Stephan Schrock - FilipinaThe Azkals

Alasan Pelatih Filipina Paksa Pemain Pensiun Turun Gunung Lawan Timnas Indonesia

Pelatih Filipina Michael Weiss mengungkapkan alasannya memaksa mantan kapten tim Stephan Schrock untuk membatalkan pensiun demi dua pertandingan pertama Grup F kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia melawan Vietnam dan Indonesia.

Schrock menyatakan mengakhiri perjalanannya di tim nasional pada Januari 2023 setelah Filipina dikalahkan Indonesia 2-1 pada fase grup Piala AFF 2022. Weiss yang ditunjuk sebagai pelatih Filipina pada Juni lalu, memaksa pemain berusia 37 tahun itu untuk membatalkan pensiunnya.

Menurut Weiss, ia mempunyai 35 hingga 40 pemain yang bisa dipanggil memperkuat Filipina melawan Vietnam dan Indonesia. Weiss mempunyai pertimbangan tersendiri memilih memasukkan nama Schrock dibandingkan pemain muda yang merumput di Jerman, Sandro Reyes.

“Tugas saya adalah memasukkan sebanyak mungkin pemain muda untuk meremajakan tim. Tetapi, kami ada pertandingan menghadapi Vietnam, melawan Indonesia, dan kedua negara ini telah menunjukkan perkembangan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Mereka juga banyak pemain muda,” beber Weiss.

“Dari sudut pandang saya, saya harus membuat pilihan antara Schrock dan Reyes. Ketika ada di pertarungan yang sesungguhnya, atau situasi fifty-fifty, seorang Schrock sudah paham dengan situasi seperti ini dibandingkan mereka yang mempunyai talenta, tetapi belum siap.”

“Tua tidak masalah, paling penting adalah performa di atas lapangan. Selain itu komitmen dan antusiasme. Anda tidak akan tahu apa yang akan diperlihatkan dalam 20 menit, itu sangat banyak.”

Timnas FilipinaThe Azkals

Weiss juga mengungkapkan kekecewaan atas sikap publik sepakbola Filipina. Weiss pun memperlihatkan meme soal Schrock di media sosial. Schrock merupakan salah satu staf pelatih di Azkals Development Team yang berlaga di kompetisi domestik.

Meme itu menunjukkan tiga potongan foto Schrock dengan tulisan: 'MManajer di pagi hari, pesepakbola di sore hari, dan pelawak di malam hari'. Weiss menilai itu merupakan sikap yang tak menghormati Schrock terhadap sumbangsihnya kepada persepakbolaan Filipina.

“Orang-orang hanya bisa cepat mengetik sesuatu di komputer tanpa mereka tahu betapa mengganggunya itu buat dia. Anda bisa dengan mudah menulis kalimat buruk, dan buat saya itu tidak lucu sama sekali,” cetus Weiss.

“Saya tidak tahu mengapa orang-orang menertawakan pemain paling berjasa di negara ini. Menurut saya, itu tidak adil. Saya tahu bagaimana dia bekerja, dan buat saya, 20 atau 10 menit selalu menjadi opsi, mengingat pengalamannya bertanding melawan Vietnam dan Indonesia.”

Iklan
0