OLEHAGUNG HARSYAIkuti @agungharsya di twitter
Kekalahan Ajax Amsterdam dari FC Twente pada babak 16 besar Piala KNVB, Kamis (21/12) malam, rupanya menandai akhir kepelatihan Marcel Keizer.
Secara mengejutkan, direksi klub mengambil langkah tegas dengan memutus kontrak kerja sama sang pelatih. Padahal, Keizer membawa Ajax meraih hasil gemilang ketika menghadapi rival-rival pentingnya di Eredivisie Belanda musim ini. Ajax mampu menang telak 4-1 atas Feyenoord Rotterdam, Oktober lalu, kemudian menggilas PSV Eindhoven 3-0. Pekan lalu, giliran AZ Alkmaar, yang menghuni peringkat ketiga klasemen, dengan skor 2-1.
Rentetan kemenangan itu tidak cukup. Keizer dipecat bersama dengan dua asistennya, yaitu Hennie Spijkerman dan Dennis Bergkamp.
"Manajemen klub tidak cukup yakin ambisi Ajax dapat diwujudkan bersama mereka," demikian pernyataan resmi klub.
"Hasil mengecewakan dari sudut pandang olahraga juga menjadi alasan keputusan ini. Perihal Bergkamp, ada pula perbedaan pendapat tentang implementasi kebijakan teknis."
General manager Edwin van der Sar mengatakan, dirinya dan Marc Overmars sudah membahas berbulan-bulan tentang "penurunan permanen tim utama". Hal lain yang menjadi alasan adalah kegagalan Ajax di pentas Eropa. De Godenzonen tersingkir lebih dini di play-off Liga Champions dan Liga Europa.
Bagi pengamat, pertanyaan tentang kualitas kepelatihan Keizer bukan hal baru, tetapi pengambilan waktu Ajax dinilai mengejutkan.
"Ajax tim muda yang dipuja-puji berlebihan. Mereka selalu terlihat bermain dengan lima orang di depan, lima di belakang, sama sekali tanpa ada yang berada di lini tengah," ujar pelatih veteran Aad de Mos kepada Voetbal International.
"Hasil pertandingan menghadapi NAC Breda [8-0] mengecoh, padahal perkembangannya sedikit."
Pada laga terakhir sebelum winterstop menghadapi Willem II Tilburg, Minggu lusa, Michael Reiziger ditunjuk sebagai pelatih interim Ajax.


