26ace4fc7478d6d933c396fdafdc90b552c1c338

Ajax Amsterdam Kini Bersolek Dengan Resep Jerman


OLEHAGUNG HARSYAIkuti @agungharsya di twitter

Kemunculan Alfred Schreuder pada sesi latihan Ajax Amsterdam, Kamis (4/1), melengkapi awal langkah baru yang ditempuh manajemen klub top Eredivisie Belanda itu.

Schreuder meninggalkan jabatan di TSG Hoffenheim untuk menjadi bagian dari staf kepelatihan Erik ten Hag di Sportpark De Toekomst. Pekan lalu, Ten Hag resmi menjadi pelatih baru Ajax menggantikan tugas Marcel Keizer, yang diberhentikan manajemen karena menilai kinerjanya tidak mencerminkan ambisi tinggi klub. Manajemen Ajax juga memutus kerja sama dua asisten Keizer, yaitu Dennis Bergkamp dan Hennie Spijkerman.

Penunjukan Ten Hag mirip seperti saat manajemen Ajax memilih Peter Bosz guna meneruskan tugas Frank de Boer pada awal musim 2016/17. Ajax membutuhkan penyegaran agar dapat kembali meraih sukses tidak hanya di domestik, tetapi juga di Eropa. Metode dan taktik kepelatihan yang diusung De Boer terasa mulai usang. Meski mampu merebut empat titel landskampioen secara beruntun, De Boer tak mampu membawa Ajax bicara banyak di Eropa.

Meski inovatif, Bosz merupakan pilihan aman yang dapat diterima karena dikenal sangat memegang filosofi Cruyffian. Prinsipnya, pemain harus segera merebut bola saat hilang penguasaan hanya dalam waktu empat detik. Para pemain Ajax butuh waktu dalam menyerap metode tersebut. Setelah sempat tertatih di bulan-bulan awal, Bosz mampu mengantar Ajax ke final Liga Europa. Itu merupakan pencapaian regional tertinggi Ajax dalam dua dasawarsa.

Namun, bulan madu Ajax dan Bosz berakhir prematur. Ketidakharmonisan Bosz dengan staf kepelatihan Ajax menjadi pangkal masalah yang tidak bisa diselesaikan. Pelatih 54 tahun itu lalu pindah ke Borussia Dortmund dan manajemen pun menunjuk Keizer, pelatih Jong Ajax, sebagai pengganti.

5c9729ce72542a1d27c95551c7abdbafee1868f5

Ajax ketika disingkirkan Nice pada kualifikasi Liga Champions, Agustus lalu.

Kesempatan menangani Ajax merupakan titik tertinggi kepelatihan Keizer. Sayangnya, bencana mengawali musim Ajax. De Godenzonen disingkirkan Nice pada babak kualifikasi Liga Champions. Kemudian, di Liga Europa, Ajax juga tak mampu melewati hadangan Rosenborg. Untuk kali pertama dalam 51 tahun, musim Eropa Ajax berakhir lebih dini.

Keizer masih mendapat kesempatan. Sampai dipecat, rekornya tidak bisa dibilang buruk. Dalam 24 penampilan, Ajax hanya kalah lima kali. Sebanyak 14 pertandingan berhasil dimenangkan. Artinya, Keizer mencatat rasio kemenangan 58,3 persen. Catatan itu bahkan masih lebih baik jika dibandingkan dengan Bosz pada periode yang sama.

Pemecatan Keizer memang sangat mengejutkan. Ajax mampu mengalahkan tiga tim saingan papan atas Eredivisie, yaitu Feyenoord Rotterdam, PSV Eindhoven, dan AZ Alkmaar. Keizer dinilai sukses merevitalisasi fungsi libero dengan memainkan gelandang Frenkie de Jong sebagai bek pengatur serangan. Jumlah produktivitas gol pun terbilang memuaskan.

Namun, kegagalan Ajax melewati FC Twente pada Piala KNVB menjadi batas kesabaran manajemen klub.

"Pimpinan klub akan mendiskusikan penghentian kontrak kerja sama. Manajemen merasa tidak punya cukup kepercayaan bahwa ambisi Ajax dapat terwujud bersama mereka. Hasil mengecewakan juga menjadi alasan keputusan ini," terang pengumuman resmi Ajax, 21 Desember lalu.

f16c3b42cd66bd042464312b924d18efe4a2b6ea

Memiliki rasio kemenangan positif, tapi Keizer tetap dipecat.

Pemecatan Keizer, Bergkamp, dan Spijkerman menunjukkan suhu internal manajemen Ajax masih bergolak. Pada 2010 lalu, Johan Cruyff menggagas "revolusi beludru" untuk mengembalikan kejayaan Ajax. Caranya, menempatkan orang-orang yang dianggap memahami kultur klub di posisi strategis.

Pada perkembangannya, gagasan ini tidak pernah berjalan dengan sempurna. Selalu ada perbedaan pendapat, pergantian personel baik di susunan kepengurusan maupun kepelatihan, sampai akhirnya Cruyff sendiri pun menanggalkan jabatannya di kursi dewan pengawas.

Sepeninggal Cruyff, "jantung teknik" Ajax dipegang oleh general manager Edwin van der Sar, direktur olahraga Marc Overmars, dan Dennis Bergkamp selaku staf pelatih penghubung tim utama dengan tim junior. Ketiganya tidak selalu sependapat. 

Sebelum memutuskan pindah ke Dortmund, Bosz meminta syarat bertahan, yaitu posisi Bergkamp dan Spijkerman diganti. Van der Sar dan Overmars tidak mengabulkannya. Herannya, enam bulan berselang, Bergkamp dan Spijkerman malah dipecat. Kini, Overmars menjadi satu-satunya "jantung teknik" Ajax setelah Van der Sar menyatakan diri lebih berfokus pada tugasnya sebagai general manager.

26ace4fc7478d6d933c396fdafdc90b552c1c338

Ten Hag dianggap sebagai pelatih yang tak takut berinovasi.

Nama pelatih baru Ajax tak langsung seketika diumumkan, meski Ten Hag, yang saat itu menangani FC Utrecht, dijagokan sebagai kandidat unggulan. Ketika nama Ten Hag diumumkan, tidak ada kejutan berarti. Kepiawaian Ten Hag dalam meramu taktik dianggap layak diuji di klub seperti Ajax. Hanya, sungguh disayangkan Ajax harus membuang banyak waktu sebelum berani menempuh keputusan tersebut.

Atmosfer pemilihan Ten Hag seperti halnya kala penunjukan Bosz satu setengah tahun sebelumnya. Seorang figur pelatih yang tidak sarat dengan kultur Ajax, sebagaimana yang diiginkan "revolusi beludru" Cruyff, tetapi memiliki metode kepelatihan yang inovatif. Metode yang lebih akrab dengan arus sepakbola modern, alih-alih mazhab sepakbola Belanda klasik.

Ten Hag mengawali karier bermainnya pada 1989 bersama FC Twente. Dia tidak pernah bermain membela De Grote Drie. Sempat bolak-balik ke De Graafschap, RKC Waalwijk, dan Utrecht, Ten Hag memperkuat Twente pada tiga periode yang berbeda sebelum mengakhiri kariernya di kub berjuluk Tukkers itu pada 2002.

Karier kepelatihannya dimulai dengan menjadi asisten di Twente dan kemudian PSV. Pada 2012, Ten Hag dipercaya menangani Go Ahead Eagles. Overmars saat itu menjadi direktur olahraga klub asal Deventer itu. Hanya semusim, Ten Hag pindah menangani tim amatir Bayern Munich. Selama dua tahun di klub Bavaria itu Ten Hag banyak belajar dari Pep Guardiola.

Kembali ke Belanda pada 2015, Ten Hag menjadi pelatih merangkap direktur olahraga Utrecht. Pada musim pertamanya, Ten Hag membawa Utrecht finis di peringkat kelima Eredivisie dan mencapai final Piala KNVB. Musim berikutnya, Utrecht finis di peringkat keempat dan lolos ke kualifikasi Liga Europa.

280ffc207b1d395eb0f97ba3a6081d87bda743de

Utrecht saat mempermalukan tuan rumah Ajax di musim ini.

"Masalah kunci sepakbola Belanda adalah kombinasi antara aspek teknik, taktik, fisik, serta keseimbangan dengan relasi, tingkah laku, dan emosi. Enam aspek ini lah yang membentuk atlet secara total," ungkap Ten Hag menjabarkan metode kepelatihannya, November lalu.

"Awalnya, Anda harus memahami kepribadian pemain. Anda harus tahu siapa yang berada di balik si pemain. Saya bisa membacanya dari cara pemain bergerak, caranya merespon saat kehilangan bola, saat dia melakukan kesalahan atau dilanggar. Saya bisa membentuk gambaran seseorang dengan utuh."

Ten Hag tidak segan mengabaikan mazhab sepakbola Belanda yang mengharuskan tim bermain dengan formasi 4-3-3. Di bawah kepelatihannya, Utrecht bermain dengan empat gelandang dalam formasi berlian, satu inside forward, dan satu penyerang tengah. Dengan taktik seperti ini, pemain seperti Yassin Ayoub, Zakaria Labyad, dan Sebastien Haller berkembang dan memancarkan sinar.

Urby Emanuelson, yang pernah bermain untuk Ajax, AC Milan, Fulham, AS Roma, dan timnas Belanda, menjelaskan apa yang dilakukan Ten Hag dalam membawa Utrecht tampil gemilang dengan materi pemain serta anggaran terbatas.

"Berkat pengalamannya bersama Bayern dan Guardiola, Ten Hag lebih berpikiran internasional ketimbang kebanyakan pelatih Belanda lain," bebernya.

"Di Belanda, melawan 4-3-3 seperti tabu, tapi Ten Hag menggunakan sistem lain sebagai senjata. Dia melakukan apa yang dilakukan Pep. Dia mengubah banyak hal, dia menguji keyakinan, dan dia ingin agar para pemain bisa fleksibel. Tim seperti Barcelona, Manchester City, dan juga Bayern, melakukannya. Mereka bermain dengan tiga atau empat sistem yang berbeda-beda pada pertandingan yang sama."

b8a4819f6e3d6f6eca85766c6455bc6e45988cee

Ten Hag semasa menangani tim Bayern amatir.

Sepakbola Belanda sedang didesak untuk berinovasi. Oranje gagal melangkah secara beruntun ke putaran final Euro 2016 dan Piala Dunia 2018. Ini menjadi catatan kelam bagi negara yang pernah memodernisasi cara pandang bermain sepakbola melalui total football pada awal 1970-an. Tim seperti Spanyol dan Jerman kini malah dianggap lebih memainkan sepakbola Belanda daripada tim Belanda sendiri. Dua tim itu pula yang sukses menjuarai dua edisi Piala Dunia terakhir.

Ajax, salah satu ikon terbesar sepakbola Belanda, pun pada akhirnya memilih berinovasi seiring dengan penunjukan Ten Hag. Pembaharuan yang diinginkan manajemen klub tidak tanggung-tanggung. Aroma inovasi sepakbola Jerman kian kentara dengan kedatangan Schreuder sebagai asisten Ten Hag. Mirip seperti Ten Hag, Schreuder adalah pemain tidak terkenal yang kemudian menyerap ilmu kepelatihan Bundesliga.

Kompetisi negara tetangga Belanda itu tengah semarak dengan banyaknya bermunculan pelatih muda cemerlang. Berada di garda terdepan adalah Julian Nagelsmann, pelatih yang masih berusia 28 tahun saat dipercaya menjadi pelatih Hoffenheim. Jejak Nagelsmann diikuti oleh Domenico Tedesco, pelatih 31 tahun yang menangani Schalke 04.

Dari 18 klub Bundesliga, total terdapat enam pelatih berusia di bawah 40 tahun yang mengawali musim ini sebagai pelatih. Selain Nagelsmann dan Tedesco, mereka adalah Sandro Schwarz (FSV Mainz, 38 tahun), Manuel Baum (FC Augsburg, 37), Alexander Nouri (Werder Bremen, 37), dan Hannes Wolf (VfB Stuttgart, 36). Tidak ada kata terlambat jika Ajax ingin menularkan resep sukses itu dengan memperbaharui metode kepelatihan mereka.

43f8c572b9ce752061cea8356060326d3b0030cf

Schreuder mengaku bangga pernah mendampingi Nagelsmann.

Setelah periode singkat kepelatihan yang gagal di Twente, Schreuder diboyong Huub Stevens untuk menjadi asistennya di Hoffenheim pada akhir 2015. Beberapa bulan berselang, Stevens mengundurkan diri. Namun, Schreuder bertahan dan kemudian bertugas mendampingi Nagelsmann. Musim 2016/17, Hoffenheim secara mengejutkan finis di papan atas Bundesliga dan lolos ke babak play-off Liga Champions.

"Huub punya masalah dengan jantung dan kemudian Nagelsmann ditunjuk menggantikan sebagai pelatih kepala. Sebenarnya itu sudah direncanakan, tapi baru akan dijalankan awal musim berikutnya," kisah Schreuder.

"Sungguh kehormatan bekerja dengan Nagelsmann. Julian terpilih sebagai pelatih terbaik Jerman pada akhir 2016, itu bukan tanpa alasan. Saya sangat bahagia bisa menjadi bagian dari sukses Hoffenheim."

Ten Hag dan Schreuder diharapkan memberi warna baru bagi permainan Ajax menjelang paruh kedua Eredivisie. Saat ini kompetisi masih dalam periode rehat musim dingin dan baru akan bergulir dua pekan lagi. Debut kompetitif Ten Hag akan langsung diuji pada De Klassieker menjamu Feyenoord di Johan Cruyff Arena, 21 Januari mendatang.

Sebuah tantangan mendebarkan untuk langkah inovasi Ajax yang sangat layak dinanti.

Iklan