Syria WCQ2018

Akankah Takdir Membawa Suriah Ke Piala Dunia 2018?


OLEH    ERIC NOVEANTO Ikuti di twitter

Teriakan sukacita dikumandangkan para penggawa Suriah setelah mencatatkan hasil imbang 2-2 dalam lanjutan babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2018 kala menghadapi tuan rumah Iran.

Memang sekadar hasil imbang, tapi itu berarti lebih bagi para pemain dan tentunya masyarakat Suriah secara keseluruhan. Raihan satu angka di Tehran tersebut memastikan mimpi mereka untuk bisa tampil di Piala Dunia untuk kali pertama tetap terjaga.

SIMAK JUGA: Thailand Nyaris Buat Kejutan Di Australia

Takdir seperti tak berpihak pada Suriah pada mulanya, terlebih Iran nyaris menyegel kemenangan dengan keunggulan 2-1 mereka sempat bertahan hingga menit akhir permainan. Namun tanpa diduga, Omar Al Somah mengejutkan publik Azadi Stadium dan sebaliknya membuat masyarakat Suriah bersorak kegirangan setelah mencetak gol penyeimbang beberapa detik jelang wasit meniup peluit panjang.

Syria WCQ2018Getty ImagesSyria WCQ2018Syria WCQ2018

"Gol kedua! Gol kedua bagi tim kami! Siapa yang mencetak gol itu? Siapa? Somah! Itu adalah Somah! Itu adalah Somah!" teriak seorang komentator Suriah yang tak kuasa membendung air mata bahagianya. "Maafkan saya! Tapi saya sudah kehilangan [kendali emosi], tidak ada yang bisa menghentikan mereka!"

Sudah lebih dari enam tahun lamanya Suriah menderita akibat adanya perang saudara yang terjadi di negara Asia Barat tersebut dan selama itu pula tawa dan canda menjadi barang yang sangat langka di sana. Tapi kini, melalui sepakbola, setidaknya mereka punya alasan untuk sejenak bersuka cita dan merayakan hasil perjuangan tim nasional mereka.

SIMAK JUGA: Inilah Negara Peserta Piala Dunia 2018 Rusia

Hasil imbang tersebut juga menodai kesempurnaan Iran sepanjang babak kualifikasi berlangsung. Sebelum dibobol Tamer Haj Mohamed di menit ke-13, Iran menggenggam rekor impresif dengan selalu mencatatkan clean sheet dalam 13 pertandingan kompetitif terakhir mereka, tepatnya selama 1,121 menit atau lebih dari 18 jam secara keseluruhan.

Perjalanan Suriah hingga sejauh ini sungguh luar biasa karena mereka tempuh dengan segala kekurangan yang ada. Situasi dalam negeri yang tak kondusif membuat mereka 'terusir' dan harus menjadi tim musafir yang menjamu lawan-lawan di negara lain. Mereka harus pergi jauh ke timur hanya untuk menggelar partai kandang di Malaysia.

Syria WCQ2018

Kualitas tim Suriah sendiri sama sekali tak terpengaruh kendati suhu sosial dan politik mereka memecah belah pandangan insan sepakbola. Skuat Qasiun Eagles sempat ditinggal beberapa pemain kunci seperti striker veteran Firas Al Khatib misalnya pernah memboikot timnas sebagai bentuk protesnya kepada rezim Bashar Al Assad.

"Saya takut, saya takut," tutur Khatib dalam wawancaranya bersama ESPN beberapa waktu lalu. "Di Suriah, jika Anda bicara [menyampaikan opini] maka seseorang akan membunuh Anda atas apa yang Anda kemukakan, pikirkan dan bukan atas apa yang Anda lakukan."

SIMAK JUGA: Iran Catat Rekor Clean Sheet Di Kualifikasi Piala Dunia 2018

Namun di tengah situasi dilema, sang pemain berusia 34 tahun yang menghabiskan sebagian besar kariernya di Kuwait mengesampingkan egonya sekaligus mengambil risiko dengan kembali bergabung dan kembali mengemban ban kapten timnas, yang berarti akan melukai perasaan sebagian besar penduduk Suriah yang awalnya mendukung langkahnya memberontak pada pemerintah.

GFXID Firas Al Khatib SyriaGetty Images

"Di Suriah, ada banyak pembunuh. Tak hanya satu atau dua. Dan saya benci mereka semua. Tapi apa pun yang terjadi, 12 juta masyarakat Suriah akan mencintai saya, meski 12 juta lainnya tentu ingin membunuh saya," tegas Khatib.

Keputusan berani Khatib tersebut terbayar meski belum secara penuh. Suriah kini hanya tinggal berjarak empat pertandingan dari panggung tertinggi Piala Dunia. Australia akan menjadi tantangan pertama mereka dalam dua pertemuan play-off zona Asia sebelum nantinya ditunggu pemenang play-off zona Amerika Utara dan Tengah (CONCACAF) guna memperebutkan satu tiket menuju Rusia.

Akankah takdir akan membawa Suriah mewujudkan mimpi Piala Dunia? Apa pun hasil akhir yang dicapai pada akhirnya nanti, setidaknya kisah heroik mereka yang berjuang di tengah keterbatasan di dunia sepakbola bisa menjadi tamparan bagi negara-negara yang memiliki nasib lebih baik termasuk Indonesia.

Iklan
0