OLEH MUHAMAD RAIS ADNAN
Metode blusukan untuk mencari pemain berbakat mulai mencuat, saat pelatih tim nasional (timnas) Indonesia U-19 Indra Sjafri melakukannya ketika pembentukan timnas Indonesia U-19 yang dipersiapkannya untuk mengikuti Piala AFF U-19 2013 lalu. Ketika itu, Indra yang bahkan rela dengan biaya sendiri mencari pemain potensial hingga ke pelosok daerah.
Ketika pelatih asal Sumatera Barat itu berhasil membawa tim tersebut menjadi juara Piala AFF U-19 2013, seluruh pencinta sepakbola Indonesia pun mengapresiasi apa yang dilakukan Indra. Tapi, apakah metode blusukan itu ideal diterapkan di Indonesia yang geografisnya sangat luas?
Indra dengan tegas mengatakan hal seperti itu semestinya sudah tidak dilakukan lagi, jika melihat anggota federasi yang ada mulai dari Asosiasi Kabupaten/Kota (Askab/Askot), Asosiasi Provinsi (Asprov), hingga klub-klub yang berstatus amatir maupun profesional. Ditambah lagi, Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) juga memiliki diklat atau yang biasa disebut Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP).
Potensi itu yang sebenarnya harus dimaksimalkan oleh PSSI dan bersinergi dengan Pemerintah, guna memperkuat sistem pembinaan pemain usia dini di Indonesia.
Indra mencontohkan, sistem itu bisa dibangun dengan menggelar kompetisi mulai dari tingkat Askab/Askot untuk babak kualifikasi (bukan format turnamen), berlanjut ke Asprov, dan di tahun berikutnya yang menjadi juara di tingkat Asprov dipertemukan pada tingkat nasional. Sehingga proses yang dilalui oleh si pemain cukup panjang dan membuatnya lebih terasah dalam hal kemampuan dan mental bertanding.
"Makanya, tugas pokok PSSI saat ini sebenarnya adalah memperbaiki jaringannya, mulai dari Askab sampai Asprov. Kalau enggak diperbaiki, ya enggak bakal jalan sistemnya (pembinaan usia dini)," ucap Indra, saat berbincang dengan Goal Indonesia di Jakarta, Rabu (25/10) lalu.
"Yang paling penting, bagaimana mengumpulkan para pemain jangan dari blusukan lagi, tapi dari kompetisi yang teratur. Jadi gak ada lagi dalam satu waktu, ketika seleksi timnas, Asprov mengumpulkan pemain ramai-ramai untuk seleksi. Itu tingkat kesalahannya tinggi banget loh. Kalau dari hasil kompetisi, dan dibentuk tim scoutingnya di kompetisi itu, kemudian hasilnya didata, itu akan lebih bagus," jelas eks pelatih Bali United itu.
Menurutnya, semua kompetisi yang ada di Indonesia harus berada di bawah kontrol PSSI selaku induk sepakbola tertinggi di Tanah Air. Memang, eks pemain PSP Padang ini pun menyadari, seluruh Askab maupun Asprov PSSI memiliki kendala terkait finansial untuk memutar kompetisi.
GoalMaka itu, PSSI Pusat berperan penting di sini untuk mengedukasi para anggotanya tersebut guna mengatasi masalah itu. "PSSI harus mensupervisi pelaku-pelaku sepakbola bagaimana cari duit di situ, sehingga bukan dari sisi teknisnya saja. Mungkin ada dana subsidi untuk Askab dan Asprov, kalau tak ada dana bisa berkolaborasi dengan pemerintah soal infrastruktur. Atau seperti janji Pak Presiden Joko Widodo bolehkan lagi APBD untuk pembinaan," tuturnya.
"Bisa juga dengan menggandeng swasta yang sudah berjalan menggelar kompetisi, diakui saja jadi kompetisinya PSSI, kemudian dicarikan sumber dana baru. Jangan sampai juga swasta-swasta itu ingin menggelar sebuah kompetisi, festival, atau turnamen, dipersulit oleh PSSI maupun anggotanya. Misal, dalam hal penyediaan wasit. Karena PSSI itu pelayan sepakbola. Jadi semua kegiatan sepakbola itu harus dilayani, jangan dipersulit," papar pelatih berusia 54 tahun itu.
GoalLebih lanjut, Indra juga memberikan sebuah solusi lain, jika para Askab maupun Asprov masih sulit untuk menggerakkan kompetisi dalam waktu dekat, lantaran memang membutuhkan waktu terkait persiapan sumber daya manusia maupun dana. Adalah dengan memaksimalkan diklat-diklat yang ada di Indonesia, yang tentunya harus bersinergi dengan Kemenpora.
"Siapa yang tidak kenal jebolan pemain diklat ketika era Wiel Coerver? Tapi sekarang kan paling hanya dari Diklat Ragunan saja," ujarnya.
"Sebenarnya, timnas ini bisa dijadikan 13. Oke kalau tidak 13 timnas, mungkin bisa dibuat satu tim dipusatkan di Padang untuk wilayah Sumatera, kemudian di Jawa karena banyak pemain, mungkin bisa dibuat tiga tim. Lalu Kalimantan dibuat satu, Sulawesi satu, Ternate satu, serta Papua satu. Kompetisinya mereka bisa ikut Liga, kan tidak ada yang melarang. Itu kalau memang ide saya yang soal kompetisi dimulai dari Askab belum bisa," tambahnya.
Di samping itu, faktor lainnya yang bisa mendukung dalam proses pembinaan ini adalah adanya pelatih yang berkualitas dan berlisensi sesuai standar AFC. Itu supaya, para pemain muda tersebut mendapatkan program pelatihan yang benar.
"Kepengurusan sekarang sudah benar dengan menggelar banyak kursus untuk mencetak pelatih maupun instruktur. Tapi memang, hasilnya enggak akan langsung terlihat saat ini. Nah, itu yang harus dibutuhkan kesabaran dari kita bersama," pungkasnya. (Bersambung)
Keterangan: Pada artikel selanjutnya, Indra bakal berbicara tentang bagaimana cara dirinya membangun citra para penggawa timnas U-19. Simak terus eksklusif Indra Sjafri bersama Goal Indonesia!
