David Alaba Alphonso Davies Bayern Munich 2019Getty Images

Kenapa Akademi Bayern Munich Tak Lagi Memproduksi Superstar?

Ketika mengunjungi laman Akademi Bayern Munich maka Anda akan dihadapkan pada tulisan: "Apa persamamaan antara David Alaba, Holger Badstuber, Bastian Schweinsteiger, Owen Hargreaves dan Sammy Kuffour?"

Jawabannya tentu saja semua pemain tersebut berasal dari sistem akademi Bayern Munich. Tetapi mereka tidak menyebutkan hanya Alaba yang masih bermain di kasta tertinggi sepakbola dan diperkenalkan kepada publik pada dekade lalu. Tiga dari lima pemain itu sudah gantung sepatu, sementara Badstuber masih memperkuat Stuttgart di kasta kedua sepakbola Jerman setelah terdegradasi musim lalu. 

Pada Agustus 2017, Bayern Munich membuka konsep akademi baru yaitu FC Bayern Campus, dengan presiden Uli Hoeness menegaskan langkah tersebut sebagai revolusi strategi di level muda. 

"Dalam beberapa tahun terakhir, hasilnya kurang bagus. Tidak ada pemain yang bahkan bisa mendekat ke tim utama sejak David Alaba," kata Hoeness. "FC Bayern Campus yang baru akan menjawab kegilaan bursa transfer dan meledaknya gaji."

"Seperti banyak klub di seluruh dunia, akademi pemain muda merupakan mimpi lama kami. Yang Anda lihat sekarang bisa membuat semua kami bangga. Staff kami punya infrastruktur yang lebih baik dari lainnya."

Musim 2017/18, lima remaja Bayern tampil di Bundesliga. Hanya dua di antara mereka masih bertahan di klub. Bek Lars Lukas Mai gagal bertahan di Bundesliga bahkan ketika tim dihajar krisis di lini tengah yang memaksa Alaba jadi gelandang. Penyerang Franck Evina masih bersama Bayern namun dipinjamkan ke klub divisi tiga Uerdingen, sebelumnya dia gagal mencetak gol di 2.Bundesliga bersama Holstein Kiel musim lalu. 

Meritan Shabani mencatat debut pada 2018 dan berhasil mendapatkan kontrak baru, dia lalu tampil di 2018/19 namun akhirnya dilepas ke Wolves pada musim panas 2019. Dua remaja lainnya tampil di Bundesliga 2018/19. Jeong Woo-yeong mencatat dua penampilan sebelum pergi ke Freiburg sementara Alphonso Davies sekarang berstatus pilihan nomor satu di sektor kiri pertahanan Bayern, meski demikian dia bukan produk akademi karena dibeli dari Vancouver Whitecaps seharga £10 juta.

Transfer Davies merupakan ciri khas kebijakan Bayern dalam beberapa tahun ke belakang. Ketimbang memberi kesempatan pada pemain produk sendiri, mereka justru lari ke bursa dengan tujuan mencari pemain top dan youngster berbakat yang bisa dipoles menjadi bintang.

Renato Sanches FC BayernGetty

Renato Sanches yang dibeli seharga €35 juta gagal bersinar sementara anggota timnas Jerman U-21 Jann-Fiete Arp belum mencatat menit bermain untuk klub. Pembelian musim panas lainnya Mickhael Cuisance baru menorehkan 37 menit di Bundesliga yang tersebar di sejumlah laga sebagai pelengkap. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Bayern telah meminjam sejumlah nama besar seperti James Rodriguez dan Philippe Coutinho, ditambah Ivan Perisic dan Alvaro Adriozola. 

Badai cedera di lini belakang membuat Mai mendapat kesempatan duduk di bench tetapi tidak lebih dari itu tetapi Joshua Zirkzee jadi pengecualian karena pernah jadi starter di dua laga ketika Robert Lewandowski absen. 

Zirkzee adalah pemain impor dari Belanda, dia merapat ke akademi Bayern pada 2017 dari Feyenoord. Satu-satunya remaja Jerman yang memperkuat raksaa Bavaria di musim 2019/20 adalah Leon Dajaku, yang pernah menghabiskan enam tahun bersama Stuttgart. 

Meski harus merelakan perkembangan sejumlah pemain muda mereka untuk membuktikan diri di tempat lain, Bayern Munich percaya diri mereka akan memetik hasil yang manis dalam beberapa tahun ke depan. 

Mereka telah merekrut dua pelatih muda terbaik dari RB Leipzig. Joachen Sauer datang pada 2017 sebagai kepala akademi dan Sebastian Hoeness mengikuti jejak untuk melatih tim U-19 dan sekarang memimpin Bayern Munich II di kasta ketiga sepakbola Jerman. 

Martin Demichelis (pelatih U-19) dan Miroslav Klose (pelatih U-17) bisa berbagi pengalaman internasional mereka pada pemain-pemain muda ini sementara pelatih kepala tim senior Hansi Flick belakangan memperlihatkan minat untuk membeli pemain muda ketimbang pendahulunya Carlo Ancelotti dan Niko Kovac. 

Hoeness berlatih bersama tim cadangan, yang sekarang tertinggal satu poin dari rival lokal tim senior 1860 Munich. Bayern II diperkuat bakat-bakat terhebat klub termasuk Arp, Mai dan Oliver Batista Meier. Dia menilai kampus olahraga yang baru bisa jadi penentu dan bersikeras Bayern belum terlambat menciptakan pemain berkualitas untuk mengisi skuad utama. 

"Jelas belum telat. Kami bahagia kampus bertahan dan tim bisa mengambil keuntungan besar dari kondisi ini," ujar Hoeness pada Goal. "Sekarang kami ingin menuntaskan pekerjaan dan mengembangkan pemain yang bisa dipertimbangkan untuk skuad profesional dalam waktu dekat ini."

"Saya sangat terkesan dengan kinerja dan atmosfer di kampus. Semua orang punya tujuan sama yaitu mengembangkan pemain. Langkah yang tepat telah diambil klub."

Ketua umum Oliver Kahn mengambil alih kendali dari paman Hoeness, Uli Hoeness pada Januari lalu dan dia mengutarakan harapannya. 

"Mengembangkan pemain muda yang punya potensi untuk menjadi penerus pemain seperti Bastian Schweinsteiger, Philipp Lahm, Thomas Muller, David Adala atau Toni Kroos adalah tujuan kami," ujarnya pada Sport Bild. 

Bayern II dipastikan tidak akan diperkuat oleh dua pemain kunci pada musim depan karena top skor Kwasi Okyere Wriedt dan bek Derrick Kohn sudah sepakat untuk bergabung ke Willem II, yang artinya dua pemain yang lebih muda lainnya akan mendapatkan promosi. 

Momen ini menjadi indikasi jika pekerjaan Bayern masih jauh dari kata tuntas. Wriedt punya 17 gol dari 25 laga untuk tim cadangan namun dia tidak pernah dinilai punya kapasitas untuk mendapatkan satu tempat di tim utama. 

Bayern Munich punya faslitas akademi mewah, namun mereka masih butuh waktu untuk menipiskan jarak kualitas dengan tim utama ditambah harus lebih sering memberi kesempatan lebih kepada youngster sebelum mewujudkan mimpi melihat Alaba atau Badstuber baru beredar.

Iklan
0