Berita Live Scores
Prancis v Rumania

Air Mata Dimitri Payet

06.19 WIB 11/06/16
Dimitri Payet France 10062016
Gol indah Dimitri Payet ke gawang Rumania menandai kebangkitan Prancis.

Prancis menangis. Dua kata berima ini masih membekas dalam ingatan saya. Itu gara-gara kegagalan beruntun Prancis melangkah ke Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Empat tahun sebelumnya, Prancis juga absen di Italia. Akibat dua kegagalan beruntun itu, sebagai seseorang yang mulai mengenal sepakbola pada awal 1990-an, bagi saya Prancis bak sebuah misteri.

Kegagalan Prancis ke Amerika Serikat sangat dramatis. Dengan sisa dua laga kualifikasi, Prancis di atas angin. Namun, tiket malah lepas dari genggaman. Sudah unggul 2-1 saat menjamu Israel hingga tujuh menit terakhir, Prancis malah tumbang, 3-2. Alhasil, laga pamungkas melawan Bulgaria sangat menentukan dan Prancis hanya membutuhkan hasil seri untuk lolos.

Laga kembali dimainkan di Paris. Gol Eric Cantona dengan cepat disamakan Emil Kostadinov di pengujung babak pertama. Petaka tercipta di 15 detik terakhir pertandingan. Lewat serangan balik cepat, Kostadinov menghujamkan bola ke dalam gawang Bernard Lama. Denyut jantung skuat Prancis seketika terhenti. Pelatih Gerard Houllier, asisten Aime Jacquet, serta Michel Platini yang menyaksikan dari tribun, terpana.

Ketika wasit menyudahi pertandingan, Didier Deschamps memegangi kepalanya sendiri seolah tak percaya. Air matanya menggenang dan dia terisak. Les Bleus gagal melintasi Atlantik. Sontak seluruh Prancis pun bersimbah air mata.

Les yeux pour pleurer. Kedua mata ada untuk menangis. Secara lebih luas, frase itu bermakna seseorang yang telah kehilangan segalanya sehingga hanya menyisakan kedua matanya untuk menangis.

Deschamps, yang pernah menangis karena mimpi Amerika-nya sirna itu, diminta membangun ulang kekuatan Prancis usai Euro 2012. Kapten juara dunia dan Eropa itu memulainya dalam kondisi empat pemain menjalani sanksi disiplin -- Yann M'Vila, Jeremy Menez, Hatem Ben Arfa, dan Nasri. Deschamps harus membangun istana dari debu. Memulainya dari para pemain muda. Generasi kedua "Black, Blanc, Beur".

Empat tahun kemudian, Jumat (10/6) tadi malam, Deschamps menginjakkan kaki lagi di atas lapangan Stade De France, Saint-Denis. Pertandingan pembukaan Euro 2016 antara Prancis dan Rumania masih berlangsung satu jam lagi. Matanya memandangi sekeliling stadion, pikirannya mengenang masa-masa kejayaan menjadi juara dunia bersama skuat "anak semua bangsa".

Tantangan Deschamps besar. Bukankah dua kali penyelenggaraan turnamen besar di rumah sendiri, Euro 1984 dan Piala Dunia 1998, mendatangkan mahkota juara? Belum lagi siklus 16 tahun menjadi juara Eropa. 

Faktor non-sepakbola turut membebani penyelenggaraan turnamen kali ini. November tahun lalu, masyarakat dunia dikejutkan dengan serangan bersenjata yang menewaskan 130 orang. Keamanan jadi tidak menentu sehingga Pemerintah Prancis memberlakukan kondisi darurat termasuk selama Euro berlangsung.

Ketika turnamen yang ditunggu-tunggu mendekati Hari H, Paris dilanda banjir besar. Kondisi politik pun tidak bisa dikatakan baik akibat demonstrasi pekerja menentang pemberlakuan undang-undang baru oleh Presiden Francois Hollande. Para pekerja jawatan kereta api Paris melancarkan mogok sehingga penonton laga pembukaan Euro dihimbau untuk datang lebih awal. Pesta sepakbola ini dimulai dengan nuansa kelam.