu Pradana, Hansamu Yama, dan Manahati Lestusen.
Rataan umur skuad pada ajang Piala AFF 2016 pun menjadi timnas Indonesia termuda yang pernah dibesut Riedl yakni dengan usia rata-rata 25 tahun, dengan pemain tertua pada skuad kala itu adalah Beny Wahyudi yang berusia 30 tahun.
"Saya kehilangan Riedl. Dia pelatih paling berjasa bagi karier saya, mungkin kalau bukan dia, saya takkan pernah dapat kesempatan main di timnas. Meskipun terlihat dingin, dia terbuka, jujur, kerap memberi masukan terbaik dan juga disiplin tinggi," ujar Abduh pada GoalIndonesia.
"Satu yang saya tidak pernah lupa, dia sangat mengutamakan stamina daripada nama besar, karena itu yang dianggap hal paling penting. Jadi, siapapun pemainnya baik itu pemain bintang, naturalisasi, keturunan, bahkan pemain muda sekalipun akan punya peluang besar masuk timnas jika memiliki stamina yang baik. Itu menjadi motivasi kuat bagi saya sampai akhirnya masuk timnas," kata Abduh menambahkan.
Goal / Abi YazidAbduh juga mengenang saat Riedl pasang badan untuk Abduh, yang sempat ricuh di laga pamungkas Piala AFF 2016 kontra Thailand, di Bangkok. Bagi Abduh, Riedl adalah pelatih yang penuh pengertian saat anak asuhannya terkena masalah.
"Saat saya ada masalah di final Piala AFF 2016 melawan Thailand di Bangkok, coach Riedl membela saya di depan media. Dia mengerti kalau kemarahan saya bukan tanpa sebab, melainkan dia paham karena itu diakibatkan oleh sesuatu hal," jelas Abduh.
Tak hanya pemain, Riedl juga membuka jalan bagi para asisten pelatih nya untuk berkarier di sepakbola Indonesia. Widodo C Putro salah satunya, ia memulai karier kepelatihannya sebagai asisten pelatih Alfred Riedl pada Piala AFF 2010 dan kemudian berlanjut pada Piala AFF 2014.
Setelah itu, karier Widodo pun cukup terangkat di Liga Indonesia dengan membesut beberapa klub top Tanah Air seperti Sriwijaya FC hingga Bali United.
Sementara dua asisten pelatih lainnya yang pernah bekerja sama dengan Riedl, yakni Wolfgang Pikal dan Hans-Peter Schaller, juga memiliki nasib baik setelah berkarier dengan di timnas. Setelah tak bersama Riedl, Pikal dan Schaller yang juga berasal dari Austria masih diminati oleh beberapa klub Liga Indonesia. Pikal pernah melatih di Arema dan Persebaya Surabaya, semnatara Schaller pernah menangani PSM Makassar dan Bali United.
"Coach Alfred pelatih yang selalu mengajarkan sifat respek terhadap coachingstaff, manajemen, pemain, suporter, dan media. Banyak hal yg saya pelajari dan menjadikan inspirasi saya untuk melatih sampai saat ini, tentu saya sangat kehilangan," ungkap Widodo ketika dihubungi.
Abi Yazid / Goal"Sosok Alfred, orangnya apa adanya dan disiplin. Dia tidak mau saya panggil coach kalau berdua kecuali di depan para pemain. Menurut dia, kami sama-sama pelatih, jadi panggil saja nama Alfred. Awalnya agak kikuk, tapi lama-kelamaan terbiasa juga," tutur pelatih Persita Tangerang itu.
Kepergian Riedl bukan hanya jadi kehilangan bagi pelaku sepakbola di Indonesia. Pelatih yang lama berkarier di Belgia saat masih aktif bermain itu, juga akan dikenang baik di negara Asia Tenggara lainnya, yakni Vietnam dan Laos.
Di Vietnam, Riedl pernah menangani Le Cong Vinh dan kawan-kawan pada Piala Asia 2007 dan juga membesut Vietnam di tiga ajang Piala AFF yakni 1998, 2000, dan 2007. Sementara di Laos, Riedl pernah berkarier di sana pada 2009-2010 sebagai pelatih kepala dan sebagai direktur teknik pada 2011-2012.
Goal / Abi Yazid