Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
FIFA-Boss Gianni Infantino beim Kongress (© picture-alliance/The Canadian Press/SID/DARRYL DYCK)

Diterjemahkan oleh

Abaikan Semua Skandal! Infantino Buka Suara dan Serang "Penyebar Kebohongan"

Presiden Federasi Sepakbola Internasional (FIFA), Gianni Infantino, memecah kebisuannya sepekan setelah berakhirnya turnamen Piala Dunia 2026, dengan membela turnamen yang dituanrumahi oleh Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat itu, sekaligus melancarkan serangan tajam terhadap pers internasional. Ia menuduh mereka "menyebarkan kebencian dan rumor palsu" serta "menanam benih kebencian", dalam pesan panjang yang ia unggah di akun Instagram-nya, di mana ia mengabaikan kritik yang ditujukan kepada turnamen dan sejumlah keputusan kontroversial.

Dalam unggahannya yang menjadi pengganti konferensi pers tradisional yang tidak digelar selama maupun setelah turnamen, pemimpin berkebangsaan Italia-Swiss itu memuji kesuksesan turnamen yang berakhir pada 19 Juli lalu dengan kemenangan Spanyol atas Argentina (1-0, setelah perpanjangan waktu), seraya menegaskan bahwa Piala Dunia "merayakan kemanusiaan dalam bentuk terbaik yang mungkin", dan bahwa semua yang hadir dalam turnamen "berada dalam keadaan aman dan bahagia".

Infantino juga memuji kerja sama antara tiga negara tuan rumah, menegaskan bahwa mereka "bekerja tanpa lelah untuk menyatukan dua negara yang sedang dalam keadaan perang", merujuk pada Amerika Serikat dan Iran. Ia menambahkan bahwa "Iran memasuki Amerika Serikat tanpa insiden atau konflik apa pun", dan bahwa FIFA "tidak bisa tidak merasakan kebanggaan dan keharuan yang mendalam melihat momen-momen cinta, kegembiraan, dan persatuan ini".

Mengabaikan kritik

Setelah menyampaikan pesan dukungannya terhadap turnamen, Presiden FIFA itu menanggapi seluruh kritik yang ditujukan kepada organisasinya, dengan secara khusus menyasar para jurnalis. Ia mengecam keras "mereka yang menyebarkan kebencian dan rumor palsu dari balik pena, kertas, dan layar mereka", serta menuduh mereka "menanam benih kebencian".

Ia juga menegaskan bahwa pers internasional "hanya menyebut sedikit orang yang visanya ditolak, dan mengabaikan jutaan orang yang diberikan visa", dalam upaya membalas kritik luas yang menyoroti pembatasan masuk ke Amerika Serikat, yang menyasar sejumlah negara, di antaranya Haiti, Senegal, dan Uzbekistan.

Infantino juga membahas kritik yang ditujukan kepada keputusan wasit dan keputusan disipliner dari sejumlah badan, dengan menegaskan bahwa praktik yang teramati itu "diterima secara luas di beberapa liga terbesar di dunia", dalam isyarat yang jelas terhadap kasus pembatalan hukuman larangan bermain pemain Nigeria Folarin Balogun, yang memicu kontroversi luas dan pertanyaan seputar pengaruh banding Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap keputusan FIFA.

Haiti sebagai contoh: mengabaikan pembatasan dan pihak yang dilarang

Secara mencolok, Infantino dalam pesannya mengutip Haiti sebagai contoh tim yang "tidak dihormati sebelum Piala Dunia, tetapi kemudian membuktikan kelayakannya", dengan mengabaikan, menurut surat kabar Prancis "L'Équipe", bahwa FIFA sendiri meminta Haiti mengganti kausnya karena sebuah gambar yang dianggap "berbau politik", hanya 4 hari sebelum laga pembukaannya. Selain itu, Haiti termasuk salah satu negara yang disasar oleh pembatasan masuk ke Amerika Serikat.

Menurut surat kabar tersebut, Presiden FIFA itu tidak menyebut wasit Somalia Omar Artan, yang dilarang memasuki Amerika Serikat meski ia dijadwalkan memimpin sebuah pertandingan dalam turnamen. Ia juga mengabaikan konflik antara Amerika Serikat dan Iran, di mana keikutsertaan timnas Iran di Piala Dunia sempat terancam hingga saat-saat terakhir, dan masuknya negara itu diberi syarat dengan aturan-aturan ketat yang oleh Iran dinilai tidak adil.

Infantino juga mengabaikan kritik keras yang ditujukan terhadap tingginya harga tiket, yang menghalangi kalangan penonton yang luas untuk hadir menyaksikan pertandingan di stadion, dalam sebuah turnamen yang diwarnai oleh banyak persoalan organisasi dan politik yang memicu kontroversi luas di kalangan olahraga dan media.

Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google